APLIKASI TEKNOLOGI PENGOLAHAN PANGAN DALAM PROGRAM SUPERQURBAN

APLIKASI TEKNOLOGI PENGOLAHAN PANGAN DALAM PROGRAM SUPERQURBAN

Oleh: Prof. Dr. Ir. Rizal Syarief, DESS.

Akhir tahun 1790 Perancis dalam keadaan perang melawan Rusia dan mengalami kesulitan memberi makan penduduk dan pasukan perangnya yang dipimpin oleh Napoleon Bonaparte, maka sayembara untuk dapat menambah daya tahan makanan pun digelar. Nicolas Appert, seorang pembuat kembang gula yang bekerja di sebuah dapur sederhana menemukan bahwa makanan yang dipanaskan di dalam suatu kemasan yang tertutup rapat tetap awet bila kemasannya tidak dibuka lagi atau tutupnya tidak bocor. Penemuan inilah awal dari revolusi proses pengalengan makanan sehingga daya tahannya semakin lama.

Kini teknik pengalengan diartikan sebagai pengolahan pangan dan tindakan upaya meningkatkan daya tahan makanan menggunakan suhu tinggi. Tahap-tahap proses pengalengan secara umum terdiri dari persiapan bahan mentah (pemilihan, pemotongan, pencucian), blanching, pengisian, pengampasan (exhausting), penutupan, sterilisasi dan pendinginan. Hal ini lah yang diterapkan dalam proses kornetisasi daging yang tampaknya kini pun menjadi bahan garapan Rumah Zakat Indonesia.

Pengolahan pangan hakikatnya adalah suatu proses yang ditujukan untuk memasak, merubah bentuk, menambah daya tahan, dan meningkatkan cita rasa dari suatu bahan pangan. Dengan teknologi pengolahan pangan diharapkan ada penambahan manfaat dari bahan makanan tersebut baik dari segi kepraktisannya, kemudahan distiribusi, serta daya tahannya. Bahkan kita bisa merekayasa kandungan nutrisi dalam makanan sesuai dengan kebutuhan orang per orang, untuk mereka yang malnutrisi misalnya.

Saat Hari Raya Qurban di Indonesia kecenderungannya adalah sediaan daging selalu berlebih, sebaiknya ada satu upaya yang diimplementasikan untuk menambah manfaat dari daging tersebut. Orang-orang Indonesia dahulu sebetulnya sudah memakai teknik untuk menambah daya tahan makanan seperti ini, seperti membuat daging rendang bumbu kacang, dendeng, atau cara lain sebagai ransum makanan saat perjalanan ibadah haji.

Rumah Zakat Indonesia mengambil tindakan yang tepat dengan mengaplikasikan teknologi pengalengan (kornetisasi), dalam hal ini daging Qurban yang sudah dikalengkan akan berfungsi seperti persediaan pangan untuk tentara yang sedang berperang. Siap didistribusikan dan siap disantap begitu diperlukan. Program ini akan sangat membantu ketika terjadi bencana, daya tahan, kepraktisan, dan kemudahan pendistribusian menjadi beberapa entitas program Superqurban.

Berdasarkan tinjauan tentang pengolahan pangan, sebaiknya Rumah Zakat Indonesia meneruskan proses kornetisasi daging Qurban ini. Saat ini kemasan kornet Superqurban sudah bagus, label warna merah sangat cocok untuk identitas produk daging yang dikalengkan, terlebih lagi rasanya juga enak. Riset dan pengembangan tentang teknik-teknik pengolahan lain pun seperti pembuatan dendeng, abon, ataupun rendang mungkin bisa menjadi alternatif lain sebagai antisipasi kejenuhan variasi bahan makanan.***

Penulis sekarang menjabat Kepala Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM) IPB, lahir di Yogyakarta 9 April 1948. Lulusan Program Doktoral Doktoral Ilmu Pangan Univ. De Nantes Perancis ini juga Kini tengah menjalani rangkaian fit and proper test untuk menjadi Rektor IPB.

Tags :
Konfirmasi Donasi