AYAH YANG DINANTI

Oleh: Fatimah Azzahra, S.Pd

Status ibu membuat saya dekat dengan bacaan yang bertema parenting, termasuk sedikit istilah parenting pun jadi familiar di telinga, salah satunya, fatherless country. Ternyata Indonesia mendapatkan rangking 3 fatherless country di dunia (wartaekonomi.co.id, 28/7/2107). Bukan karena ketiadaan eksisensi ayah secara fisik, tapi ketiadaan perannya secara psikologis. Ini terjadi karena masih banyaknya orang yang berpikiran bahwa tugas ayah adalah mencari nafkah, sedangkan tanggung jawab mendidik anak-anak ada pada ibu. Sehingga setelah bekerja, para ayah pun hilang ditelan dunianya; tv, laptop, dan smartphone.

Dampaknya? Anak memiliki perkembangan psikologis yang lambat, terjadi perilaku seksual yang cenderung menyimpang, dan kesulitan dalam belajar karena otak yang tidak terstimulasi dengan baik (rim-tv.com, 7/9/2017). Sepertinya kewarasan istri atau ibu anak-anak pun terganggu ketika ayah berlepas tangan dari mendidik anaknya. Dan faktanya, semua ini benar-benar terjadi. Berapa banyak orang yang umur biologisnya terkategori dewasa, tapi masih berpikiran seperti anak-anak atau menyelesaikan masalah dengan kekanakan.

Berapa banyak pula kasus penyimpangan seksual yang kini terjadi, terbukti dari semakin maraknya LGBT saat ini. Ditambah anak-anak yang sulit belajar, hingga di les kan di bimbingan belajar, di les private kan juga. Eh, ketika dievaluasi dengan ujian, pada protes karena soalnya kesusahan. Ternyata, pemerintah juga berperan dalam hal ini, dalam rangka Hardiknas, para pelajar diajak nonton bareng film ‘Dilan’ dan ‘Yowis Ben’ (detik.com, 19/4/2018). Benar-benar aktivitas yang sangat berfaedah bagi para pelajar. Kasus kekerasan ibu kepada anaknya pun kian marak dijumpai. Sungguh miris.

Indonesia sebagai negeri yang mayoritas penduduknya muslim. Memiliki kitab suci, pedoman hidup, yakni Al Qur’an. Dan teladan kehidupan, yaitu Rasulullah saw. Kalaulah mau membaca Al Qur’an dan Sirah Rasul, dapat kita jumpai kisah-kisah para ayah dalam mendidik anak-anaknya. Ada kisah Lukman, Ibrahim, Ya’qub dan Imran. Dialog antara ayah dan anak pun lebih banyak diabadikan dalam Al Qur’an.

Bagaimana dengan Rasulullah? Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata: “Rasulullah saw pernah mencium Hasan bin ‘Ali, sedang pada waktu itu di samping beliau ada Aqra’ bin Habis At-Tamimi. Aqra’ berkata: ‘Sesungguhnya aku mempunyai sepuluh anak, namun aku tidak pernah mencium seorang pun dari mereka.’ Rasulullah saw lalu memandang Aqra’ dan bersabda: ‘Barang siapa yang tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.’”

Nabi saw, apabila putrinya, Fatimah, datang mengunjunginya, beliau selalu menyambutnya dengan ramah, lalu menciumnya dan berkata: “Selamat datang, wahai putriku!” Selanjutnya, beliau mendudukannya di tempat duduk beliau.

Ibnul Qoyyim dalam kitab tuhfatul maudud berkata, “Jika terjadi kerusakan pada anak penyebab utamanya adalah ayah” (dakwahpost.com,11/2017). Semoga para ayah segera sadar peran pentingnya dalam mendidik anak. Jangan sampai kisah di masa Umar bin Khaththab tentang ayah durhaka, terulang kembali.

Seorang laki-laki datang menghadap Umar bin Khaththab. Ia bermaksud mengadukan anaknya yang telah berbuat durhaka padanya dan melupakan hak-hak orangtua. Kemudian Umar mendatangkan anak tersebut dan dan memberitahukan pengaduan bapaknya. Anak itu bertanya kepada Umar bin Khaththab, “Wahai Amirul Mukminin, bukankah anak pun mempunyai hak-hak dari bapaknya?”

“Ya, tentu,” jawab Umar tegas.

Anak itu bertanya lagi, “Apakah hak-hak anak itu wahai Amirul Mukminin?”

“Memilihkan ibunya, memberikan nama yang baik, dan mengajarkan Al Quran kepadanya,” jawab Umar menunjukkan.

Anak itu berkata mantap, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ayahku belum pernah melakukan satupun diantara semua hak itu. Ibuku adalah seorang bangsa Ethiopia dari keturunan yang beragam Majusi. Mereka menamakan aku Ju’al (kumbang kelapa), dan ayahku belum pernah mengajarkan satu huruf pun dari al-Kitab (Al Quran).”

Umar menoleh kepada laki-laki itu, dan berkata tegas, “Engkau telah datang kepadaku mengadukan kedurhakaan anakmu. Padahal, engkau telah mendurhakainya sebelum dia mendurhakaimu. Engkau pun tidak berbuat baik kepadanya sebelum dia berbuat buruk kepadamu.”

Cukuplah kisah ini menjadi pelajaran yang tak perlu diulang kembali. Saatnya bersama-sama mencintai aktivitas mendidik anak-anak. Semoga Allah melapangkan hati, meluaskan ikhlas dalam diri kita sehingga terhindar dari status orangtua durhaka. Nau’dzubillahi min dzalik. Wallahu’alam bish shawab.

Sumber : islampos.com

 

Tags :
Konfirmasi Donasi