BEKAL TERBAIK

berdoa-_140113104408-295Oleh: Ina Salam Febriany

“Di antara mereka ada yang berdoa, ‘Yaa Tuhan kami, anugerahilah kami kebaikan (hasanah) di dunia dan akhirat serta peliharalah kami dari siksa neraka’,” (Qs Al-Baqarah [2]: 201)

Siapa yang tak kenal dengan doa di atas? Doa yang sering dibaca oleh anak-anak dan rutin didengungkan sesudah shalat. Doa ini kerap disebut doa “sapujagad”. Doa yang langsung diabadikan Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 201 di atas.

Secara ringkas, doa orang-orang beriman (sebagai permohonan mereka) kepada Allah itu sangat sederhana namun berdampak luar biasa, yakni mereka memohon kebaikan (hasanah) tak hanya di dunia, namun juga di akhirat.

Rabbanaa aatinaa fid dunyaa hasanah, wafil aakhirati hasanah, waqinaa ‘adzaa bannaar, demikian bunyi dari doa yang urutannya persis setelah perintah untuk menyempurnakan haji (hanya) karena Allah Swt, bukan selain-Nya, Allah sandingkan pula dengan ayat tentang beberapa larangan haji.

Selain karena perintah Allah Swt untuk menyempurnakan niat haji dan umrah hanya karena Allah Swt (bukan selain Allah), ada tiga larangan yang tidak boleh dilakukan selama berhaji (pada surah al-Baqarah ayat 197), yakni rafats (tidak bersetubuh atau bercumbu rayu), tidak berbuat fasiq (maksiat kepada Allah atau melukai seseorang/ makhluk lainnya), juga tidak jidal (berdebat dengan orang lain yang memungkinkan terjadinya perselisihan).

Dua ayat sebelum doa sapujagad ini mengisyaratkan bahwa perintah berhaji dan umrah yang ditegaskan hanya untuk Allah Swt bukan tanpa alasan. Peringatan ini Allah tegaskan karena di zaman Jahiliyah, ada sebagian orang yang berhaji untuk sesembahan (berhala), bahkan tawaf dengan tanpa busana, karena mereka menilai bahwa baju yang mereka kenakan telah banyak dosa sehingga tak layak untuk menghadap-Nya, padahal cara ini sama sekali tidak disyariatkan oleh Nabi yang pertama kali melaksanakan haji, yakni Nabi Ibrahim as, demikian tulis Prof Muhammad Quraish Shihab dalam Al-Mishbah.

Setelahnya, tiga larangan yang tidak boleh dilakukan saat berhaji, seperti yang tertulis di atas, adalah bentuk “cobaan” Allah untuk orang-orang yang sedang berhaji apakah mereka mampu menahan diri, atau justru gagal menyandang predikat Haji. Karenanya, di akhir surah Al-Baqarah ayat 197 inilah Allah menutupnya dengan “berbekallah”.

Bekal yang dimaksud di sini terdiri atas dua jenis. Pertama, bekal materi, sehingga masing-masing calon haji yakin akan kemampuan perbekalan mereka selama berhaji, sehingga tidak menyulitkan jamaah lain dengan meminta-minta (mengemis). sedangkan bekal kedua adalah bekal mental, yakni persiapan fisik (kesehatan), persiapan ilmu pengetahuan, serta yang jauh lebih penting, adalah kemantapan jiwa dalam menghadap Allah Swt.

Satu pesan yang sangat penting dalam akhir ayat ini adalah “sesungguhnya, sebaik-baiknya bekal adalah taqwa,” yaitu upaya diri untuk menghindari siksa dan sanksi Allah, baik di dunia akibat pelanggaran terhadap hukum-hukum Allah maupun siksa Allah di akhirat kelak akibat pelanggaran hukum-hukum Allah yang ditetapkan-Nya dalam syariat.

Oleh sebab itu, kesesuaian ayat dengan ayat di dalam Alquran (munasabah), sangatlah berkaitan dalam surah Al-Baqarah 196 dan 197 ditutup dengan doa sapujagad di ayat 201, sebab orang-orang yang beriman dan meraih predikat haji yang diterima, mereka senantiasa meluruskan niat bahwa haji yang mereka lakukan hanya untuk Allah, bukan semata-mata untuk bisa dipanggil “Pak Haji” atau “Bu Hajjah”, melainkan lebih dari itu: mereka ingin kebaikan yang tak hanya di dunia, namun juga kebaikan yang kelak akan mereka terima di akhirat nanti.

Mari persiapkan bekal terbaik kita: bekal yang tak hanya berbuah manis di dunia, namun juga di akhirat nanti.

Sumber: republika.co.id

Tags :
Konfirmasi Donasi