BERSAMA SAHABAT SAMPAI KE SURGA

Seorang lelaki tua dan sahabatnya sedang berjalan-jalan di sebuah jalan desa menikmati pemandangan. Tiba-tiba ia tersadar bahwa ia baru saja meninggal dunia. Ia pun ingat disaat meregang nyawa, sahabatnya yang telah menemani hidupnya selama ini juga telah meninggal. Kini mereka bersama-sama berada disebuah alam baka. Setelah berjalan bersama sekian lama, mereka tiba disebuah bukit. Sepanjang sisi jalannya berhiaskan batu pualam yang indah. Pada puncaknya berdiri sebuah menara indah yang sinar matahari memendar dari baliknya. Ia terkagum melihat indahnya pintu gerbang yang terbuat dari permata dan mutiara, sedangkan jalan setapak menuju pintu gerbang tersusun dari emas murni.

Ia senang sekali karena merasa akhirnya telah tiba di Surga. Kemudian sambil menggenggam tangan sahabatnya ia menuju pintu gerbang. Ketika dekat pintu gerbang ia melihat seseorang penjaga duduk dibalik meja berukir indah. Ia menyapa orang tersebut, \\\”Maafkan saya, apakah ini Surga?\\\” \\\”Ya benar sekali Tuan,\\\” jawab penjaga gerbang. \\\”Waw, kalau begitu bolehkah saya meminta sedikit air?\\\” pinta lelaki tua itu. \\\”Tentu saja, tuan. Silakan masuk dan ambillah air minum sepuas Anda.\\\”

Kemudian penjaga gerbang itu memberi isyarat dengan ibu jarinya, dan pintu gerbang yang besar itu pun perlahan terbuka. \\\”Bolehkah saya mengajak sahabat saya ini masuk?\\\” pinta lelaki tua itu sambil menunjuk pada sahabatnya. Tetapi penjaga gerbang menjawab, \\\”Maaf Tuan, kami tidak bisa mengizinkan sahabat Anda ikut masuk.\\\” Lelaki tua itu berpikir sejenak lalu mengucapkan terima kasih pada penjaga gerbang. Mereka berbalik dan melanjutkan perjalanannya kembali.

Setelah lama berjalan mereka tiba disebuah bukit lain, tetapi kali ini jalannya lebih kecil dan sempit, di ujung jalan terbuka sebuah pintu gerbang pertanian. Tidak ada pagar di sisi jalan, rumput tumbuh sembarang, pintu gerbang itu tampaknya tidak pernah ditutup. Ketika berada dekat pintu gerbang, di dalamnya ia melihat seorang lelaki sedang duduk di sebuah kursi goyang di bawah bayangan pohon dan sedang membaca buku.

\\\”Permisi Tuan!\\\” teriak lelaki tua itu pada pembaca buku. \\\”Apakah anda mempunyai air untuk kami minum?\\\” \\\”Tentu Saja. Ada pompa air di sebelah sana,\\\” sahut pembaca buku sambil menunjuk ke sebuah tempat yang tak tampak dari luar gerbang. \\\”Masuklah, anggap saja rumahmu sendiri.\\\” Bagaimana dengan temanku ini?\\\” tanya lelaki tua itu. Ia menunjuk pada sahabatnya.\\\” Oh, ia juga boleh masuk\\\” jawabnya.

Kemudian mereka masuk ke dalam gerbang dan menemukan sebuah pompa tangan tua dengan sebuah gayung. Lelaki tua itu memberikan gayung pada sahabatnya untuk minum. Setelah itu ia meneguk air untuk menghilangkan dahaganya. Ketika mereka sudah cukup minum, mereka kembali menemui pembaca buku yang tampaknya sedang menunggu mereka. Lelaki tua itu bertanya, \\\”Tempat apakah ini?\\\” \\\”Ini Surga,\\\” jawab pembaca buku itu.

\\\”Wah, ini sangat membuat kami bingung,\\\” kata lelaki tua itu. \\\”Tempat ini sama sekali tak seperti Surga. Di ujung jalan sebelah sana ada seseorang yang mengatakan bahwa bukit itulah yang Surga.\\\” \\\”Oh, apakah yang Anda maksud adalah bukti dengan jalan yang terbuat dari emas dan pintu gerbang yang terbuat dari permata?\\\” tanya pembaca buku. \\\”Ya, bukankah itu tempat yang sangat indah.\\\” \\\”Bukan, itu adalah Neraka.\\\” \\\”Tidakkah Anda salah menyebutnya Neraka – tempat yang indah seperti itu?\\\” \\\”Tidak. Saya mengerti mengapa anda berpendapat demikian, tetapi bukanlah seperti itu. Keindahan yang terpancar itu menipu sehingga membuat orang tega meninggalkan sahabatnya dalam penderitaan.\\\”

Tags :
Konfirmasi Donasi