BERTANYALAH…


mib_201503300959471404_Adab BertanyaOleh: AM Adhy Trisnanto

Ketika pada suatu pagi seorang anak enggan berangkat ke sekolah, nyaris tak mungkin orangtuanya sekedar mengiyakan atau menolak. Keengganan itu akan merangsang orangtua bertanya: Kenapa?

Kenapa perlu ditanya? Karena ada sejumlah kemungkinan alasan, alasan yang benar maupun alasan yang dibuat-buat. Bisa karena si anak merasa tidak siap menghadapi test di kelas, bisa karena dia sedang berusaha menghindari temannya yang usil, bisa karena dia merasa tidak nyaman akibat gejala flu, bisa karena dia ogah meninggalkan tempat tidurnya yang hangat.

Ketika menghadapi sesuatu dan berhenti pada sekedar tahu tentang “apa,” persepsi yang timbul hanya akan berhenti kepada sesuatu yang disimpulkan berdasarkan kepada apa yang kita ketahui. Ketika asap berkepul dari puncak gunung, kita membuat kesimpulan gunung itu lagi meningkat aktivitasnya, tapi masih aman. Ketika kemudian terasa goncangan-goncangan kecil, kita menyimpulkan aktifitas gunung makin meningkat lagi, tapi masih juga aman. Kita mungkin lebih yakin kepada ramalan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika yang –mudah-mudahan- punya piranti canggih untuk mendeteksi perubahan perilaku sebuah gunung berapi.

Alasan, reason why, dalam manajemen lazim menjadi pertimbangan pengambilan keputusan. Tahu reason why akan menjadikan kita mendekati permasalahan dengan lebih akurat. Ketika target penjualan tidak tercapai, tidak serta merta kita menyimpulkan karena pesaing menurunkan harga. (Lalu kita terjebak untuk ikut-ikutan menurunkan harga pula). Ada banyak kemungkinan alasan di samping penurunan harga pesaing. Bisa saja karena sales force kita sedang loyo, bisa karena produk kita tidak lagi jadi solusi buat konsumen, bisa pula karena ada kemacetan distribusi, dan bukannya tak mungkin karena pesaing sedang menggelontorkan dana promosi besar-besaran. Analisis reason why jadi senjata sederhana tapi ampuh untuk menemukan solusi dari problem yang dihadapi. Misalnya: kenapa penjualan anjlog? Karena tim penjualan loyo. Kenapa loyo? Karena mereka tidak tahu lagi cara meyakinkan konsumen. Kenapa tidak tahu? Karena selama ini tidak pernah ada pelatihan intensif untuk menajamkan kemampuan analisis manfaat. Nah, berarti solusinya adalah program pelatihan intensif buat tim penjualan.

Cobalah menjadi anak kecil, yang demikian haus ingin tahu segalanya. Setiap menemukan sesuatu yang baru dia akan bertanya dan bertanya. Itulah saatnya untuk mengembangkan pengetahuan si anak. Ketika jawaban orang tuanya ngawur, karena ketidakpahaman, si anak akan merekam jawaban ngawur itu sebagai sebuah kebenaran. Bagaimana tidak, karena yang menjawab adalah orangtuanya, yang buat si anak merupakan sosok yang “tahu segalanya.”  Lebih runyam lagi kalau akibat arogansi, si orang tua yang tidak mampu menjawab pertanyaan anaknya kemudian malah membentak si anak, supaya tidak menanyakan hal-hal “aneh.” Kita bisa bayangkan bagaimana nanti sikap si anak setiap menghadapi sesuatu yang baru. Dia jadi takut bertanya karena membayangkan bentakan yang pasti menimbulkan rasa tidak nyaman. Dia jadi orang yang segan berpikir, kreatifitasnya sulit berkembang.

Sering mempertanyakan kenapa begini kenapa begitu, baik di rumah, di pekerjaan, maupun di masyarakat, akan mengasah kekritisan kita karena lebih memahami permasalahan yang ada dan pemahaman itu memudahkan kita menemukan solusi yang tepat. Bertanya juga mengasah kedalaman kita berpikir, tidak “asal” saja. Bertanya tidak harus kepada orang lain, bisa kepada buku, bisa kepada internet, bahkan bisa kepada diri sendiri.

Tags :
Konfirmasi Donasi