BIJI CABE DAN USUS BUNTU

Oleh: dr. Hilmi Sulaiman, MKM

Perlu diketahui terlebih bahwa usus buntu sebenarnya bukanlah penyakit, namun nama salah satu organ di dalam tubuh. Usus buntu merupakan salah satu bagian usus yang terletak pada perut kanan bagian bawah, berukuran kira-kira sebesar kelingking, dan ujungnya buntu. Dalam dunia kedokteran, usus buntu dikenal dengan istilah Apendiks. Awalnya, organ ini dianggap tidak memiliki fungsi bagi tubuh. Namun, saat ini telah diketahui bahwa apendiks memiliki peran memproduksi zat yang berguna untuk kekebalan tubuh.

Adapun penyakit usus buntu yang biasa dikenal oleh masyarakat secara umum sebenarnya lebih tepat dikatakan sebagai radang usus buntu. Di kalangan tenaga medis, penyakit ini dikenal dengan sebutan apendisitis. Seperti namanya, penyakit ini merupakan kondisi yang ditandai oleh adanya peradangan pada organ apendiks, sehingga mengakibatkan gangguan pada fungsi apendiks itu sendiri dan organ-organ di sekitarnya.

Umumnya, peradangan pada apendiks ini disebabkan oleh adanya infeksi bakteri. Mekanisme terjadinya infeksi pada organ ini sampai sekarang masih belum dapat dinyatakan dengan pasti, namun faktor pencetus utamanya diyakini adalah adanya sumbatan pada saluran apendiks. Sumbatan tersebut bisa diakibatkan oleh berbagai macam hal, diantaranya adalah tinja yang mengeras (fekolit), pembesaran jaringan limfe, adanya cacing atau parasit, atau penyebab penyempitan lain seperti adanya tumor atau benda asing.

Adanya penyumbatan di saluran apendiks memudahkan bakteri yang terdapat di tinja atau usus untuk berkembang biak dan menimbulkan peradangan di apendiks. Dengan adanya sumbatan yang semakin luas, aliran darah ke apendiks juga terhambat, dan semakin memicu perkembangan bakteri serta timbulnya peradangan yang lebih luas. Peradangan dan sumbatan yang terjadi bahkan bisa mengakibatkan apendiks pecah, sehingga isinya keluar dan memicu adanya radang pada organ-organ lain di sekitar apendiks.

Pada orang yang mengalami apendisitis, gejala yang sering terjadi adalah demam tinggi, mual dan muntah, dan nyeri perut terutama di daerah kanan bawah. Rasa nyeri pada perut ini terutama timbul apabila ditekan. Namun, pada kondisi peradangan yang lebih luas, nyeri dapat terasa di seluruh bagian perut.

Adapun informasi tentang biji cabai atau biji jambu yang menyebabkan terjadinya apendisitis, hal tersebut termasuk mitos yang beredar luas di masyarakat. Sebenarnya, seperti penjelasan saya sebelumnya, apendisitis disebabkan oleh adanya sumbatan pada saluran apendiks, yang diakibatkan oleh tinja yang mengeras. Dengan demikian, maka seluruh kondisi yang menyebabkan kerasnya kondisi tinja bisa menjadi faktor pencetus terjadinya sumbatan apendiks, bukan hanya oleh karena adanya makanan yang sulit dicerna seperti biji cabai atau jambu. Memang benar bahwa biji cabai dan jambu termasuk makanan yang sulit dicerna, namun makanan tersebut biasanya juga akan dikeluarkan dalam kondisi utuh di tinja saat buang air besar.

Bila memang seseorang terkena apendisitis, metode terapi yang dipilih dokter biasanya adalah operasi pengangkatan apendiks melalui prosedur pembedahan. Meskipun jika telah terdiagnosis pada kondisi awal berkembangnya penyakit, pasien yang mengalami apendisitis bisa diterapi hanya menggunakan antibiotik, namun angka kekambuhannya cukup tinggi. Jadi, dokter biasanya akan tetap menyarankan untuk dilakukan operasi sebagai terapi dan pencegahan komplikasi lebih lanjut.

Untuk mencegah terjadinya apendisitis adalah dengan mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung serat seperti buah dan sayur, serta rutin mengkonsumsi air dalam jumlah yang cukup (minimal 2 liter per hari). Hal ini bermanfaat untuk menjaga agar tinja tetap lunak dan tidak memicu adanya sumbatan di saluran apendiks.

Tags :
Konfirmasi Donasi