BIPOLAR, GANGGUAN KEJIWAAN YANG BISA DIKENDALIKAN

93Kepribadian_Ganda_Karena_Terganggunya_OtakAnda pasti kenal Ludwig van Beethoven, komponis asal Jerman yang hidup antara tahun 1770–1827. Namun, tahukah Anda? Sang maestro musik klasik ini penderita gangguan kejiwaan bipolar hingga beberapa kali menyatakan ingin bunuh diri. Tidak hanya Beethoven, beberapa tokoh terkenal ternyata mengidap kelainan ini. Sebut saja pelukis Van Gogh, ahli fisika Isaac Newton dan mantan Presiden Amerika ke-16 Abaraham Lincoln.

Di Indonesia, belum banyak data mengenai pengidap bipolar. Mungkin karena informasi mengenai penyakit ini belum tersebar luas. Lagipula, banyak orang tidak sadar terkena bipolar. Salah satu penyebabnya, kata Kepala Departemen Psikiatri FKUI/RSCM dr A A A Agung Kusumawardhani, SpKJ (K), sulit mendiagnosis karena gejalanya berubah-ubah dan mirip skizofrenia. Akibatnya, sering terjadi keterlambatan diagnosis yang dapat memakan waktu sampai sepuluh tahun.

CIRI DAN TIPE

Bipolar merupakan gangguan jiwa yang bersifat kronik, serius dan berpotensi mengakibatkan kematian. Ciri utama penyakit ini, perubahan suasana hati (mood) secara ekstrem dari gembira secara berlebihan ke kesedihan yang mendalam (depresi). Gangguan ini sering kambuh dan biasanya berlangsung seumur hidup.

Orang dengan bipolar (ODB) memiliki memiliki indeks angka kematian lebih tinggi 2 sampai 3 kali lipat dibanding skizofrenia. Sebanyak 30% ODB melakukan percobaan bunuh diri dan 10-20% dari mereka meninggal. Angka bunuh diri pada ODB laki-laki dan perempuan 0,4% per tahun.

Ada lima fase perubahan mood yang bisa terjadi sangat cepat pada ODB, di antaranya depresi, manik/mania, campuran, eutimia(normal), dan hipomanik (lebih ringan dari mania). Ketika ODB mengalami depresi, perasaan bersalah, tidak berharga dan putus asa, membuatnya mendapat ide bunuh diri. Pada kondisi sebaliknya, mania, ia akan merasa percaya diri, hiperaktif, jalan pikiran yang meloncat (flight of ideas), banyak bicara, dan  seperti tidak membutuhkan tidur. Fase campuran juga bisa dialami ODB, yaitu ketika depresi dan mania terjadi bersamaan.

Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), terdapat empat tipe gangguan bipolar (GB) yaitu GB I, GB II, Bipolar Disorder Not Otherwise Specified (BP-NOS), dan Cyclothymia. GB I merupakan bentuk GB yang cukup berat. Biasanya diawali dengan depresi mayor dan setidaknya ada satu episode mania yang berat. Depresi mayor adalah mood depresi yang berlangsung selama 3-6 bulan.

Sedang GB II merupakan bentuk GB yang tidak terlalu berat. Biasanya terjadi episode depresi yang singkat (mayor) diselingi dengan hipomania. Namun tidak ada episode mania atau campuran.Sementara BP-NOS ditandai dengan gejala-gejala bipolar tapi tidak memenuhi kriteria GB spesifik. Cyclothymia muncul periode mania dan depresi yang tidak terlalu berat. Berlangsung hanya beberapa hari dan kambuh dalam selang waktu yang tidak beraturan.

PENYEBAB

Bipolar kerap diidap oleh masyarakat perkotaan. “Karena masyarakat perkotaan cenderung lebih sering terpapar kondisi-kondisi pencetus stres,” ujar dr Handoko Daeng, SpKJ (K), Ketua Seksi Bipolar PDSKJI. Namun, bukan berarti masyarakat yang tinggal di pedesaan tidak bisa terkena bipolar. Menurut Prof Dr dr Tuti Wahmurti A S, SpKJ (K), Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), siapa saja yang tidak bisa menerima realitas hidup akan stres berkepanjangan dan mengidap bipolar.

Penyebab terjadinya gangguan bipolar (GB) bersifat multifaktor, mencakup genetik, biologi otak, serta peristiwa-peristiwa kehidupan dan keadaan lingkungan (psikososial) yang menimbulkan stres. “Faktor genetik menyebabkan seseorang rentan, dan bila ia mengalami stres psikososial dan tidak bisa mengatasinya, terjadilah GB,” tegas Prof Tuti.

Tubuh manusia selalu beradaptasi sesuai rangsangan yang dialaminya. Jika seseorang mengalami stres psikososial, terjadi perubahan sistem hormonal, yang kemudian memengaruhi zat kimia alami, sel syaraf, dan zat penting lainnya dalam otak. Menjadi tugas gen untuk mengatasi kondisi ini, yakni mengatur keseimbangan tubuh. “Namun, mereka yang mempunyai gen lemah tidak mampu menjaga keseimbangan  tubuh sehingga terjadi kekacauan dalam sistem dan terjadilah GB,” tutur Prof Tuti. Bila sudah terjadi tanda-tanda GB, pasien harus dibawa ke dokter ahli atau psikiater. Dokter akan memberikan obat untuk menyetabilkan mood. “Namun, pemakaian obat tersebut harus dengan petunjuk dokter agar tidak overdosis,” tambah dr Handoko.

PENANGANAN TEPAT

Bagi mereka yang didiagnosa mengalami GB, tak perlu khawatir berlebihan. Dengan penanganan yang tepat GB bisa dikendalikan. Dukungan keluarga juga sangat dibutuhkan pada pasien. Penerimaan dari orang sekitar akan melahirkan kehangatan dan kenyamanan pada penderita dan mendorong mereka untuk sembuh. Pengobatan pada GB secara langsung terkait pada fase episodenya. Jika sedang mengalami depresi ekstrem dan menunjukkan perilaku bunuh diri, maka diperlukan rawat inap. Apabila depresi masih ringan dan dapat melakukan aktivitas sehari-hari, maka bisa diobati dengan rawat jalan.

Kesadaran ODB akan penyakitnya sangat membantu pengontrolan dirinya. Ini supaya saat sedang depresi, ODB bisa segera meminum obat penenang atau meminta pertolongan keluarga atau orang terdekat. Jangan lupakan juga, sebagai keluarga Muslim, untuk senantiasa hidup dekat dengan Al-Qur’an. Mengapa? Sebab, Al-Qur’an menjadikan hidup senantiasa tenang. Al-Qur’an mampu memberikan jawaban-jawaban dari segala permasalahan hidup ini. Jika kita sebagai manusia merasa tidak kuat menerima problematika kehidupan ini, maka tawakal pada Allah sebagai hasil pembelajaran dari Qur’an menjadikan jiwa dan pikiran menjadi lebih ringan. Insya Allah.

 

Sumber : www.ummi-online.com

Foto       : www.ummi-online.com

 

Tags :
Konfirmasi Donasi