EKSPEDISI KEMANUSIAAN KE WAINGAPU NTT (BAGIAN 2)

Oleh: Yudi Juliana

Hari kedua, Sabtu (1/10) tim Ekspedisi Siaga Gizi dan Pangan Rumah Zakat masih mendistribusikan kornet Superqurban di Pulau Timor. Kali ini kami mendistribusikan di wilayah Kupang Barat, tepatnya di Kp. Boneana, Ds. Oematnunu, Kec. Kupang Barat. Disini penduduknya mayoritas eks pengungsi Timor yang didominasi oleh muslim.

Perjalanan dari kota Kupang ke Boneana tidak kurang dari 35 km. Terlihat pohon Jati yang mengering dan jalanan yang berdebu, sebelum akhirnya masuk ke perkampungan dengan hamparan batu karang dan rumput yang juga sudah mengering.  Rumah-rumah di sini seperti di kawasan transmigrasi, berjauhan dari satu rumah ke rumah lainnya. Berbentukrumah panggung beratapkan seng dan berdinding kayu kecil yang tersusun rapi, sementara atap dapurnya dari pohon lontar dengan lantai tanah.

Awalnya penduduk disini tidak lebih dari 20 kepala keluarga sejak dipindahkan dari camp pengungsian di perbatasan tahun 2002. Sekarang sudah ada 72 kepala keluarga yang tinggal di sini. Mereka diberi lahan garapan dan rumah yang cukup untuk tinggal bersama keluarga. Namun, untuk listrik baru masuk seminggu yang lalu, itupun belum bisa digunakan.

Di rumah mereka tidak ditemukan barang elektronik seperti TV. Saat malam tiba, mereka hanya mengandalkan lampu pelita dengan bahan bakar minyak tanah. Sesekali terdengar sayup-sayup nyanyian daerah dari rumah sebelah. Ternyata suara itu sudah  biasa di kampung ini, nyanyian untuk menina bobokan anak-anak agar segera tidur. Terdengar sendu di telinga, saling bersahutan mengingat kampung halaman yang sekarang sudah beda negara.

Ketika pagi tiba di musim kemarau, para laki-laki dewasa sudah bersiap memecah batu karang. Untuk satu truk batu karang mereka menjualnya tidak lebih dari Rp. 75.000 per truk, dan paling cepat terkumpul dalam 2 minggu. Selain itu mata pencaharian yang lain,  mengumpulkan kayu yang jatuh dari pohon dikarenakan memang tidak boleh menebang pohon. Satu ikat dengan ukuran kira-kira satu meter dijual ke warga dengan harga Rp 7.000. Mencari kayu bukan hal mudah, lahan yang terbatas membuat mereka tidak setiap hari bisa mendapatkan kayu bakar.

Untuk makanan pokok masyarakat lebih mementingkan  kenyang, sehingga urusan gizi belakangan. Apalagi saat musim paceklik seperti sekarang. Tidak jarang mereka makan umbi hutan, mereka biasa menyebutnya Maek. Jangan membayangkan umbi Cilembu yang manis dan gempal. Sebetulnya Maek biasa dimakan babi hutan, sehingga jika dimakan manusia bisa menyebabkan kerongkongan gatal.

Sebetulnya bukan tidak ada beras atau jagung di pasar, pemerintah setempat memang menyediakan beras raskin, namun daya beli mereka masih minim. Tidak ada acara memasak tumis dan lauk pauk lainnya,  bubur beras atau nasi yang ditaburi garam sudah cukup bagi mareka. Daging hanya bisa dinikmati saat hari raya idul adha, itupun jika ada kiriman hewan qurban yang mampir kesini.

Meskipun mereka dijamin tanahnya tidak akan digusur hingga anak, cucu, cicit dan seterusnya, namun tetap saja rasanya seperti tinggal ditanah orang, khususnya yang pernah merasakan masa referandum 12 tahun silam.Untuk mengurangi beban hidup di tanah orang, kebanyakan para eks pengungsi ini mengirimkan anak-anaknya yang akan bersekolah ke panti asuhan di kota besar di pulau Jawa. Semua biaya ditanggung yayasan yang mau menampung mereka. Bertahun-tahun berpisah dari orang tua, dan hanya  mengunjungi keluarga saat liburan tiba, itu pun bagi yang sudah beranjak SMA.

Rasa rindu pada buah hati tidak bisa dielakan, tapi orang tua disini sudah terbiasa dengan perasaan ingin berjumpa dengan putra-putrinya.  Berharap kelak bisa lebih berpendidikan dan hidup lebih baik dari orang tuanya. Namun tidak semua dari mereka menitipkan anaknya di panti asuhan, ada juga yang bersekolah di sekolah yang didirikan pemerintah di sini.

Kiboro (58), adalah salah satu keluarga yang kami jumpai di kampung ini. Dia mempunyai 7 anak, tapi yang tinggal disini hanya 3  putrinya yang masih kecil-kecil. Selebihnya dititipkan di panti asuhan. Ia memilih bergabung dengan Indonesia,  karena menurut logikanya Pulau Timor tidak terlalu manjanjikan dari sisi sumber daya alam.

Sebelum masa referendum, Kiboro masih Kristiani, ia baru masuk Islam setelah menimbang-nimbang agama mana yang lebih realitis. Sampai pindah ke kampung ini  ia masih belum bisa membaca Al-quran hingga akhirnya banyak mahasiswa yang mengajar agama di kampung ini. Kesehatannya sudah mulai tertanggu, ia terkena TBC 4 bulan lalu, dan baru menjalani kesehatan pengobatan setahun terakhir. Meskipun obatnya gratis tapi tetap saja ada biaya yang dikeluarkan seperti transpot dan biaya pemeriksaan.

Warga disini pun tidak terlalu memusingkan saat  musim paceklik, yang penting mereka makan. Tidak ada ratapan meminta belas kasihan, wajahnya masih ceria dan tersenyum lebar. Tidak terlihat raut kesusahan meski kondisinya bertolak belakang.

Kehadiran Rumah Zakat yang membagikan Superqurban di kampung Boneana disambut dengan senang hati, setidaknya mereka bisa menikmati sajian santapan yang berbeda.

“Jika daging telah tiba, anak beta senang” kata Kiboro dengan logat khasnya.

 

Foto: Angga Aditya

Tags :
Konfirmasi Donasi