HADIAH

seorah_jamaah_wanita_berdoa_di_masjid_istiqlal_jakarta_ilustrasi_RUMAHZAKATOleh : Ustaz Yusuf Mansur

Kita ini kan biasanya meminta. Biasanya berharap. Nggak masalah sih, sebab Allah memang tempatnya meminta. Dan Allah senang sekali kita mintai pertolongan, bantuan, rezeki. Hanya, coba sesekali, kita yang memberi kepada Allah. Kita beri Allah hadiah. Dalam satu kesempatan kampanye program tahfidz Alquran untuk masyarakat umum, non santri, saya sampaikan motivasi indah yang saya sendiri sempat rasakan.

Di luar soal ganjaran dan keistimewaan Allah buat mereka yang menghafalkan Alquran, saya sendiri tambah termotivasi ketika menghafalkan Alquran. Yakni saya katakan kepada diri saya dan saudara-saudara saya, hafalan Alquran kita sebagai hadiah untuk Allah. Maka di urusan i’tikaf juga saya katakan seperti itu. Allah telah memberikan kepada kita 365 malam atau hari. Sudah mah di malam-malam biasa, kita nggak memberi balik malam-malam itu untuk Allah, masa di malam-malam mulia, apalagi di 10 malam terakhir, pun kita masih nggak mau memberi Allah. Rasanya kelewatan pelitnya kita.

Sahabat-sahabat Rasul, nggak bicara Rasul, ini sahabat-sahabatnya Rasul, hari biasa pun membagi harinya untuk Allah. Siang hari mereka bekerja, malamnya untuk Allah. Demikian juga tabi’iin, tabi’it tabi’iin, dan para auliya (kekasih Allah). Sampai-sampai di mata musuh-musuh Islam saat itu, ada ungkapan, siangnya seperti singa, dan malamnya seperti rahib. Sebutan pujian untuk tentara-tentara Pasukan Islam saat itu. Apalagi tentunya jika masuk malam-malam akhir Ramadhan.

Ya Allah, kangen rasanya saya sendiri untuk menghabiskan malam-malam terakhir untuk i’tikaf, hanya untuk Allah. Nggak untuk dunia melulu. Di Nasjid al Mansuriyah, Jembatan Lima, hampir nggak ada kaligrafi. Entahlah. Ini salah satu masjid tertua di Jakarta, dibangun pada tahun 1717 M. Tapi nggak ada satu pun kaligrafi. Ini saya amati sejak kecil. Kecuali satu kaligrafi yang konon tulisan tangan Guru Mansur. Yakni satu tulisan bahasa arab yang isinya merupakan niat untuk i’tikaf di masjid. Nawaitul i’tikaaf fii haadzal masjid, lillaahi ta’aalaa. Aku niat i’tikaf di masjid ini, karena Allah.”

Guru Mansur, seperti kekasih-kekasih Allah yang lain, menghidupkan tradisi para ulama pewaris Nabi, dengan menghidupkan malam-malam. Dan itu bukan hanya di malam-malam akhir Ramadhan saja. Tapi hampir sepanjang malam. Subhanallah, Allahu akbar. Rupanya Guru Mansur bahkan menjadikan kaligrafi satu-satunya di masjid tua ini, di bilangan Jembatan Lima, Jakarta Barat, senantiasa untuk i’tikaf. Bahkan kata guru-guru saya, saat duduk saja di masjid, niat langsung i’tikaf. Itu maunya Guru Mansur. Sebagai ajaran Rasul yang mulia. Supaya dihitung berganda-ganda pahalanya. Apalagi malam-malam terakhir Ramadhan.

Saya ingat, nenek saya, putri ketiga Guru Mansur. Saya ketika itu kelas dua Aliyah, saya dipanggil, sambil kakinya, beliau, Guru Hajjah Iyo, ngomong ke saya. “Suf, cariin umi (panggilan kami ke beliau), obat yang bisa bikin umi susah tidur. Ini mata masya Allah, ngantuk melulu. Sebel,” kata beliau.

Hal ini dikarenakan, beliau memang suka i’tikaf. Hampir setiap waktu, apalagi saat 10 malam terakhir Ramadhan, beliau akan mengupayakan untuk i’tikaf. Bahkan, satu cita-cita beliau, ingin menghadap Allah (wafatnya) saat i’tikaf atau berada di atas sajadah. Dan ini terbukti. Semoga Allah meridhai beliau dan kita semua.

Karena itu, momentum 10 malam terakhir Ramadhan ini, mari kita perbanyak ibadah kepada Allah, dan kita memberi hadiah untuk-Nya dengan Alquran.

 

Sumber : republika.co.id

Tags :
Konfirmasi Donasi