KAK SETO, TIDAK ADA ANAK YANG NAKAL

Akhir-akhir ini berbagai kasus kekerasan terhadap anak terus meningkat. Padahal anak adalah aset yang harus dibimbing untuk menjadi generasi harapan bangsa. Mengapa sampai ada istilah ”anak nakal”? Dan apakah yang menyebabkan anak-anak menjadi nakal? Mungkinkah permasalahan ini disebabkan karena pola asuh dan cara berkomunikasi yang salah?
Dalam sebuah kesempatan, Rumah Lentera berkunjung ke kediaman Dr. Seto Mulyadi, Psi, Msi atau yang akrab disapa Kak Seto di Jl. Taman Cirendeu Permai 13 Tangerang Selatan. Pria yang pernah menerima penghargaan The Golden Balloon Award, New York untuk kategori Social Activity dari World Children’s Day Foundation and Unicef ini tengah sibuk mengurus berbagai kasus yang masuk ke Komnas Perlindungan Anak.

Sejak menjadi Ketua Komnas Anak pada tahun 1998 hingga saat ini, bermacam kasus pernah ditemuinya, seperti seorang anak berumur 2,5 tahun yang memiliki kebiasaan merokok hingga mengenai artis muda Arumi Bachin yang lari dari rumah karena merasa ditekan orang tuanya. Kepada Rumah Lentera, Pendiri dan Ketua Yayasan Mutiara Indonesia dan Yayasan Nakula Sadewa itu mengungkapkan berbagai kebutuhan seorang anak agar mereka dapat hidup dan tumbuh dengan sebaik-baiknya.


Kak Seto, kira-kira apa saja yang dapat dilakukan orang tua dalam membantu mengatasi masalah anak?

Yang paling penting adalah membangun komunikasi. Berbagai permasalahan anak muncul karena tidak adanya komunikasi yang efektif sehingga terjadi kekeliruan atau kesalahpahaman dan sebagainya. Jadi para orang tua harus mampu menjadi pendengar yang baik bagi putra-putinya. Bukan sekedar memborbardir dengan seribu satu pertanyaan yang membuat anak menjadi tertekan.


Sepertinya penanganan masalah anak belum menjadi skala prioritas, bagaimana Kak Seto menyikapi hal ini?

Hal itu memang benar. Oleh karena itulah kita sangat berharap dan berupaya mendesak supaya penanganan masalah anak menjadi salah satu hal yang menjadi prioritas. Sekarang sih sudah cukup bagus ya karena sudah ada Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Namun yang kami harapkan pemerintah lebih menggencarkan lagi program-programnya.


Program seperti apakah yang harus diprioritaskan?

Tentunya program-program untuk menangani masalah anak, seperti penelantaran anak, anak jalanan, perdagangan anak, penculikan anak, hingga anak-anak di bawah umur yang harus bekerja. Kita tidak bisa menutup mata bahwa hal itu masih sering terjadi di sekitar kita. Kemudian juga masalah pendidikan. Saya berharap pendidikan yang lebih ramah anak itu harus segera diciptakan. Sebab saat ini belum ada pendidikan yang ramah anak. Masih banyak anak yang stres dan tegang, sehingga mereka tidak bisa belajar dalam suasana yang lebih kreatif, penuh inovatif dan sebagainya. Menciptakan pendidikan yang ramah ini harus menjadi perhatian kita bersama.


Berarti prioritasnya kurikulum yang ramah?

Ya. Yang pertama adalah kurikulum. Kedua adalah sarana serta pra sarana yang menunjang kegiatan belajar. Ketiga, proses belajar yang menyenangkan. Keempat, guru yang kreatif. Guru yang kreatif ini adalah sosok yang dapat mengajar dengan penuh rasa sayang kepada anak. Bukan guru yang penuh dengan kekerasan.

Ada ungkapan bahwa anak secara alamiah memang ditakdirkan untuk memiliki masalah, namun orang tua tidak bisa berbuat apa-apa. Bagaimana dengan pendapat Kak Seto?
Saya kok tidak setuju dengan pendapat itu ya. Hal itu kan tergantung bagaimana pola yang dilakukan dalam mendidik anak. Para orang tua yang ideal dan profesional yang memahami makna pendidikan itu justru relatif tidak harus bermasalah dengan putra-putrinya. Adanya masalah kecil antara orang tua dan anak tentu wajar. Namur jangan sampai masalah kecil itu membuat keributan, pertengkaran, kabur dari rumah dan sebagainya. Saat ini sudah cukup banyak orang tua yang mengerti anaknya kok. Sehingga pertengkaran yang mengakibatkan si anak lari dari rumah bisa dihindari.

Bagaimana dengan istilah ”anak nakal”?
Saya berpendapat bahwa sebenarnya anak-anak ini adalah korban. Mereka merupakan korban dari lingkungan yang tidak kondusif, sehingga akhirnya menjadi nakal. Contoh dari lingungan yang tidak kondusif adalah misalkan rumah yang kurang hangat dan nyaman karena orang tua terlalu sibuk sehingga tidak bisa bercanda dengan anak. Bisa juga karena orang tua terlalu keras sehingga terlalu mengekang. Selain itu orang tua yang membolehkan segala-galanya juga tidak benar.
Jadi sebenarnya tidak ada anak nakal. Yang membuat nakal justru karena kita sebagai orang tua. Jika para orang tua terus memperhatikan perkembangan anaknya sejak kecil, remaja, hingga dewasa dengan menggunkan komunikasi efektif, maka kita tidak akan menjumpai anak-anak yang nakal ini. Jadi sekali lagi, anak-anak adalah korban.


Berarti pendidikan orang tua mengenai cara mengurus anak juga harus ditingkatkan dong Kak?

Yang diperlukan tidak hanya pendidikan orang tua, tapi lebih kepada pelatihan menjadi orang tua. Banyak orang tua yang pendidikannya tinggi tapi gagal menjadi orang tua yang baik. Nah mereka itu membutuhkan sebuah pelatihan agar dapat menjadi orang tua kreatif, tidak menjadi orang tua yang sok jago, ataupun mau menang sendiri, sehingga anak tak akan merasa canggung untuk mengungkapkan segala permasalahan yang ada di hati. Dengan demikian kenakalan anak dan remaja dapat terhindarkan.


Seharusnya fungsi dan posisi orang tua itu bagaimana?

Jika orang tua mau menjadi sahabat anak, maka mereka harus menjadi pihak yang menjalin hubungan persahabatan, bukan hubungan atasan dan bawahan. Persahabatan itu saling mengerti, saling bekerjasama, dan saling menghargai. Orang tua tak hanya menjadi pihak yang menuntut anak dengan doktrin “hormatilah orang tuamu”, tapi orang tua tidak dituntut ”hormatilah putra-putrimu”. Saling memahami antara orang tua dan anak itu harus ada. Itulah yang dinamakan orang tua ideal.

Pengekangan terhadap anak masih ada sampai saat ini. Jadi jangan perang bermimpi memiliki anak yang penurut, jika orang tua tak bisa bekerjasama dan menghormati anak sebagai insan yang juga memiliki hak. Kasus Arumi Bachin itu kan bisa menjadi contoh bagaimana seorang anak bisa saja kabur dari rumah karena merasa tidak diperlakukan secara benar sesuai haknya.

Pola asuh yang benar itu seperti apa ya Kak?
Di dunia ini ada tiga pola asuh anak, yakni otoriter, demokratis, dan permisif. Saat ini pola yang dipilih orang tua sudah beraneka ragam. Kalau dulu lebih banyak yang otoriter. Namur saat ini banyak juga yang menerapkan sistem demokratis dalam mendidik anak. Nah sekarang sudah mulai bervariasi. Jika dulu lebih banyak otoriter, sekarang sudah mulai disadari tentang pola pendidikan yang lebih demokratis, walau masih ada beberapa yang permisif. Namun menurut saya yang paling baik adalah pola asuh yang berada tengah-tengah (demokratis).

Peran terhadap permasalahan anak bagaimana?
Kami terus berusaha meningkatkan kualitas pelayanan. Walaupun perbandingan antara pengaduan dengan tenaga, Sumber Daya Manusia (SDM) dan dana masih sangat tidak seimbang. Banyak sekali pengaduan yang datang ke Komnas Perlindungan Anak, namun belum semuanya dapat dibantu. Akibatnya banyak orang yang kecewa dan kami pun dimaki-maki. Yah, anggap saja ini resiko dari sebuah pengabdian untuk kemajuan generasi penerus bangsa.

Bagaimana dengan peran pemerintah?
Saya berharap pemerintah jangan hanya memperhatikan bagaimana menyediakan fasilitas pendidikan gratis bagi anak-anak, tapi juga bagaimana cara mengatasi masalah yang hinggap di dalam diri anak-anak. Hal itu penting dan sebaiknya menjadi prioritas juga.

Saya dengar sepanjang tahun 2009 jumlah pengaduan mengenai pelanggaran hak anak terus meningkat. Bagaimana Kak Seto menyikapinya?
Ya, memang ini boleh dikatakan fenomena gunung es. Masalah yangdapat terungkap itu baru sedikit. Kalau kemudian permasalah serupa semakin banyak setiap tahun, hal itu sebetulnya dikarenakan telah munculnya kesadaran masyarakat untuk berani melapor, hinga kesadaran media untuk berani menulis mengenai kekerasan terhadap anak. Apalagi kasus anak bisa menjadi cerita menarik bagi media. Hal ini memang harus disadari bahwa secepatnya kekerasan wajib untuk segera diakhiri.


Sebagai orang yang peduli pada hak anak, apa harapan Kak Seto kepada pemerintah?

Dalam kabinet yang baru kan sudah ditetapkan sebuah komitmen bahwa pada tahun 2011, Indonesia akan bebas dari anak jalanan. Walaupun itu masih utopia (mimpi) tetapi tidak ada salahnya hal tersebut menjadi sebuah tekad. Jadi kita wajib memberikan dukungan kepada pemerintah secara riil, bahwa seyogyanya keinginan itu bisa diwujudkan dalam kehidupan kita. Saya pun berharap Komnas Perlindungan Anak bisa terus kompak dan bersinergi dengan Kementrian Sosial Republik Indonesia sehingga permasalahan pelanggaran anak dapat teratasi.


Rumah Zakat juga peduli dengan pendidikan anak-anak jalanan. Caranya adlaah dengan mendirikan SD dan SMP Juara. Menurut Kak Seto bagaimana?

Oh tentu hal ini sangat bagus. Tugas untuk mengatasi permasalahan anak tidak semata menjadi tanggung jawab pemerintah saja, tapi juga berbagai stakeholder yang ada di negara ini. Saya kira justru untuk memotivasi masyarakat, anak-anak harus terus didukung untuk bisa berprstasi, berkarya secara nyata. Kompetisi adalah sesuatu yang boleh dilatihkan dan bagian dari kemampuan enterpreunership juga. Dengan demikian akan muncul anak-anak yang lebih kreatif di masa depan.

Tags :
Konfirmasi Donasi