KEKUATAN AKHLAK

Ketika Umar bin Khaththab sedang duduk-duduk dengan para sahabatnya, tiba-tiba datang dua orang laki-laki dengan seorang pemuda yang terikat tangannya. Pemuda ini didakwa membunuh ayah kedua laki-laki tersebut.

“Kalau begitu hukuman bagi pemuda ini adalah dibunuh sebagai qishash,” kata Umar memberi keputusan setelah terlebih dulu meminta penjelasan dari kedua pihak.

Pemuda terhukum tadi mengajukan sebuah permintaan, “Aku tidak menolak hukuman ini, tapi aku mempunyai adik. Sedangkan ayahku telah tiada. Ia meninggalkan harta kepadaku. Dan aku menyimpannya di tempat yang tidak diketahui oleh adikku.”

“Lantas apa maumu?” tanya Umar.

“Aku minta waktu tiga hari untuk pulang dan memberikan harta itu kepada adikku,” jawab pemuda.

Umar bertanya, “Kalau begitu, siapa yang akan menjadi penjaminmu?”

Sementara, orang-orang mulai berkumpul. Mereka menjadi tahu duduk persoalannya. Terhadap permintaan si terdakwa, banyak di antara mereka yang enggan Malahan, ada anggapan bahwa permintaan itu hanya dalih belaka. Nanti kalau sudah menjauh dari majelis sang khalifah, pemuda tersebut bisa saja kabur, menyelamatkan diri dari hukuman.

Kalau sudah kabur, maka qishash bisa-bisa dijatuhkan justru bagi siapapun yang memberi jaminan.

Tiba-tiba, keriuhan publik terhenti. Sebab, salah seorang sahabat Nabi SAW yang mulia, Abu Dzar al-Ghifary, tampil dan menawarkan dirinya sebagai penjamin pemuda itu. “Ya, aku bersedia,” kata sahabat yang termasyhur selalu hidup penuh¬†wara’¬†(kehati-hatian, takut dosa) itu.

Singkat cerita. Memasuki hari ketiga. Khalifah Umar, para sahabat, dan dua lelaki itu menunggu pemuda yang akan dieksekusi. Mereka dan juga publik Muslimin tentunya cemas. Bagaimana kalau pemuda itu justru melarikan diri? Apakah sebagai gantinya adalah nyawa Abu Dzar al-Ghifary? Keadaan ini menjadi amat dilematis.

Ternyata, dari kejauhan tampak seseorang memacu kudanya Begitu kian mendekat, itulah pemuda yang akan dieksekusi mati. Dia berlari menuju majelis yang sudah siap menjatuhkan qishash padanya di siang terik itu.

Di hadapan mereka yang sedang menungunya, pemuda itu berkata kepada Abu Dzar, “Terima kasih wahai syekh pemberani.”

Terharu akan kehadiran pemuda itu, kedua lelaki tadi serentak berkata kepada Khalifah Umar, “Kami cabut tuntutan kami, wahai Amirul Mu”minin, dan kami maafkan pemuda yang menepati janjinya ini.” Demikianlah, hukuman mati tak jadi dilaksanakan. Akhlak sahabat Abu Dzar al-Ghifari membuat hati pemuda terhukum itu luluh. Tak hanya itu, akhlak pemuda tadi yang menepati janjinya lalu meluluhkan hati keluarga korban.

Terkenang sabda Rasulullah SAW. “Sungguh kalian tidak akan mampu mempengaruhi manusia dengan harta benda kalian. Akan tetapi, kalian akan mampu mempengaruhi mereka dengan lemah-lembut dan akhlak yang baik.” (HR Abu Ya”la dan disahihkan oleh Hakim).

Betapa kuatnya pengaruh yang ditimbulkan oleh akhlak yang baik. Dengannya, marah menjadi sabar, benci menjadi cinta, dan lawan menjadi kawan.

Tags :
Konfirmasi Donasi