KEMASAN CINTA, EMOSI, DAN SPIRITUALITAS

“Demi zat yang diriku dalam tangan-Nya, kalian tidak masuk syurga sampai kalian beriman. Dan kalian tidak beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah kalian kutunjukkan sesuatu yang membuat kalian saling mencintai?
Sebarkanlah salam diantara kalian.”
(HR Tirmidzi)

Ada puncak tertinggi dari setiap proses kehidupan ummat manusia. Bagi ummat beragama, puncak itu adalah Tuhan yang transenden. Untuk mencapai puncak itu tidak mengharuskan kita terlibat dalam dunia transenden. Bahkan realitas transenden yang sulit ditangkap oleh pancaindra harus diwujudkan dalam bentuk aktifitas nyata dalam kehidupan sosial. Apa yang digambarkan oleh hadits di atas memperlihatkan hal tersebut. Syurga dan keimanan yang merupakan dua realitas abstrak harus diaplikasikan dalam bentuk cinta. Cinta pun harus dibuktikan melalui penyebaran salam.

Cinta tidak hanya refleksi rasa, dan salam bukan pula sekedar kata. Cinta dan salam melibatkan emosi yang menjadi kunci penghantar bagi kehangatan sebuah interaksi. Penekanan pada dimensi ini menjadi signifikan karena realitas fisik semata tidak mampu menangkap dan mengungkap makna yang berada di balik realitas (behind text). Inilah agenda yang menjadi persoalan di tengah masyarakat yang tengah mengalami proses modernisasi. Pengagungan akal atau kecerdasan otak yang selama ini dipercaya sebagai ibu kandung modernitas dunia, sepertinya sampai pada titik kulminasinya.

Krisis sosial yang diantaranya berupa split personality yang melanda dunia saat ini tidak teratasi oleh kerangka teori besar yang pernah dikumandangkan para “penyembah” rasionalitas. Sehingga orang sekaliber Albert Einsten pun menyatakan bahwa sebuah persoalan tidak dapat dipecahkan dengan tingkat pemikiran yang sama ketika masalah itu terjadi. Dorongan intuitif juga memiliki peranan lahirnya sebuah kreatifitas agung. Ada realitas lain yang selama ini dikesampingkan dan dianaktirikan karena dianggap tidak memenuhi standar keilmiahan, yaitu emosi yang berpusat pada hati.

Proses interaksi dalam seluruh tataran sosial tidak bisa ditumpukan pada logika rasio yang cenderung linier dan sistemik. Ia memerlukan adanya dimensi lain sebagai penyeimbang, berupa kecerdasan intuitif atau yang lebih dikenal dengan sebutan Emotional Quotient.Sebuah kecerdasan yang bisa memotivasi kondisi psikologis menjadi pribadi-pribadi yang matang. Ia terwujud dalam bentuk kemampuan merasakan, memahamai, dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi, koneksi, dan pengaruh manusia. Ia seperti bahan bakar yang menyulut kreatifitas, kolaborasi, inisiatif, dan transformasi.

Beberapa hasil survei menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah usaha bukan ditentukan oleh kemampuan teknikal, tetapi lebih pada kemampuan dasar untuk belajar dalam usaha tersebut, seperti kemampuan mendengarkan dan berkomunikasi lisan, adaptasi, kreatifitas, kepercayaan diri, dan ketahanan mental menghadapi kegagalan. Kemampuan akademik, nilai rapor, predikat kelulusan pendidikan tinggi tidak bisa menjadi tolok ukur bagi tingkat keberhasilan kerja dan kinerja seseorang. Iniulah yang mendorong beberapa perusahaan besar di negara maju lebih menekankan pada seleksi kecerdasan emosional dalam rekruitmen karyawan.

Dalam perkembangannya kecerdasan emosional tidak cukup, khusunya bagi pengembangan kejiwaan yang berdimensi ketuhanan. Kecerdasan emosional lebih berpusat pada rekonstruksi hubungan yang bersifat horizontal (sosial), sementara itu ada dimensi lain yang tidak kalah pentingnya bagi kehidupan ummat manusia, yaitu hubungan vertikal. Kemampuan dalam membangun hubungn\an yang bersifat vertikal ini sering disebut dengan istilah kecerdasan spiritual (Spritual Quotient).

Salam yang dilafalkan menjadi “Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh” terkandung sebuah harapan yang sungguh-sungguh untuk mendapatkan keselamatan dan berkah. Ada sebuah sinergi yang akan terbangun apabila salam tersebut diucapkan dari lubuk hati. Ketika salam itu mendapat respon (Wa’alaikumussalaam), berarti ada sebuah kepercayaan yang terbangun dalam interaksi tersebut. Ada sebuah kontrak sosial yang tercipta melalui salam yang diberkahi Allah. Ini merupakan sebuah modal yang sangat mahal dalam sebuah proses kehidupan sosial, apalagi di tengah krisis kepercayaan yang melanda kehidupan saat ini.

Rasulullah dalam menyeberkan misi Islamnya selalu memperhatikan keseimbangan antara kesehatan mental dan fisik, khususnya para shahabat yang menyertainya. Perhatian terhadap mental dan fisik ini menjadi penting karena mereka harus menghadapi berbagai hambatan, tantangan, bahkan teror baik dalam bentuk fisik maupun psikis. Dalam masalah mental Rasulullah menjadikan iman sebagai energi ruhani yang tidak pernah habis dan kelelahan. Lebih dari tiu, energi ruhani ini dalam prosesnya menjadi stimulus bagi kehandalan fisik para shahabat.

Pada akhirnya rangkaian proses kecerdasan ini berpuncak pada satu titik tertinggi, yaitu Tuhan. Ketika perilaku merupakan refleksi dari keberimanan, maka sikap ikhlas dan kebergantungan hanya kepada Tuhan akan menyertainya. Lebih dari itu, keberimanan akan menyucikan jiwa dari kegelisahan, merangsang ketenangan dari kegundahan, dan menyingkap kedamaian dari kecemasan. “Dan bahwa kepada Tuhanmu akhirnya kau kembali.” (QS An-Najm (53):42)
Wallahu a’lam bish showab.

(Muqoddimah Al-Hadits An-Nabawi wa ‘ilmu An-Nafs : Ary G)

Tags :
Konfirmasi Donasi