MEMENUHI PANGGILAN ILLAHI

oleh : Mahmud Yunus

Perjalanan haji adalah per jalanan mulia karena untuk memenuhi panggilan Ilahi. Allah memerintahkan Nabi Ibrahim AS, Suruh lah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki atau mengendarai setiap unta yang kurus.Mereka datang dari setiap penjuru yang jauh. (QS al-Hajj [22]: 27).

Perjalanan haji merupakan perjalanan suci karena orang yang mengerjakan haji dengan benar, yakni sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW, dia akan kembali menjadi suci dari segala dosa.

Rasulullah SAW bersabda, Barang siapa mengerjakan haji ke Baitullah, lalu dia tidak melakukan rafats (hubungan intim atau pendahuluannya) dan dosa/maksiat, niscaya dia pulang dalam keadaan seperti tatkala dilahirkan oleh ibunya. (HR Bukhari dan Muslim).

Lebih jauh, orang yang mengerjakan haji dengan baik sehingga mendapatkan predikat haji mabrur niscaya akan dimasukkan ke dalam surga. Rasulullah SAW bersabda, Haji mabrur tidak memiliki balasan lain kecuali surga. (HR Bukhari dan Muslim).

Alhamdulillah, belakangan ini setiap tahun jutaan manusia berbon dong-bondong ke Baitullah mengerjakan haji. Mudah-mudahan mereka mendapatkan predikat haji mabrur sehingga mendapatkan balasan surga.

Tidak boleh lupa, karena mulianya mengerjakan haji, maka setan dan kroni-kroninya akan berusaha menghalangi manusia supaya gagal mengerjakannya. Setan akan berusaha menodai manu sia, baik sebelum mengerjakannya, tatkala mengerjakannya, maupun sesudah.

Agar orang yang mengerjakan haji mendapatkan balasan yang terbaik dari Allah, ada baiknya merenungkan dan mengamalkan beberapa hal berikut ini dengan baik. Pertama, meluruskan niat mengerjakan haji kare na Allah. Allah menjelaskan, Mereka tidaklah disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan meng ikhlas kan ketaatan kepada-Nya dalam agama yang lurus. (QS al-Bayyinah [98]: 5).

Kedua, melaksanakan seluruh prosesi haji sesuai dengan petunjuk Rasulullah SAW. Rasulullah SAW bersabda. Dengan begitu, setiap orang yang akan mengerjakan haji wajib mempelajari cara Rasulullah SAW mengerjakan haji.

Ketiga, menjauhi larangan-larangan tertentu tatkala mengerjakan haji, seperti rafats, fusuq (berbuat dosa/maksiat), dan jidal (bertengkar).Allah menjelaskan, (Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang dimaklumi. Barang siapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, maka janganlah dia rafats, fusuq, dan jidal dalam (mengerjakan ibadah) haji. (QS al-Baqarah [2]: 197).

Pelatihan terhadap tiga hal tersebut tidak cukup dengan mengikuti bimbingan manasik beberapa kali.¬†Terlebih karena bimbingan manasik tersebut pada umumnya hanya menyentuh masalah-masalah teknis pelaksanaan (ibadah) haji, seperti cara tawaf, cara sa’i, cara melontar jumrah, dan cara tahalul.

Terkait masalah-masalah lain, seperti meluruskan niat, memelihara kekhusyukan, dan etika di Tanah Suci, seyogianya dilatihkan oleh orang yang mengerjakan haji.

sumber : republika.co.id

Tags :
Konfirmasi Donasi