MENABUNG DAN BERINVESTASILAH

Pernahkah kita membayangkan jika kita bisa seperti Bill Gates, Warren Buffet, Carlos Slim dan orang-orang kaya atau sejahtera level dunia tersebut.

Mungkin sebagian kita akan mengatakan tidak mungkin, apalagi kondisi kita hari ini dalam keadaan berkekurangan. Sebagian yang lain, sudah pesimistis duluan karena kebanyakan utang.

Tapi ada satu rumus yang saya yakini hari ini bahwasanya, “kaya itu adalah sebuah mentalitas atau perilaku kita, bukan keadaan”.

Artinya, ketika mentalitas kaya atau sejahtera sudah Anda miliki, walau kondisi Anda hari ini dalam keadaan berkekurangan, maka untuk kembali menjadi kaya atau sejahtera, bukanlah sebuah pekerjaan yang sulit.

Ada cerita masyhur tentang “Si Tangan Midas” Abdurrahman Bin Auf. Bagaimana ketika beliau hijrah dari Makkah menuju Madinah bersama Rasulullah SAW, artinya hanya membawa baju di badan saja (padahal aslinya seorang kaya raya di Makkah). Tidak perlu menunggu waktu puluhan tahun, cukup hitungan bulan dan tahun saja, beliau kembali menjadi orang kaya di negeri baru, Madinah, bahkan menjadi orang paling kaya seantero Jazirah Arab dari jalur pengusaha.

Mentalitas seperti Abdurrahman Bin Auf inilah yang perlu kita teladani yang akan menghantarkan kehidupan kita menjadi lebih baik lagi.

Iman dan strategi
Jika saya coba sederhanakan dalam konteks kekinian, maka rumus kaya Abdurrahman Bin Auf adalah iman dan strategi.

Dalam konteks iman, maka adagium yang perlu kita camkan adalah “rezeki itu pasti, hanya apakah caranya halal dan berkah”.

Keuntungan dalam pemahaman Abdurrahman Bin Auf adalah bisa berdekatan dengan Rasulullah SAW. Jadi jika hari ini kita akan seperti Abdurrahman Bin Auf, maka setiap aktivitas kita harus tersambung dengan Rasulullah SAW.

Misalnya jika kita melakukan aktivitas jual beli, maka lakukanlah seperti yang Rasulullah SAW contohkan, yakni menjadi Al Amin, orang yang jujur, bisa dipercaya dan penuh integritas serta punya ketekunan yang luar biasa. Adapun definisi kaya menurut Abdurrahman Bin Auf adalah kesiapan untuk menanggung rugi.

Paling tidak, ada tiga hal yang menjadi panduan bagi kita, yakni:
1. Punyai mental kaya, insya Allah kita akan tetap kaya.
2. Miliki pengetahuan luas tentang usaha atau kompetensi yang kita miliki, misalnya pengetahuan tentang perdagangan.
3. Lakukan saling menopang (sinergi) dengan orang-orang yang sevisi dengan kita.

Jika iman sudah tertanam dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dalam perbuatan, maka strategi atau formula menjadi kaya dan sejahtera adalah : + x – (baca: bagi, tambah, kali, kurang).

Kok sesederhana itu?
Inilah yang kita sebut level persisten atau level istiqomah, yang membedakan orang kebanyakan dengan orang-orang yang memiliki mental kaya atau sejahtera.

Mari kita bahas satu per satu.

Bagi adalah sedekah
Jika Abdurrahman Bin Auf menjalankan disiplin tersebut sesuai dengan hadits Nabi SAW, maka sedekahnya adalah satu per tiga dari hartanya atau 33,3 persen dari seluruh pendapatannya.

Mentor saya yang hari ini punya aset di atas Rp 10 T, mensedekahkan hartanya sebanyak 20 persen dari keuntungan bulanannya. Untuk kita sendiri, bisa dimulai dari angka 2,5 persen hingga terus naik.

Untuk umumnya kita, bisa dengan sedekah minimal 10 persen dari penghasilan bulanan kita.

Tambah adalah pendapatan dinaikkan lalu tabungan dinaikkan
Menabung minimal 10 persen dari penghasilan. Artinya, pos yang penting untuk membentuk mentalitas kaya atau sejahtera adalah dengan kebiasaan menabung.

Apa itu menabung? Menyisihkan sebagian uang atau harta kita untuk masa depan. Dengan menabung inilah, setelah kita punya satu pendapatan, lalu dua, tiga pendapatan dan seterusnya, maka tugas kita menabung sebagai sebuah kebiasaan sehari-hari, sehingga alam bawah sadar kita merekamnya.

Kali adalah berinvestasi

Memikirkan investasi minimal 30 jam dalam sebulan. Apa itu investasi? Menyisihkan sebagian uang atau harta kita untuk masa depan dan bertumbuh.

Dengan investasi, hasil dari uang tabungan sendiri akan membuat kita menghargai setiap rupiah yang kita belanjakan. Walau investasi memungkinkan dua hal, bisa naik atau turun, tetapi dengan cara ini kita sadar akan dikemanakan uang kita.

Pastinya pengetahuan tentang seluk beluk investasi dan melek Keuangan harus kita dapatkan. Jika kita punya waktu memikirkan investasi setiap harinya minimal 60 menit, maka kita bisa buat perencanaan dan strategi serta cara mengeksekusi investasi kita.

Kurang adalah kesederhanaan, hidup semurah mungkin
Setelah : + x, saatnya kita mengurangkannya dengan hidup sesuai kebutuhan.
Bedanya kebutuhan sama keinginan adalah penundaan. Keinginan masih bisa ditunda, kebutuhan tidak.

Hari ini, kita belajar keuangan bukan agar kita menjadi materialistis, tapi membuat kita realitis dalam hidup.

Setelah : + x -, maka tinggal kita naikkan putarannya, dari – lalu x lalu + hingga kembali :. Sehingga, jika kita sadar rumusnya, punya mentor dan jaringan yang pas, Insya Allah menjadi kaya atau sejahtera, hanya persoalan waktu saja.

Sumber : republika.co.id

Tags :
Konfirmasi Donasi