MUKMIN: SANG PRIBADI BERKARAKTER

oleh: Muhammad Haden Aulia Husein

“Orang mukmin itu berpenampilan simpatik. Tiada kebaikan pada orang yang tidak berpenampilan simpatik dan tidak memberi simpatiknya (kepada orang lain)” (H.R. Ahmad).

Sikap adalah kenyataan sejarah yang patut direnungkan oleh mereka yang telah lama bergerak di ranah pendidikan. Pengaruh apapun yang ingin ditularkan kepada orang lain tentulah berkaitan dengan metode maupun arah tujuan yang jelas dalam pencapaian prosesi pembinaan tersebut. Pembinaan yang akan menumbuhkan karakter bagi orang yang dibina takjauh berbeda dengan pahatan seniman di atas batu yang cadas. Karakter ini adalah sikap yang diaktifkan dan berlaku sepanjang hayat.

Di samping metode pendidikan yang sudah tertera dalam Alquran, Rasulullah SAW tercinta telah menggagas dengan lengkap tetang bimbingan Ar Rozaq untuk penciptaan generasi yang bersih jiwanya, bersih otaknya, bersih konsepsinya, bersih pemikirannya, bersih kejadiannya. Inilah yang dinamakan pembinaan dalam Islam yang dapat kita sebut tarbiyah Islamiyah. Keberhasilan metode pendidikan ini sudah terbukti pada putra-putri terbaik Islam, sahabat-sahabat Rasulullah SAW yang kesemuanya berkarakter kuat. Mereka selalu memberikan kontribusi penting dalam penyebaran Islam sampai menjadi imperium keimanan yang menguasai sepertiga dunia.

Karakter pribadi kita saat ini merupakan bagian takterpisahkan dari proses tansformasi ilmu. Pembinaan yang melalui transformasi ilmu ini menghasilkan pertumbuhan karakter yang hanya mampu diserap secara berangsur-angsur. Hal ini terjadi karena ketiadaan pendamping yang kokoh dan landasan yang kuat dalam penanaman karakter. Sehingga yang terjadi adalah terciptanya manusia cerdas tapi malas, pintar tapi hambar, dan unggul tapi mandul. Mereka tidak mampu memberikan karya penting bagi umat bahkan Islam. Ketinggian ilmu dapat menghasilkan karya terbaik untuk umat jika dibarengi dengan pendidikan moral berdasarkan Islam.

Dalam percepatan kebutuhan pendidikan manusia yang berkarakter inilah Islam hadir untuk menciptakan metamorphosis menjadi manusia yang berguna bagi umat, atau yang sering Allah SWT panggil dengan nama mukmin. Ia dilahirkan dari basis iman yang memenuhi volume, bentuk, suasana dan situasinya. Dari sinilah karakter individu terbentuk, sehingga ia mampu merefleksikannya kepada orang disekitarnya. Orang-orang tersebut memberikan pencerahan kepada masyarakat. Kemudian masyarakat memberi dampak kepada pemerintahan yang akhirnya akan bermuara kepada dunia Islam yang mendunia. Lalu bagaimanakah metode yang paling efektif untuk menjadi seorang mukmin? Imam Hasan Al Banna menuturkan salah satu metode untuk menjadi mukmin ini:

“Islam sangat menganjurkan agar para pemeluknya membentuk kumpulan-kumpulan keluarga dengan tujuan mengarahkan mereka untuk mencapai tingkat keteladanan, mengokohkan persatuan dan mengangkat konsep persaudaraan di antara mereka dari tataran kata-kata dan teori menuju kerja dan operasional yang konkret. Oleh karenanya bersungguh-sungguhlah engkau wahai saudaraku untuk menjadi batu bata yang baik dalam bangunan Islam ini” (Majmu’atur Rasail , Hasan Al Banna).

Ya, sebuah peradaban yang dahulu runtuh hanya dapat kembali tegak dengan melalui pembangunan satu demi satu batu batanya. Inilah yang dalam dunia modern dinamakan pembangunan peradaban dengan sistem bottom-up. Kejayaan Islam tidak akan ada tanpa kejayaan umat Islam. Dengan kata lain, kejayaan Islam akan terbentuk jika pribadi-pribadi muslim bertranspormasi menjadi mukmin sejati. Tidak hanya mumpuni dalam segi keimanan, seorang mukmin dapat merefleksikan keimanannya kepada orang lain dengan sebuah metode seruan bernama da’wah untuk mempercepat terbentuknya peradaban Islam.

Tags :
Konfirmasi Donasi