PEMBURU AKHIRAT YANG DI TUNGGU-TUNGGU

Oleh: Muhammad Haden Aulia Husein
Rumah Zakat-Bandung

Ribuan hari yang telah dilalui muslimin di dunia ini, melonjakkan getaran-getaran kegalauan dalam hatinya: tentang dunia, tentang kehidupan, tentang pendapatan dan tentang kebutuhan. Mereka seakan berlomba mengukir suatu prestasi yang berkenaan dengan bagaiamana orang lain menghargai mereka dengan baju kemapanan, kemakmuran dan kesejahteraan. Tapi, apakah mereka yakin akan harta yang dikejarnya akan membuat mereka menjadi orang yang beruntung? Tapi, apakah mereka mampu mensejahterakan dunia, dan menjadi pribadi yang akan mendapat kebahagian di episode kehidupannya? Mungkin pertanyaan-pertanyaan tadi seharusnya dikembalikan kepada jiwa-jiwa mereka sendiri. Jika mereka tulus dan ikhlas mungkin mereka akan mampu menginspirasi manusia hidup lainnya, baik sekarang maupun di generasi yang akan datang.

Para muslim pemburu dunia untuk dunia itu akan cepat berkata “Saya ingin kaya agar bisa membantu orang lain di sekitar saya” . Lain halnya dengan sosok mukmin pemburu akhirat untuk dunia, mereka berkata dengan berat dan tegar “Saya harus kaya agar bisa membantu orang lain di sekitar saya masuk syurga“. Dari hal di atas, terlihatlah betapa azzam atau keinginan seseorang berlandaskan pada visinya sehingga visinya akan melahirkan misinya dan misinya membuat prilaku yang di buatnya.

Seorang sahabat Al Aswad bin Yazid R.A yang senantiasa berpuasa menanggapi orang-orang lain berkata kepadanya: “Berilah keringanan kepada dirimu dari puasa,” Al Aswad menjawab:”Jika aku telah berada di dalam kubur, siapakah yang akan menggantikan puasaku, siapakah yang akan menggantikan shalatku dan siapakah yang akan menggantikan bacaan al-Qur’anku?”

Mungkin itulah suatu gambaran kongkrit dimana seseorang bukanlah hanya menjadi pemburu dunia tapi haruslah menjadi pemburu akhirat yang lebih utama. Alasannya adalah: pertama, jika bukan kita yang merubahnya, siapa lagi yang akan menggantikannya. Karena tidak ada jaminan bahwa generasi yang datang akan lebih baik dari generasi saat ini, jika kita sendiri yang tidak memastikannya bahwa mereka layak melanjutkan estafet Risalah Rosulullah SAW kepada umatnya yang terbaik ini. Kedua, jika kita melemahkan jejak langkah kita untuk diakhirat bukankah sudah jelas dunia tidak akan membawa kebaikan melainkan keputusasaan yang nyata. Contohnya, jika kita menargetkan perusahaan kita memiliki profit berlipat sedangkan dalam prilaku kita hanya memfokuskan kepada pencapaian angka-angkanya, bukan memfokuskan kepada kebaikan yang bisa kita berikan kepada karyawan perusahaan tersebut (berzakat, bersedekah, menghidupi keluaraga mereka dan lain-lain) tentu hasilnya kan berbeda. Sehingga hal ini harusnya menjadi motivasi bagi kita, bahwa dalam momen kehidupan dunia adalah persinggahan sedangkan akhirat adalah tujuan akhir dan berjalannya berlandaskan pada al-Qur’an dan al-Hadits.

Karenanya, siapkah kita menjadi Pemburu Syurga yang memiliki optimisme keduniaan melebihi langit ataukah kita masih pemburu dunia yang hanya mampu menepi jika targetnya tidak sampai karena putus asa. Kamu lebih mengetahui tentang berbagai urusan duniamu,  Shahih Muslim;1366.

Tags :
Konfirmasi Donasi