PENYEBERANG JALAN

Oleh: Titin Latifah

Di suatu jalan raya yang lebar dengan lalu lalang kendaraan yang hampir tak renggang, tampak dua orang bersiap-siap untuk menyeberang jalan. Posisi keduanya berlawanan. Keduanya tampak ragu dan sedikit takut untuk menyeberang.

Penyeberang pertama tampak berdiri dan sesekali mundur untuk menghindari pengendara sepeda motor yang mepet ke pinggir jalan. Langkahnya menyiratkan keraguan, bahkan ia mulai kembali melangkah di pinggiran jalan, berharap kendaraan makin sepi dan ia bisa menyeberang tanpa rasa takut. Berkali-kali ia menengok ke belakang, berhenti sebentar, bermaksud menyeberang, akan tetapi kemudian melangkah lagi. Ia tak kunjung menemukan celah untuk sekedar menyeberang di antara lalu lalang kendaraan yang semakin padat. Dari bahasa tubuhnya, nampak ia semakin ragu dan ketakutan untuk menuju seberang. Saat menemukan sedikit celah, ia melangkah ragu dan akhirnya mundur kembali.

Penyeberang kedua ada di jalan yang sama, dengan kepadatan kendaraan yang sama. Sekilas memang tampak sedikit jeri dari wajahnya, akan tetapi ia tetap berdiri di pinggir jalan. Matanya awas melihat kanan kiri mencari celah di antara kendaraan. Begitu terlihat sedikit celah, ia melangkah maju. Tangannya memberikan isyarat kepada kendaraan untuk berhenti sebentar atau jalan perlahan. Ia sempat terhenti di tengah jalan dan membiarkan kendaraan yang lewat, hingga akhirnya ia selamat sampai seberang jalan.

**

Seringkali begitulah hidup. Anggaplah masalah yang ada di depan kita sebagai kendaraan. Terkadang ia hanya motor bebek yang jalan perlahan, truk yang berlari kencang sarat muatan, atau bahkan becak yang sudah reyot. Tetapi tetap saja, kita harus melewatinya jika ingin mencapai seberang. Fokus berdiri di depannya dengan segenap strategi dan sinergi otak, mata, tangan, kaki, serta hati agar bisa bisa sampai ke tempat tujuan dengan cepat dan selamat.

Namun terkadang masalah yang datang malah membuat kita semakin ciut menjalani hidup. Bukannya fokus mencari penyelesaian, ternyata langkah yang kita ambil justru menjauhkan diri dari solusi yang dicari. Bisa saja kita mengajukan pledoi, menunggu saat yang tepat untuk melangkah, atau tengah membuat strategi jitu dahulu. Tapi mungkin kita lupa pada satu hal, bahwa waktu tak bisa menunggu, ia terus berjalan dengan atau tanpa kita menyertainya. Allah juga telah menegaskan, bahwa kemudahan akan selalu menyertai kesulitan yang kita rasa.

Tak jarang masalah yang menyapa, sedikit demi sedikit telah menggerus keyakinan kita akan kehadiranNya, akan pertolongan yang dijanjikanNya hadir di setiap masalah yang menerpa hidup kita.

Tags :
Konfirmasi Donasi