PERHATIKAN PEMAKAIAN HEADSET BAGI KESEHATAN

Boy (4-5) listening to music and singing

Fungsi pendengaran biasanya berkurang akibat faktor usia lanjut. Akan tetapi, adanya tren teknologi seperti pemakaian headsetternyata juga berpengaruh terhadap kualitas pendengaran. Bahkan kerusakan akibat penyuara telinga ini bisa permanen dan menyebabkan orang hilang pendengaran di usia sedini mungkin, semisal usia 40-an.

Dilansir laman CNA Lifestyle, Jumat (28/6), laporan decibels.org menyatakan, terpapar kebisingan lebih dari 85 desibel secara terus-menerus bisa membuat pendengaran dalam bahaya. Tingkat suara rata-rata di luar ruangan adalah 69,4 desibel sepanjang hari.

Menurut sebuah studi tahun 2017 oleh National University of Singapore, angka itu sudah melewati batas yang direkomendasikan Badan Lingkungan Nasional, yaitu sebanyak 67 desibel dalam waktu satu jam. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan batasannya 70 desibel sehari.

Kelvin Lee, pendiri The Listening Lab, mengatakan penyebab paling umum dari gangguan pendengaran sebenarnya adalah usia. Telinga bagian dalam yang dikenal sebagai koklea adalah struktur bertulang berbentuk cairan dan siput di tengkorak di belakang setiap telinga. Struktur ini menampung barisan sel-sel rambut pendengaran yang berfungsi untuk memberikan informasi suara ke otak.

“Berbagai zona sel rambut, ketika diaktifkan oleh tekanan cairan, akan memberikan frekuensi suara tertentu ke otak Anda,” kata Lee.

Seiring bertambahnya usia, beberapa dari sel-sel rambut ini menjadi hilang atau rusak, dan mengakibatkan gangguan kemampuan untuk mendengar suara. Ini biasanya permanen dan hanya dapat diobati dengan perangkat amplifikasi seperti alat bantu dengar.

Rata-rata tingkat kebisingan di luar ruangan sebenarnya tidak akan membuat kehilangan pendengaran. Ada bukti yang berkembang bahwa mendengarkan musik di ponsel atau pemutar musik dengan volume tinggi untuk waktu lama dapat merusaknya secara permanen.

“Beberapa pemutar musik ini dapat menghasilkan suara hingga 120 desibel, yang setara dengan tingkat suara yang disebabkan oleh pesawat komersial yang lepas landas dari landasan pacu,” tuturnya.

Paparan suara pada tingkat itu bahkan selama 30 menit dapat mengakibatkan kerusakan pendengaran permanen. Memang, kerusakan bisa terjadi jika penggunaan headset dilakukan secara berlebihan.

“Misalnya lebih dari tujuh jam seminggu pada volume tinggi,” kata dia.

Lee menyarankan agar orang yang sering mendengarkan musik atau menonton tayangan lewat ponsel serta para gamers untuk menerapkan aturan 60/60. Atur volume 60 persen dan jangan gunakan earphone atau headphone lebih dari 60 menit tanpa jeda.

“Istirahatkan pendengaran,” ucap Lee.

Kalau volume disetel di angka 80 persen, pendekkan waktu memakai penyuara telinga. Dengan suara sekencang itu, Lee menyerukan agar memangkas waktu mendengarkan musik kurang dari satu jam.

Orang yang gemar nonton pertunjukan musik di kafe disarankan untuk menjauhi speaker setidaknya dengan jarak tiga meter. Ingin nonton konser? Sebaiknya, beri kesempatan 16 jam untuk detoksifikasi pendengaran setelah bergembira di konser. Ini artinya, tak boleh mendengarkan musik dengan volume tinggi lewat earphone atau headphone selama periode tersebut.

Sumber: republika.co.id

Tags :
Konfirmasi Donasi