SABAR DALAM IKHTIAR

Oleh: Fajar Kurnianto

Setiap orang tentu ingin sukses atau berhasil dalam hidupnya, pada bidangnya masing-masing. Mereka ingin segala harapannya tercapai dan terwujud nyata. Keberhasilan hanya dapat diraih dengan usaha atau ikhtiar keras dan sungguh-sungguh dengan diiringi doa.

Dalam ikhtiar ini, seseorang perlu sabar menjalani setiap prosesnya. Alquran menyebutkan bahwa sabar adalah salah satu bentuk meminta tolong kepada Allah SWT selain shalat, “Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat.” (QS al-Baqarah [2]: 45).

Dalam hadisnya, Nabi SAW bahkan mengatakan, sabar adalah bagian dari iman, “Sabar adalah setengah dari iman dan keyakinan adalah seluruh keimanan.” (HR ath-Thabrani dan al-Baihaqi). Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitab al-Fawa’id menegaskan, “Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh.”

Ikhtiar adalah kewajiban manusia, sementara Allah SWT yang menentukan takdirnya. Manusia tidak pernah tahu takdirnya dan karena itu mesti terus berikthiar untuk menemukan dan menjalani takdirnya itu sampai akhir hayat.

Ketika dalam proses ikhtiar ini ada sesuatu yang manusia rasakan sulit atau ia anggap merugikannya, pada hakikatnya itu adalah ujian sementara yang mesti disikapi dengan sabar; menahan diri sejenak untuk memikirkan permasalahan yang dihadapi dengan pikiran dan hati yang jernih, mencari solusinya, kemudian berikhtiar lagi dengan cara-cara lain yang lebih baik. Karena, seperti dikatakan Allah SWT, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS ar-Ra’d [13]: 11)

Sabar dalam hal ini, seperti dikatakan Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ ‘Ulumiddin, termasuk bentuk sabar dalam ketaatan kepada Allah. Ikthiar itu sendiri merupakan bentuk ketaatan kepada Allah karena itu adalah kewajiban dari Allah yang dibebankan kepada setiap manusia.

Al-Ghazali mengatakan, sabar dalam ketaatan yaitu melaksanakan tugas atau kewajiban dengan ikhlas, tidak menggerutu atau mengeluh saat menghadapi kesulitan di dalamnya. Namun, apabila seseorang berkeluh kesah saat melaksanakannya, maka yang demikian itu belum termasuk sabar, terutama dalam hal beribadah kepada Allah SWT. Ibnu Abbas pernah mengatakan, “Sabar dalam menjalankan kewajiban Allah pahalanya 300 derajat.”

Sabar adalah sikap paling baik dalam menghadapi setiap masalah atau ujian. Nabi SAW mengatakan, “Siapa saja yang bersabar maka Allah akan menjadikan dirinya penyabar, dan tiada pemberian yang Allah berikan kepada seseorang yang lebih baik dan lebih luas manfaatnya daripada kesabaran.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Allah pun memuji orang yang sabar, yang pantang menyerah dalam menjalani setiap kesulitan, “Dan betapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Allah, tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS Ali ‘Imran [3]: 146).

Sabar adalah sikap yang baik dalam ikhtiar manusia, bahkan dalam segala hal, baik itu yang manusia nilai sebagai sesuatu yang menguntungkan atau merugikan. Selalu ada keajaiban dan jalan keluar yang didapatkan orang yang sabar. Terkadang itu muncul pada saat yang tak ia duga-duga.

Selama seseorang bersabar, kebaikan akan selalu ia dapatkan. Nabi SAW menegaskan, “Sungguh menakjubkan urusan orang Mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Apabila mendapatkan kelapangan maka dia bersyukur dan itu kebaikan baginya. Bila ditimpa kesempitan maka dia bersabar dan itu kebaikan baginya.” (HR Muslim). Wallahu a’lam.

Sumber : republika.co.id

Tags :
Konfirmasi Donasi