SHAUM ENAM HARI SYAWAL


H.Usep Romli HM )*

“Fa idza faraghta fanshab. Wa ila Robbika farghab. Selesai satu pekerjaan sudah menunggu pekerjaan lain. Dan hanya kepada Rabbmu kamu berharap.”

(Alquran Surah Al Insyirah ayat 7 s.d.8).

Selesai menunaikan ibadah saum Ramadan yang diakhiri Idulfitri, telah menunggu ibadah saum lain yang bernilai tinggi. Saum enam hari bulan Syawal. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim r.a., Nabi Muhammad saw bersabda,”Barang siapa bersaum pada bulan Ramadan, kemudian diikuti dengan saum enam hari pada bulan Syawal, seolah-olah berpuasa sepanjang masa.”

Para hukama (ulama ahli hikmah) menyebutkan, saum setiap Muslim yang dilakukan penuh keimanan dan keikhlasan semata-mata mengharap rida Allah, mendapat pahala sepuluh kali lipat. Saum Ramadan sebulan, mendapat nilai saum sepuluh bulan, dan saum enam hari bulan Syawal, mendapat nilai 60 hari (dua bulan). Maka saum Ramadan ditambah saum enam hari bulan Syawal, sebanding dengan saum selama 12 bulan (satu tahun). Jika dilaksanakan setiap tahun, berarti setara dengan saum sepanjang masa.

Mengenai pelaksanaan saum enam hari bulan Syawal, ada yang menganggap lebih afdlal sehari setelah Idulfitri, secara berturut-turut (2 s.d.7 Syawal). Ada juga yang menganggap boleh kapan saja, selama bulan Syawal tahun itu juga, baik secara berturut-turut (misalnya 10 s.d. 15 Syawal, 20 s.d.25 Syawal, dan seterusnya), maupun terpencar-pencar. Yang penting masih pada bulan Syawal.

Adapun hikmah dan manfaat saum enam hari bulan Syawal, antara lain :

1. Menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang dialami pada saum fardu. Ibarat salat sunnah rawatib sesudah atau sebelum salat fardlu,
2. Mensyukuri nikmat-nikmat Allah SWT selama Ramadan yang penuh berkah,
3. Mendekatkan diri kepada Allah SWT tanpa terputus.
4. Kesinambungan ibadah yang lengkap.

Anjuran saum enam hari bulan Syawal, diutamakan bagi orang-orang yang saum Ramadannya sempurna. Tidak terganggu halangan batal, akibat sakit, bepergian, atau hal lain yang diperbolehkan aturan syara’ (hukum). Bagi orang-orang yang pernah batal saum Ramadan, lebih baik membayar dulu “tunggakannya” (qadla) daripada saum enam hari bulan Syawal. *

*) Wartawan Senior Pikiran Rakyat

Tags :
Konfirmasi Donasi
id_IDBahasa Indonesia
en_USEnglish id_IDBahasa Indonesia