TAWASSUL YANG BOLEH DAN TERLARANG

BERDOA_Banyak orang menggunakan perantara dalam berdoa. Salah satu alasannya adalah supaya doa cepat terkabul. Namun, meski ber-tawassul (menggunakan perantara dalam berdoa) dikenal Islam, tidak semua boleh dilakukan. Waspadai tawassul terlarang yang bisa mengantarkan pada syirik.

Pada dasarnya setiap manusia mempunyai fitrah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Fitrah tersebut bisa muncul dan diekspresikan dengan pengabdian dan ketaatan kepada-Nya namun bisa pula tenggelam akibat tertutup dan terkalahkan oleh keangkuhan, cinta dunia, dan kemalasan.

Kemunculan fitrah yang paling minimal adalah saat seseorang merasakan kebutuhan yang amat besar terhadap pertolongan Allah saat dia dihimpit persoalan hidup. Saat itu dia ingin dekat kepada Allah agar mendapat pertolongan-Nya. Inilah yang digambarkan Allah dalam ayat-Nya: “Dialah Tuhan yang menjadikan Kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): “Sesungguhnya jika engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur”. (QS Yunus: 22)

Dalam memohon kepada Allah, ada orang yang kelewat pede sehingga tidak merasa perlu mempersembahkan sesuatu apa pun kepada-Nya, bahkan dia berani melakukan pelanggaran dan penistaan terhadap ajaran-Nya. Padahal Allah sudah menegaskan aturan baku agar Allah mengabulkan permohonan manusia. Yaitu manusia harus memenuhi perintah-Nya. Hal ini dijelaskan-Nya dengan firman-Nya: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS Al-Baqarah: 186)

Rasulullah saw pun sudah menjelaskan tentang orang yang memohon kepada Allah sembari melakukan pelanggaran dan kemaksiatan ini. Dalam sebuah hadits diriwayatkan, ”Kemudian Rasulullah saw menerangkan tentang orang yang mengadakan perjalanan panjang, (tubuhnya) kusut masai dan berdebu. Ia menengadahkan kedua tangannya (berdoa) ke langit (sambil mengatakan): ya Rabbi, ya Rabbi, sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi makan dari yang haram, lantas bagaimana doanya akan dikabulkan.” (HR Muslim)

Tetapi sebaliknya ada juga yang begitu kurang pede-nya sehingga menganggap tidak afdhal jika berdoa langsung kepada Allah. Ia merasa perlu untuk memakai perantara (wasilah) dengan orang-orang yang sudah meninggal dunia, yang diyakini keshalihannya, untuk bisa mendekatkan diri dan memohon kepada Allah. Cara memohon kepada Allah dengan memakai perantara ini disebut tawassul. Lalu bagaimana hukumnya menurut aqidah Islam?

Menurut aqidah Islam ada tawassul yang dibenarkan (at-tawasul al-masyru’) dan ada tawassul terlarang (at-tawassul al-mamnu’). Ada pun tawassul yang dibenarkan adalah:

1. Tawassul dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala

Artinya menjadikan nama-nama dan sifat-sifat-Nya sebagai perantara untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah dan semakin membuka peluang terkabulnya doa-doa. Itu dilakukan dengan cara kita menyebut nama-nama atau sifat-sifat Allah sebelum kita menyampaikan permohonan kita. Allah swt berfirman:“Hanya milik Allah asmaulhusna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaaulhusna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS Al-A’raf: 180)

Di antara doa yang diajarkan Rasulullah saw adalah: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan Maha Mulia, Engkau mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.” (At-Tirmidzi)

Dalam doa di atas, sebelum Rasulullah saw memanjatkan permohonan maaf, beliau mengawali dengan menyebut beberapa sifat Allah yakni ‘afuwwun (Maha Pemaaf) dan kariimun (Maha Mulia). Dan begitulah kita dapat berdoa kepada Allah, termasuk dengan kalimat yang kita rangkai sendiri.

2. Tawassul dengan iman dan amal shalih yang dilakukan sendiri.

Yaitu mendekatkan diri dan berdoa kepada Allah dengan cara mengemukakan keimanan atau amal shalih yang sudah kita lakukan. Ini bisa dilakukan pertama, dalam rangka mendapatkan ridho Allah dan kedua, agar Allah mengabulkan doa.

Untuk contoh yang pertama bisa dilihat dalam Quran: “Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti Rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah)”. (QS Ali Imran: 53)

Contoh kedua pernah dijelaskan Rasulullah saw dalam haditsnya yang menceritakan adanya tiga orang yang melakukan perjalanan. Ketika malam tiba, mereka bernaung untuk beristirahat di sebuah gua. Saat berada di dalam gua, musibah pun menimpa mereka. Sebuah batu besar menggelinding dari atas dan menutup persis mulut gua itu. Mereka tidak bisa keluar dan tenaga mereka bertiga tidak cukup kuat untuk menggeser batu itu.

Lalu salah seorang di antara mereka berkata, “Tidak ada yang akan menyelamatkan kalian selain kalian berdoa kepada Allah dengan perantaraan amal shalih kalian.” Maka mulailah satu persatu mereka menyebutkan amal shalih masing-masing seraya memohon kepada Allah untuk menyelamatkan mereka dari himpitan batu itu.

Ada yang menyebutkan perbuatan baik kepada orangtuanya, lalu batu itu pun bergeser sedikit. Yang kedua penyebutkan perbuatan baik mengurungkan perbuatan zina dengan gadis sepupunya yang tinggal selangkah lagi. Maka batu itu pun bergeser lagi sedikit tapi belum memungkinkan mereka meloloskan diri. Orang terakhir menyebutkan kebaikan yang pernah dia lakukan kepada pekerjanya, hingga batu itu bergeser dengan menyisakan ruang yang cukup bagi mereka untuk keluar dari gua.

Setiap kali sesudah menyebutkan amal shalih, mereka pun memohon kepada Allah, “Ya Allah, jika apa yang telah kulakukan itu adalah karena-Mu maka lepaskanlah aku dari himpitan ini.”

3. Tawassul dengan meminta didoakan oleh orang shalih yang masih hidup.

Ketika terjadi kekeringan yang dahsyat, para sahabat mendatangi Rasulullah saw seraya meminta beliau berdoa kepada Allah agar menurunkan hujan dan menyelamatkan kehidupan mereka. Saat peristiwa itu terjadi lagi dan Rasulullah saw sudah wafat, mereka datang kepada Al-‘Abbas –semoga Allah meridhoinya – untuk meminta hal serupa.

Saat Umar bin Khattab berpamitan kepada Rasulullah saw untuk melakukan umrah, Rasulullah saw juga pernah mengatakan kepadanya, “Saudaraku, jangan lupa doakan kami.” Begitu pula Umar bin Khattab juga pernah meminta kepada Uwais Al-Qarni, salah seorang tabi’in, agar memintakan ampun baginya kepada Allah swt.

Nah, selain dengan ketiga hal itu maka segala tawassul termasuk hal yang terlarang dan merupakan perbuatan yang dapat mengantarkan seseorang kepada kemusyrikan. Misalnya bertawassul dengan jah (wibawa) orang tertentu yang sudah meninggal dunia dengan mengatakan, “Ya Allah aku memohon kepada-Mu dengan jah Syaikh Abdul-Qadir Jailani.”

Jika cara ini merupakan cara yang benar, niscaya para sahabat dahulu akan pergi ke kubur manusia terbaik dan rasul paling mulia yakni Rasulullah saw saat mereka menghadapi persoalan.

Sumber: ummi-online.com

Tags :
Konfirmasi Donasi