TEROR MAYA WIKILEAKS

Oleh Yanuardi Syukur

“Dan saya menikmati menghancurkan para bajingan. Ini adalah pekerjaan menyenangkan” (Julian Assange).

Dunia heboh akibat ulah Wikileaks. Situs yang mempublikasikan dokumen-dokumen rahasia dari Pemerintah AS itu membuat geger dunia. Menurut pendirinya yang juga mantan wartawan itu, Julian Assange, semua dokumen yang bocor ke wilayah publik itu merupakan “kebusukan para pemimpin dunia dari Bahrain sampai Brazil.”

Kehadiran situs yang bermarkas di Swedia ini menyisakan banyak dugaan. Ada yang mensinyalir bahwa ini adalah bagian dari rekayasa Pemerintah Amerika sendiri seperti yang diyakini oleh Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad. Ada juga yang melihat bahwa ini “kerjaan”-nya Yahudi yang bertujuan menciptakan kegamangan di dunia, dan pada akhirnya nanti (catatan: dokumen rahasia Israel tak ada dalam situs ini) Israel akan dielu-elukan sebagai solusi. Selain itu, kalangan lain menganggap bahwa ini adalah gerakan non-pemerintah yang berkekuatan canggih dan mampu menembus file-file rahasia pemerintah adikuasa itu.

Motifnya Apa?

Wikileaks yang berdiri pada 2006 itu memiliki visi untuk membuka ketidakadilan. Dalam wawancaranya dengan Der Spiegel, Assange berkata, “reformasi hanya bisa terjadi ketika ketidakadilan dieskpos.” Artinya bahwa, di dunia kita sekarang banyak sekali ketidakadilan yang dilakukan oleh pemerintah (terutama AS) dan itu harus diekspos agar publik mengetahuinya dan dapat bertindak dengan semestinya atau dalam bahasa Assange, “tindakan yang masuk akal.”

Membuka “aib” atau “bocoran” (leaks) yang rahasia termasuk perbuatan yang berani. Pada akhirnya, seperti yang diberitakan banyak media massa, lelaki 39 tahun itu dikejar-kejar oleh interpol dan agen dari beberapa negara. Tapi, sebagai “penonton” opera teror maya itu, kita juga bisa bertanya, “kenapa sekuritas Amerika yang begitu kuat bisa bocor oleh sebuah situs?” Wikileaks, seperti juga al-Qaeda, bukanlah sebuah negara besar yang punya kekuatan militer, tapi kemampuan mereka sehingga bisa mendapatkan akses pada dokumen-dokumen itu yang luar biasa.

Motif lain yang ingin dipertontonkan oleh Wikileaks dengan situsnya yang berpindah-pindah server itu (saat ini menggunakan tiga server: Jerman [.de], Finlandia [.fi], dan Belanda [.nl]), adalah untuk mengadu domba Timur Tengah. Dalam sebuah dokumen yang mereka rilis terlihat bahwa Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Saud al-Faisal, pernah mengusulkan kepada Duta Besar AS untuk Irak, David Satterfield. Usulan Saud adalah agar serangan militer negara Arab itu didukung oleh tentara AS, kekuatan udara, dan kekuatan laut NATO. Jika rilis ini benar, berarti ada upaya untuk membenturkan kekuatan sunni yang dipegang oleh Saudi dengan syi’ah yang ada di Lebanon. Pada akhirnya, dokumen ini bisa menjadi politik pecah belah kekuatan Islam di Timur Tengah.

Selain itu, yang muncul lainnya adalah tumbuhnya resistensi terhadap AS. Dalam salah satu dokumennya, Wikileaks juga merilis sebuah nota perintah dari Menlu AS Hillary Clinton agar memata-matai Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). pada Juli 2010, Clinton memerintahkan untuk mencari rincian soal sistem komunikasi pejabat PBB. Termasuk dalam hal ini adalah password, dan kode-kode untuk jaringan komunikasi mereka. Bocoran yang dimuat The New York Times di AS dan The Guardian di Inggris mengungkapkan para diplomat AS diminta untuk mencari informasi seputar pejabat PBB atau utusan dari negara-negara penting di dunia. Disebutkan juga kalau agen-agen CIA disusupkan ke Kedubes AS di Afrika, Timur Tengah, Eropa Timur, Amerika Latin dan PBB.

Kalau dokumen ini benar (bisa jadi benar karena Clinton sepertinya “kebakaran jenggot” dengan rilis itu), maka nyata sudah bahwa AS memiliki standar ganda (double standard) dalam diplomasinya. Di satu sisi ia bersahabat, ia adalah teman dari seluruh negara di dunia, tapi di sisi lain (belakangnya), ada upaya tertentu untuk melakukan spionase terhadap “kawan”-nya sendiri. Di mata negara lain, hal ini bisa menurunkan popularitas dan kepercayaan negara lain terhadap AS.

Pion Yahudi?

Ada keyakinan umum selama ini bahwa AS adalah negara terkuat di dunia ini. Sebagai negara yang memposisikan diri sebagai polisi dunia, AS betul-betul menunjukkan keperkasaannya saat berhadapan dengan musuh. Jejak darah mereka dalam memberangus beberapa negara di Timur Tengah adalah contoh nyata betapa kekuatan AS betul-betul all out dalam menyerang sebuah kekuatan yang dianggap sebagai “evil” (setan).

Akan tetapi, kenapa bisa dokumen rahasia mereka terpublikasi luas? Dengan akal sederhana, kita pasti berpikir bahwa ini adalah pekerjaan-nya kelompok yang lebih kuat dari AS itu sendiri. Siapakah di dunia yang kekuatannya di atas AS itu? Artinya, kalau dokumen itu bukan dibocorkan oleh Pemerintah AS sendiri (seperti kata Ahmadinejad), maka bisa jadi leaks (bocoran-bocoran) itu berasal dari kekuatan Zionis mengingat bahwa Zionisme dan lobi-lobinya yang tersebar di banyak negara (termasuk menguasai AS), memiliki kekuatan signifikan.

Hal ini semakin diperkuat dengan tidak adanya dokumen dalam Wikileaks yang merilis “dosa-dosa” pemerintah Israel. Karena kalau AS saja yang lebih “senior” (berdiri pada abad ke-18) ketimbang Israel (berdiri pada abad ke-20) bisa ditembus, maka apatah lagi dengan negara lainnya yang datang belakangan. Jadi, bisa jadi di balik Assange cs ini ada lobi Zionis yang begitu kuat dan ingin menghancurkan pelan-pelan negara AS. Walaupun mereka tinggal di Paman Sam, tapi Zionisme hatinya lebih cenderung ke negara Israel ketimbang loyalitas kepada AS.

Dalam analisa sementara, tampaknya asumsi bahwa “Yahudi berada di belakang Wikileaks” bisa jadi benar. Lembaganya yang bernama Open Society Institute, disinyalir berada dibalik itu. Dari namanya saja “Open Society” (Masyarakat Terbuka) yang berarti tak ada yang ditutupi terlihat ada kesamaan dengan visi Wikileaks. Soros disebut-sebut ikut berperan dalam menjatuhkan rezim-rezim otoritarian di hampir seluruh wilayah Eropa Timur. Polandia, Hungaria, Cekoslovakia, Serbia, dan bahkan perubahan politik di Rusia, tak terlepas dari tangan-tangan lelaki kaya berdarah Yahudi itu.

Jadi, gegernya dokumen-dokumen yang dipublikasikan Wikileaks yang pada faktanya turut berpengaruh terhadap tatanan diplomasi global, ini bisa jadi (asumsi sementara) dikendalikan oleh kekuatan Zionis yang bersebar dalam banyak bentuk. Seperti kata Mantan Menteri Kesehatan RI Siti Fadilah Supari dalam Kongres Kajian Zionisme Internasional di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah (Jakarta) 2009, bahwa gurita Zionisme Yahudi itu tersebar dalam banyak sisi: ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, kesehatan, termasuk dalam konteks ini di dunia penerbitan dunia nyata ataupun maya.

Artinya bahwa, hebohnya Wikileaks ini, pasti tak semata ditujukan untuk membuka dokumen. Sudah tentu ada efek lainnya yang diharapkan sebagai derivasi dari publikasi itu. Efek itu, jika kita lihat dalam konteks konspirasi gerakan Zionisme Yahudi adalah untuk menciptakan kegamangan atau kesimpangsiuran dunia yang pada akhirnya nanti akan muncul semacam—meminjam filosofi Jawa “satrio piningit” (Ratu Adil)—dari Yahudi yang bisa menjadi solusi dan diikuti oleh masyarakat dunia. Betulkah? Kita lihat perkembangannya.

http://yankoer.multiply.com

Tags :
Konfirmasi Donasi