Menjelang Hari Raya Idulfitri, pertanyaan tentang zakat fitrah sering kembali muncul. Salah satu yang paling sering ditanyakan adalah zakat fitrah yang dikeluarkan berbentuk apa. Pertanyaan ini wajar, karena praktik di masyarakat bisa berbeda-beda, sementara umat Islam ingin memastikan ibadahnya sesuai tuntunan syariat.
Secara umum, zakat fitrah merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang mampu. Zakat ini ditunaikan sebagai bentuk penyucian diri setelah menjalani ibadah puasa Ramadhan, sekaligus sebagai sarana berbagi kebahagiaan dengan sesama, khususnya mereka yang membutuhkan.
Baca juga : Zakat Fitrah Harus Ditunaikan Kapan? Ini Penjelasannya
Bentuk Zakat Fitrah Menurut Syariat Islam
Dalam hadis Nabi Muhammad SAW, zakat fitrah dicontohkan dalam bentuk makanan pokok yang biasa dikonsumsi masyarakat setempat. Pada masa Rasulullah SAW, zakat fitrah ditunaikan berupa gandum, kurma, atau makanan sejenis yang menjadi kebutuhan harian.
Dari penjelasan ini, para ulama menyimpulkan bahwa zakat fitrah pada dasarnya dikeluarkan dalam bentuk bahan makanan pokok. Ukurannya pun telah ditetapkan, yaitu satu sha’, yang jika dikonversikan setara kurang lebih 2,5–3 kilogram, tergantung jenis bahan makanannya.
Zakat Fitrah Beras atau Uang, Mana yang Dibolehkan?
Di Indonesia, beras menjadi makanan pokok mayoritas masyarakat. Karena itu, zakat fitrah umumnya ditunaikan dalam bentuk beras sesuai dengan ketentuan syariat. Praktik ini sejalan dengan pendapat mayoritas ulama yang menganjurkan zakat fitrah berupa makanan pokok.
Meski demikian, sebagian ulama membolehkan zakat fitrah ditunaikan dalam bentuk uang, dengan nilai yang setara harga makanan pokok tersebut. Pendapat ini mempertimbangkan kemaslahatan penerima zakat agar lebih mudah memenuhi kebutuhannya. Oleh sebab itu, pembayaran zakat fitrah dengan uang banyak diterapkan oleh lembaga zakat resmi di Indonesia seperti Rumah Zakat.
Ketentuan Zakat Fitrah di Indonesia
Di Indonesia, pengelolaan zakat fitrah mengikuti ketentuan yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama dan lembaga zakat nasional. Besaran zakat fitrah biasanya ditetapkan dalam bentuk beras atau nilai uang yang disesuaikan dengan harga pasar di masing-masing daerah.
Ketentuan ini bertujuan agar zakat fitrah tetap relevan dengan kondisi masyarakat, sekaligus memastikan manfaatnya benar-benar dirasakan oleh para mustahik. Dengan mengikuti panduan resmi, umat Islam dapat menunaikan kewajibannya dengan lebih tenang dan terarah.
Hikmah di Balik Zakat Fitrah
Zakat fitrah tidak hanya bernilai ibadah personal, tetapi juga memiliki dimensi sosial yang kuat. Melalui zakat fitrah, Islam mengajarkan kepedulian terhadap sesama, terutama mereka yang membutuhkan uluran tangan menjelang hari raya.
Dengan menunaikan zakat fitrah, seorang Muslim ikut memastikan bahwa kebahagiaan Idulfitri dapat dirasakan lebih merata. Inilah salah satu bentuk nyata dari semangat berbagi yang menjadi ruh ibadah di bulan Ramadhan.
Baca juga : Doa Zakat Fitrah: Bacaan Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Menunaikan Zakat Fitrah dengan Amanah
Agar zakat fitrah tersalurkan dengan tepat sasaran, penyaluran melalui lembaga terpercaya menjadi pilihan bijak. Rumah Zakat hadir membantu menyalurkan zakat fitrah dalam bentuk yang sesuai syariat, baik berupa beras maupun nilai setara, kepada mereka yang berhak menerimanya.


