Bukber Ramadhan, Tapi Shalat Magrib Terabaikan?

oleh | Feb 27, 2026 | Inspirasi

Ramadhan selalu hadir dengan suasana hangat. Undangan buka bersama berdatangan, grup percakapan kembali ramai, meja makan penuh hidangan. Silaturahmi terasa hidup, hati pun ikut senang.

Namun ada satu momen yang sering luput di tengah euforia itu, yaitu shalat Magrib. Adzan berkumandang, kurma sudah di tangan, obrolan belum selesai.

Nah, di artikel ini, Rumah Zakat akan mengajak untuk merenungkan kembali makna bukber agar tetap selaras dengan tujuan ibadah.

Melalaikan Shalat Magrib karena Bukber

Sebelum menikmati suasana kebersamaan, penting memahami posisi shalat Magrib dalam syariat.

Hukum Meninggalkan Shalat

Shalat Magrib adalah fardhu ‘ain bagi setiap Muslim yang baligh dan berakal. Allah SWT berfirman:

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا


“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”
(QS. An-Nisa: 103)

Sengaja meninggalkan shalat tanpa uzur syar’i termasuk dosa besar. Uzur itu pun terbatas, seperti safar jauh atau sakit parah. Bukber tentu bukan alasan syar’i.

Waktu Magrib yang Singkat

Berbeda dengan shalat lain, waktu Magrib relatif singkat. Rentangnya sejak matahari terbenam hingga masuk waktu Isya, yang dalam praktiknya sering hanya sekitar 10–20 menit sebelum langit benar-benar gelap.

Ketika waktu sesingkat itu diisi dengan antre makanan atau obrolan seru, tanpa sadar ia berlalu begitu saja.

Ironi Ibadah

Bukber bertujuan mempererat ukhuwah dan meraih pahala berbuka puasa. Namun jika shalat terlewat, tujuan itu justru berbalik arah. Ingin pahala, tetapi yang datang mudarat. Niatnya mendekat kepada Allah, tetapi praktiknya menjauh. Di sinilah letak ironi yang perlu direnungkan.

Baca Juga: Tidak Tarawih Saat Ramadhan, Apakah Puasa Tetap Diterima?

Penyebab Utama Shalat Magrib yang Terabaikan Saat Acara Bukber

Beberapa faktor sering menjadi pemicu lalainya shalat Magrib saat acara buka bersama.

  • Pemilihan Lokasi yang Kurang Tepat
    Tidak semua restoran atau pusat perbelanjaan memiliki mushola yang memadai. Ada yang sempit, ada pula yang lokasinya jauh dari area makan. Akibatnya, muncul rasa enggan karena harus berjalan cukup jauh atau antre panjang untuk berwudhu.

  • Euforia Obrolan
    Bukber sering menjadi ajang reuni. Cerita lama terangkat kembali, tawa pecah di berbagai sudut meja, sesi foto tak ada habisnya. Tanpa disadari, waktu berjalan cepat. Adzan terdengar sekilas, lalu tenggelam oleh percakapan.

  • Antrean Makanan
    Buffet panjang dengan hidangan favorit bisa mengalihkan fokus. Pikiran tertuju pada menu spesial yang cepat habis. Prioritas bergeser: takut kehabisan makanan, bukan takut kehilangan waktu shalat.

Baca Juga: 7 Menu Buka Puasa Sehat dan Praktis, Cocok untuk Keluarga!

Tips Bukber Lancar Tanpa Melewatkan Shalat Magrib

Agar kebersamaan tetap berpahala, ada beberapa langkah sederhana yang bisa diterapkan.

1. Pilih Lokasi “Ramah Sholat”

Utamakan hotel atau restoran yang memiliki mushola bersih dan cukup luas. Fasilitas wudhu yang layak juga sangat membantu. Lokasi yang mendukung akan memudahkan seluruh peserta bergerak bersama menuju shalat berjamaah.

2. Sholat Dulu Baru Makan Besar

Rasulullah SAW menganjurkan berbuka dengan yang ringan terlebih dahulu. Cukup kurma dan air. Setelah itu, shalat Magrib berjamaah. Usai shalat, barulah menikmati hidangan utama dengan tenang.

3. Pasang Alarm

Teknologi bisa menjadi pengingat kebaikan. Atur alarm lima menit sebelum Magrib dengan suara adzan. Langkah kecil ini sering menjadi penyelamat di tengah kesibukan.

3. Tunjuk “Alarm Berjalan”

Dalam satu kelompok, tunjuk satu orang sebagai pengingat waktu shalat. Satu kalimat sederhana seperti, “Mari shalat dulu,” bisa menjadi penentu arah seluruh rombongan.

Makna Sejati Silaturahmi dalam Islam

Silaturahmi memiliki keutamaan besar. Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.”
(HR. Muslim)

Namun silaturahmi tidak boleh melanggar syariat. Bukber yang ideal justru ditutup dengan shalat berjamaah, bukan diakhiri dengan kelalaian terhadap kewajiban. Kebersamaan yang diberkahi adalah yang mendekatkan kepada Allah, bukan sekadar mengenyangkan perut.

Kesimpulan

Jadi, bukber adalah tradisi indah di bulan Ramadhan. Ia menghangatkan hubungan dan menguatkan ukhuwah. Namun shalat Magrib tetap prioritas utama yang tidak boleh tergeser oleh suasana atau hidangan.

Dengan memilih lokasi yang tepat, berbuka ringan lalu shalat berjamaah, serta saling mengingatkan, bukber dapat menjadi momen penuh pahala tanpa kehilangan esensi ibadah. Semoga setiap kebersamaan di bulan suci juga diiringi semangat berbagi melalui zakat, infak, dan sedekah bersama Rumah Zakat agar keberkahan Ramadhan semakin luas dirasakan sesama.

Kalkulator Zakat

Hitung zakat Anda secara akurat dengan kalkulator zakat kami

Donatur Care

Silakan cek riwayat donasi Anda disini

Link Terkait