DIARY EKSPEDISI BHAKTI PMK 2016 (2) : BAHAGIA KUNJUNGI SAUDARA MUSLIM DI PULAU WETAR, MALUKU BARAT DAYA

DIARY EKSPEDISI BHAKTI PMK 2016 (2)  BAHAGIA MENGUNJUNGI SAUDARA MUSLIM DI PULAU WETAR, MALUKU BARAT DAYAMALUKU. Tak terasa, 2 hari sudah Tim Ekspedisi Bhakti PMK 2016 berlayar sejak lepas lego dari Pulau Bajo pada hari Jumat (06/02) lalu. Di Ahad (08/05) pagi yang cerah, akhirnya KRI BANDA ACEH merapat di lautan Pulau Wetar, Maluku Barat Daya.

Pulau Wetar, atau terkenal dengan sebutan Pulau Babi ini mayoritas penduduknya beragama Kristen. Pulaunya subur, kontur tanahnya berbukit-bukit dengan pemandangan hijau yang asri. Dari hijaunya pemandangan, kita bisa tahu bahwa Pulau Wetar adalah pulau yang subur, ini berbeda dengan Pulau Bajo sebelumnya yang terlihat tandus dan kering.

Pulau Wetar memiliki kontur laut yang sangat landai dan langsung curam hingga kedalaman 200 meter. Air lautnya sangat biru dan jernih, saking jernihnya, ikan layang-layang yang sedang asyik berenang bisa kita lihat dengan jelas di bibir dermaga.

Selain dipenuhi berbagai keindahan alam, Pulau Wetar juga penuh dengan mitos dan intrik ilmu sihir… hehehe… setidaknya itu yang diceritakan masyarakat setempat. Jika di Pulau Jawa yang mayoritas penduduknya Muslim, kita tak pernah menjumpai Babi yang berkeliaran bahkan kita juga sulit menjumpai warga yang memelihara Babi, tapi di sini, Babi berkeliaran di pemukiman warga layaknya ayam yang berkeliaran di sekitaran rumah untuk mencari makan.

Sebagian besar penduduk Pulau Wetar adalah nelayan dan petani Kopra, karenanya tak heran saat Relawan RZ mengelilingi perkampungan, banyak dijumpai pohon Kopra yang menjulang tinggi. Pulau ini udaranya sejuk, sepanjang jalan penuh dengan pepohonan hijau. Jadi, meski Relawan RZ harus berjalan jauh untuk mendistribusikan bantuan, tidak kepanasan dan tidak kepayahan.

Oh ya, penduduk Pulau Wetar memiliki sebuah tambang emas yang berada di bagian barat pulau. Selain tambang emas, di Pulau Wetar juga ada banyak rawa yang berisikan buaya-buaya besar. Kabarnya, tak sedikit warga yang menjadi korban keganasan buaya-buaya air asin itu.

Ketika Tim Ekspedisi sampai di sebuah desa bernama Ilwaki, tim disambut dengan sebuah tarian dan nyanyian penyambutan khas penduduk setempat. Penduduk yang mayoritas Kristen ini menyambut Relawan dengan sangat ramah. Anak-anak berkumpul, bersorak-sorak menyambut kedatangan Tim Ekspedisi. Di Pulau Wetar ini, penyambutan dilakukan di Gereja Robotos.

Selepas ceremony penyambutan, Relawan RZ langsung menuju ke SD Ilwaki untuk mengadakan program Pelajar Siaga Bencana (PSB). Relawan RZ menggunakan metode mendongeng untuk menjelaskan tentang bencana alam dan bagaimana cara menjaga kelestarian alam Pulau Wetar, seperti tidak membuang sampah sembarangan terutama ke laut, karena hal itu akan membuat laut tercemar dan banyak ikan mati. Dalam kegiatan itu, Relawan RZ juga bersinergi dengan Baznas menyuguhkan pertunjukkan sulap dengan trik-trik sederhana untuk menghibur anak-anak. Dan hiburan ini cukup berhasil membuat semakin banyak anak yang ikut berkumpul mengurumi Relawan, apalagi Relawan RZ juga memberikan hadiah-hadiah berupa tempat makan dan tempat minum. Jadilah, anak-anak makin semangat mengikuti program PSB.

Menjelang waktu Dzuhur, semua agenda hari pertama di Pulau Wetar telah selesai, dan saat Relawan RZ sedang berkeliling kampung untuk mencari tempat Shalat, mereka bertemu dengan dua orang muslimah setempat di sekitaran SD Ilwaki. Relawan pun segera meminta izin untuk ikut shalat di rumah mereka, kedua muslimah yang merupakan Ibu dan anak menyambut relawan di rumahnya dengan sangat bahagia.

Di rumah muslimah yang bernama Siti Rahamseisa ini, Relawan berkumpul dan bercerita panjang lebar tentang kondisi muslim di Pulau Wetar. Relawan RZ memanggil Ibu Siti dengan sebutan, Mama dan memanggil anak beliau dengan sebutan Buk Nur. Mama menceritakan bagaimana perjuangan almarhum suami beliau saat merukunkan umat muslim yang minoritas dengan umat Kristiani yang mayoritas serta  bagaimana mereka berjuang untuk shalat berjamaah disaat mereka tak punya mushala satu pun. Mama menceritakan semua itu sembari meneteskan air mata, hal ini membuat Relawan ikut terharu.

Suami Mama meninggal ketika mereka sedang berusaha membangun sebuah mushala kecil untuk shalat berjamaah dan sekaligus sebagai tempat anak-anak belajar mengaji. Suami beliau adalah seorang koramil, dan sepeninggal beliau, usaha untuk mendirikan mushala menjadi tersendat sampai sekarang.

Relawan RZ memberikan kornet Superqurban untuk Mama dan warga di sekitar. Sayang, di hari pertama penyaluran, Relawan RZ tidak membawa Al-Qur’an saat aksi, karena informasi sebelumnya menyebutkan bahwa di Pulau Wetar tidak ada muslim satu pun. Hal ini membuat Relawan RZ benar-benar menyesal, karena agenda di Pulau Wetar hanya satu hari, sehingga tak mungkin kembali ke Ilwaki.

Setelah jamuan makan di rumah Mama, Relawan RZ pun mohon pamit untuk kembali ke KRI BANDA ACEH di dermaga Wetar. Mama melepas Relawan dengan sedih sampai meneteskan air mata. Tapi meski begitu, Mama menyampaikan bahwa beliau sangat bahagia dikunjungi saudara muslim yang datang dari jauh.

Saat Relawan RZ akan masuk ke dalam truk yang akan membawa tim ekspedisi ke Dermaga Wetar, salah satu Relawan RZ menceritakan tentang Mama dan kondisi Muslim di Wetar kepada Ketua PMK. Alhamdulillah, langsung direspon dengan baik, dan diputuskan bahwa besok mereka akan kembali ke Wetar, tepatnya ke Desa Ilwaki. Relawan RZ diminta membawa semua Al-Qur’an untuk diberikan kepada Mama Siti agar didistribusikan kepada seluruh warga muslim di sana.

Relawan RZ sangat bahagia dengan keputusan itu. Mereka pun langsung turun dari truk dan segera kembali ke rumah Mama yang kebetulan terletak di pesisir. Relawan menyampaikan bahwa besok mereka akan kembali ke Ilwaki dengan membawa Al-Qur’an. Mama meneteskan air mata karena senang.

Keesokan harinya (09/05), Relawan RZ kembali ke Wetar, tepatnya ke desa Ilwaki dengan membawa Al-Qur’an. Hari itu, Relawan menyempatkan diri untuk mengunjungi warga muslim Wetar. Rasa bahagia sekaligus haru menyeruak saat bertemu mereka. Mereka menyambut Relawan RZ layaknya saudara mereka yang pulang merantau dari sebrang. Bapak-bapak memeluk relawan satu per satu, mengucapkan salam dan menyampaikan terima kasih karena sudah berkunjung.

Mama Siti mengajak Relawan RZ untuk melihat mushala kecil yang diceritakan kemarin. Mushola yang belum sempurna pembangunannya, karena hanya ada atap saja tanpa dinding. Warga muslim Wetar bercerita bagaimana mereka berjuang untuk bisa berkumpul dan shalat berjamaah di mushola ini. Bahkan agar bisa shalat idul fitri atau idul adha berjamaah, sebagian warga ada yang sampai berjalan seharian untuk tiba di desa Ilwaki. Itu pun, sebagian tidak bisa shalat di mushola karena tidak cukup, biasanya, mereka yang tidak kebagian shalat di mushala akan shalat di bawah pohon ketapang. Mungkin bagi kita yang tinggal di daerah yang mayoritas muslim dengan masjid yang berdiri megah di mana-mana, tak bisa membayangkan perjuangan mereka. Malah, kita yang katanya orang kota, yang rumahnya dekat dengan masjid saja masih ogah-ogahan untuk shalat berjamaah di masjid.

Di Pulau Wetar tidak ada Ustadz atau Ulama yang khusus mengajarkan tentang Islam. Yang mengajari masyarakat tentang Islam justru tentara koramil dan polisi muslim yang mendapat penugasan di Wetar. Mereka  mengajari anak-anak Wetar mengaji di sore hari ketika tidak ada tugas dinas. MasyaAllah… luar biasa para tentara dan polisi yang ditugaskan ke pelosok-pelosok ini, tak hanya melaksanakan misi Negara, mereka pun menyebarkan Islam. Semoga Allah selalu  melindungi mereka dan memudahkan semua urusan mereka. Aamiin

Menjelang siang, Relawan RZ pamit kembali ke KRI BANDA ACEH karena harus segera berlayar lagi menuju Pulau Saumlaki di Maluku Tenggara Barat. Mama Siti melepas Relawan RZ dengan berat hati. Beliau kembali mengucapkan rasa terima kasihnya yang sangat besar atas bantuan yang diberikan.

Sampai jumpa, Mama Siti dan saudara Muslim Wetar. Semoga kalian selalu diberkahi. 🙂

Newsroom/Ria Arianti
Maluku

Tags :
Konfirmasi Donasi