Tapanuli Tengah, 4 Februari 2026 — Dua bulan setelah banjir bandang menerjang pemukiman warga, dampaknya masih terasa nyata. Di Lingkungan 1 Lopian, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah, sejumlah keluarga masih bertahan dalam keterbatasan. Rumah yang sebelumnya menjadi tempat berlindung kini hancur, hanyut bersama derasnya air dan lumpur.
Salah satu kisah datang dari keluarga Kasrul Harifah, warga Dusun 1 Lopian. Ia bersama delapan anggota keluarga dari tiga kepala keluarga terpaksa tinggal di tenda darurat sejak rumah permanen mereka rusak total. Bahkan, tidak ada barang yang berhasil diselamatkan saat bencana terjadi.
“Banjir mengangkat rumah kami dari tempatnya, terseret jauh. Tidak ada barang yang tersisa,” tuturnya lirih.
Sebelum bencana, Kasrul bekerja sebagai nelayan. Namun, setelah banjir melanda, peralatan melautnya hilang sehingga mata pencaharian pun terhenti. Akibatnya, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, keluarga ini hanya mengandalkan bantuan dari para relawan.

Huntara Hadir sebagai Solusi Hunian Sementara
Di tengah kondisi tersebut, harapan perlahan mulai tumbuh. Sebagai bentuk kepedulian terhadap warga terdampak, Damkar Swasta Pontianak menyalurkan bantuan melalui Rumah Zakat berupa 1 unit Hunian Sementara (Huntara) semi permanen berbahan baja hollow.
Penyaluran bantuan ini dilaksanakan pada 4 Februari 2026 di Lingkungan 1 Lopian, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah, dengan dukungan 6 relawan Rumah Zakat. Huntara tersebut diperuntukkan bagi satu keluarga terdampak yang terdiri dari enam jiwa.
Dengan adanya hunian sementara ini, keluarga penyintas memiliki tempat tinggal yang lebih aman dan layak dibandingkan tenda darurat. Selain itu, huntara menjadi ruang bernaung yang memberikan rasa tenang, terutama saat hujan turun.

Simbol Kepedulian dan Awal Kebangkitan
Bagi keluarga Kasrul, huntara bukan sekadar bangunan sementara. Lebih dari itu, hunian ini menjadi simbol bahwa mereka tidak sendirian menghadapi ujian berat pascabencana.
“Saya sangat berterima kasih atas bantuan Hunian Sementara ini. Semoga warga lainnya juga bisa mendapatkan bantuan serupa, karena rata-rata rumah di sini sudah tidak bisa dihuni lagi,” ungkap Kasrul.
Kini, dari ruang sederhana tersebut, keluarga penyintas mulai menata kembali kehidupan. Anak-anak dapat beristirahat dengan lebih nyaman, sementara orang tua memiliki rasa aman untuk melanjutkan aktivitas sehari-hari.
Melalui kolaborasi kebaikan antara mitra dan Rumah Zakat, diharapkan semakin banyak penyintas banjir Tapanuli Tengah yang memperoleh hunian layak. Dengan demikian, mereka dapat bangkit dan menatap masa depan dengan harapan baru.
Sahabat, yuk terus peduli dan berbagi bersama Rumah Zakat.
Newsroom
Muhammad Rizal Rahman


