KEELOKAN WAJAH

OLEH WISNU TANGGAP PRABOWO

Keelokan wajah adalah di antara nikmat Allah yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Namun demikian, itu tidaklah esensial. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR Muslim).

Sementara itu, Abu Lahab adalah paman Nabi yang selain memiliki nasab mulia juga seorang laki-laki yang tampan. Namun, Allah SWT telah menurunkan surah khusus untuk mencelanya. Adapun Bilal, seorang budak berkulit hitam yang tentu berbeda profilnya dengan Abu Lahab, telah Rasulullah SAW kabarkan akan memasuki surga.

Dalam penggalan sebuah hadis, Nabi bersabda kepada Bilal, “Sungguh semalam aku memasuki surga. Aku mendengar derap suaramu (suara sandalnya–Red) di depanku.” (HR Hakim).

Terkadang seseorang diberi keelokan wajah sekaligus kemuliaan sebagaimana para Nabi. Nabi Yusuf, misalnya, Allah berfirman, “Tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum dengan keelokan wajahnya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata, ‘Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia’.” (QS Yusuf: 31).

Wajah Rasulullah pun tidaklah kalah elok. Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan, “Tidaklah Allah mengutus nabi kecuali berwajah tampan dan suaranya bagus. Dan nabi kalian Shallallahu ‘alaihi Wasallam adalah orang yang paling tampan wajahnya dan paling indah suaranya.” (Badai al-Fawaid).

Dari kalangan sahabat, Dihya bin Khalifah al-Kalbi merupakan di antara sahabat Nabi yang Allah berikan keelokan wajah. “Awwanah bin al-Hakam berkata, ‘Manusia yang paling tampan rupanya ialah seseorang yang Malaikat Jibril Alaihissallam datang dalam bentuk rupanya, yakni Dihya’.” (Al-Ishabah, Ibnu Hajar).

Keelokan wajah adalah satu hal, tapi amalan lahiriah dan batiniah adalah dua hal yang jauh lebih esensial. Kemampuan dan kefasihan berbahasa Arab yang kemudian memudahkannya untuk membaca dan menghafal Alquran merupakan nikmat besar yang tidak Allah berikan kepada semua orang.

Namun demikian, meski seseorang memiliki semua nikmat di atas, Allah tetap Melihat kepada hati hamba-Nya; apakah ia ikhlas semuanya ditujukan dalam rangka beribadah kepada Allah ataukah digunakan untuk mencari keuntungan dunia atau hendak membuat perpecahan di kalangan manusia dengan makar dan adu domba.

Akhirnya, bentuk rupa bukanlah ukuran mengenai kualitas agama seseorang, sebab Allah sendiri hanya melihat kepada amalan dan hati. Dan di antara amalan untuk membuat wajah bersinar dan bercahaya adalah shalat malam, wudhu, dan utamanya hati yang selamat dari kesyirikan, kemunafikan, buruk sangka, hasad dan dengki. Wallahu a’lam.

sumber: republika.co.id

Tags :
Konfirmasi Donasi
id_IDBahasa Indonesia
en_USEnglish id_IDBahasa Indonesia