Ramadhan identik dengan kebersamaan. Meja makan yang ramai, suara azan yang disambut senyum keluarga, dan doa yang dipanjatkan bersama. Namun, ada anak-anak yang menyambut maghrib dengan suasana berbeda, sunyi, sederhana, dan penuh rindu.
Bagi anak yatim piatu, Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga menahan rasa kehilangan.
Nah, di artikel ini Rumah Zakat akan membahas bagaimana mereka menjalani bulan suci dengan ketabahan, serta bagaimana kepedulian dapat menghadirkan kembali senyum di wajah mereka melalui program kebaikan seperti yang diinisiasi Rumah Zakat.
Kerinduan di Balik Suasana Makan yang Sederhana
Di balik semarak Ramadhan, ada kisah Rohim. Sejak usia 1,5 tahun, ia telah menjadi yatim piatu. Setiap sore, Rohim duduk di gubuk reyotnya, menatap jam dinding kecil sambil menunggu azan maghrib.
Tanpa pelukan ibu atau suara ayah, ia membayangkan bagaimana rasanya sahur dibangunkan dengan lembut. Saat berbuka, yang ada hanya air putih dan makanan sederhana. Lapar memang bisa ditahan, tetapi rindu kepada orang tua sering terasa lebih berat.
Baca Juga: Kenapa Anak Yatim Piatu Nggak Masuk dalam 8 Asnaf Zakat?
Makna Ramadhan bagi Anak Yatim dalam Pandangan Islam
Islam memuliakan anak yatim dengan kedudukan istimewa. Ramadhan menjadi momentum memperkuat ketabahan dan tawakal, sekaligus membuka peluang pahala besar bagi yang peduli.
Rasulullah SAW bersabda:
“Aku dan orang yang menanggung anak yatim seperti ini di surga,” (HR. Bukhari dan Muslim) seraya beliau memberi isyarat dengan dua jari yang dirapatkan.
Hadis ini menegaskan bahwa menyantuni anak yatim bukan sekadar amal sosial, tetapi jalan menuju kedekatan dengan Rasulullah di surga.
Bagaimana Mereka Melewati Waktu Berbuka?
Realitas di lapangan menunjukkan, banyak anak yatim bertahan dengan takjil sederhana seperti kurma atau air putih. Sebagian bahkan menunggu bantuan dari tetangga atau komunitas sebelum akhirnya diasuh panti.
Di pesantren kilat atau program komunitas Ramadhan, mereka mengisi waktu dengan tadarus Al-Qur’an dan shalat berjamaah. Kekosongan karena kehilangan keluarga diganti dengan aktivitas ibadah yang menenangkan hati.
Apakah mereka tetap tersenyum? Ya, karena harapan selalu ada, meski dalam kesederhanaan.
Menghidupkan Kembali Senyum Mereka di Bulan Suci
Ramadhan adalah waktu terbaik untuk berbagi. Donasi kecil dapat membantu menyediakan paket buka puasa bergizi untuk anak yatim, berisi nasi kotak, kurma, dan air mineral.
Melalui program seperti “Berbagi Buka Puasa”, bantuan diantarkan langsung sebelum Idul Fitri. Tidak hanya makanan, tetapi juga baju Lebaran, mukena, hingga kado kecil yang membuat mereka merasa diperhatikan.
Langkahnya pun sederhana: kunjungi platform donasi resmi, seperti Rumah Zakat, tentukan nominal, lalu selesaikan pembayaran melalui transfer atau e-wallet. Bantuan akan disalurkan tepat waktu kepada yang membutuhkan.
Baca Juga: Tak Harus Menunggu Kaya! Sedekah Anak Yatim Bisa Dimulai dari Hal Sederhana
Kesimpulan
Jadi, Ramadhan tanpa orang tua adalah ujian yang berat bagi anak yatim piatu. Namun, di balik kesunyian itu tersimpan kekuatan hati dan harapan akan kasih sayang dari sesama.
Islam telah menempatkan anak yatim pada posisi yang mulia, dan bulan suci menjadi kesempatan untuk menghadirkan kebahagiaan bagi mereka. Melalui zakat, sedekah, dan donasi bersama Rumah Zakat, setiap kebaikan yang disalurkan dapat menjadi cahaya yang menghidupkan kembali senyum mereka di hari raya.

