Mengumbar Aurat di Sosmed, Masihkah Dianggap Biasa?

oleh | Feb 13, 2026 | Inspirasi

Media sosial hari ini seperti panggung raksasa tanpa tirai. Sekali unggah, ribuan pasang mata bisa melihat dalam hitungan detik. Pertanyaannya, ketika aurat dipertontonkan di ruang digital, apakah itu masih dianggap hal biasa?

Fenomena ini kerap dibungkus dengan istilah “ekspresi diri” atau “percaya diri”. Padahal dalam Islam, tubuh bukan sekadar identitas visual, melainkan amanah.

Nah, di artikel ini, Rumah Zakat akan membahas bagaimana Islam memandang aurat dan bagaimana bersikap bijak di tengah arus digital yang serba terbuka.

Hakikat Aurat dalam Pandangan Islam

Sebelum menilai tren, penting memahami fondasi syariat tentang aurat terlebih dahulu.

Islam telah menetapkan batasan aurat secara jelas. Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nur ayat 31:

وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

“Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman agar mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya) kecuali yang biasa terlihat.” (QS. An-Nur: 31)

Bagian tubuh yang wajib ditutup dari non-mahram, sebagaimana dijelaskan dalam QS. An-Nur:31.

Menutup aurat adalah perlindungan spiritual dari zina mata dan hati. Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah telah menetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, yang pasti ia akan mengalaminya. Zina kedua mata adalah melihat…” (HR. Bukhari dan Muslim).

Aurat laki-laki antara pusar hingga lutut, sedangkan perempuan seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan menurut mazhab Syafi’i.

Jadi, aurat bukan hanya soal kain yang menutup tubuh. Ia adalah penjaga kehormatan dan benteng ketakwaan.

Baca Juga: Hukum Tidak Mau Menutup Aurat Karena Gerah

Mengapa “Mengumbar” Menjadi Fenomena yang Biasa?

Lalu kenapa praktik membuka aurat di media sosial terasa makin lumrah?

Perubahan ini tidak terjadi tiba-tiba. Ada faktor psikologis dan sosial yang ikut bermain.

Beberapa penyebab yang sering terlihat:

  • Efek Dopamin
    Setiap notifikasi dan “like” memicu hormon bahagia di otak. Sensasinya menyenangkan dan bisa membuat ketagihan.

  • Normalisasi Kolektif
    Ketika influencer menjadikan gaya terbuka sebagai tren, perlahan itu dianggap standar baru.

  • FOMO (Fear of Missing Out)
    Rasa takut tertinggal dari arus sosial membuat sebagian orang rela mengikuti pola yang populer demi validasi.

Apakah semua ini murni kesalahan individu? Tidak sepenuhnya. Lingkungan digital memang dirancang untuk memicu atensi dan eksposur.

Bahaya Tersembunyi di Balik Jempol Netizen

Di balik layar ponsel, ada konsekuensi yang sering luput dari perhatian.

Sekali foto tersebar, ia bisa disimpan, disebarkan ulang, bahkan bertahan bertahun-tahun. Internet nyaris tidak mengenal kata “hapus total”.

Beberapa risiko yang perlu direnungkan:

  • Dosa Jariyah
    Konten yang membuka aurat bisa terus dilihat dan ditiru. Selama masih diakses, potensi dosa terus mengalir.

  • Penyakit ‘Ain
    Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Qalam ayat 51, yang artinya:
    “Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu hampir saja menjatuhkanmu dengan pandangan mereka…”
    Pandangan iri dan hasad bisa membawa dampak negatif secara spiritual.

  • Standar Kecantikan Palsu
    Filter dan edit berlebihan membentuk ilusi yang menciptakan rasa kurang dan rendah diri pada banyak orang.

Maka persoalannya bukan hanya soal tren, tetapi soal dampak jangka panjang bagi jiwa dan amal.

Baca Juga: Apakah Benar Suara Wanita Termasuk Aurat? Ini Penjelasannya!

Cara Bijak Ber-Sosmed Tanpa Kehilangan Syariat

Apakah berarti harus meninggalkan media sosial? Tidak selalu. Islam tidak melarang teknologi, tetapi mengatur penggunaannya.

Media sosial bisa menjadi ladang pahala jika digunakan dengan tepat.

Beberapa langkah bijak yang bisa diterapkan:

  • Filtrasi Konten
    Pilih akun yang memberi manfaat dan batasi paparan konten yang merusak.

  • Gunakan Privasi
    Foto keluarga atau momen pribadi lebih aman dibagikan kepada lingkup terbatas.

  • Kecantikan Batin (Inner Beauty)
    Mengunggah ilmu, kutipan Al-Qur’an, atau hadits jauh lebih bernilai dibanding sekadar pencitraan visual.

Apa yang diunggah hari ini bisa menjadi saksi di akhirat kelak. Bukankah lebih tenang jika yang tersimpan adalah kebaikan?

Kesimpulan

Jadi, mengumbar aurat di media sosial mungkin terlihat biasa karena sering dilakukan. Namun dalam pandangan Islam, aurat tetap memiliki batas yang jelas dan tujuan yang mulia: menjaga kehormatan dan ketakwaan.

Di era digital, kebijaksanaan menjadi kunci. Media sosial bisa menjadi ladang dosa, tetapi juga bisa berubah menjadi ladang pahala jika digunakan sesuai syariat.

Jika ingin menyeimbangkan kehidupan digital dengan amal nyata, menyalurkan zakat, infak, atau sedekah melalui Rumah Zakat dapat menjadi salah satu cara menghadirkan kebaikan yang terus mengalir.

Kalkulator Zakat

Hitung zakat Anda secara akurat dengan kalkulator zakat kami

Donatur Care

Silakan cek riwayat donasi Anda disini

Link Terkait