Menjaga lisan saat puasa adalah salah satu amalan penting yang sering kali dianggap sepele. Padahal, bukan hanya menahan lapar dan haus yang menjadi inti ibadah puasa, tetapi juga menjaga perkataan, sikap, dan perilaku agar tetap baik.
Banyak orang mampu menahan makan dan minum seharian penuh. Namun, di sisi lain, masih mudah terpancing emosi, bergosip, atau berkata kasar. Jika hal ini terjadi, pahala puasa bisa berkurang bahkan hilang tanpa disadari.
Karena itu, penting bagi setiap Muslim untuk memahami bagaimana cara menjaga lisan saat puasa agar ibadah yang dijalankan benar-benar bernilai di sisi Allah SWT.
Baca juga : Kesalahan Umum Saat Puasa Ramadhan yang Sering Tak Disadari
Puasa Bukan Sekadar Menahan Lapar dan Haus
Puasa Ramadhan memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar menahan diri dari makan dan minum. Ibadah ini melatih pengendalian diri secara menyeluruh, termasuk dalam berbicara.
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa ada orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan haus. Hal ini terjadi ketika seseorang tidak mampu menjaga ucapan dan perilakunya.
Oleh sebab itu, puasa adalah momen untuk memperbaiki akhlak, termasuk membiasakan diri berkata baik atau memilih diam jika tidak ada manfaat dalam pembicaraan.
Bahaya Tidak Menjaga Lisan Saat Puasa
Lisan adalah salah satu anggota tubuh yang paling mudah menjerumuskan seseorang pada dosa. Perkataan yang terucap bisa melukai hati orang lain, memicu konflik, dan menimbulkan permusuhan.
Beberapa bentuk kesalahan lisan yang sering terjadi saat puasa antara lain:
– Ghibah atau membicarakan keburukan orang lain
– Fitnah dan menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya
– Berkata kasar atau menghina
– Berdebat dengan emosi berlebihan
Meskipun perbuatan tersebut tidak membatalkan puasa secara hukum fikih, tetapi pahalanya dapat berkurang. Puasa yang seharusnya menjadi ladang pahala justru berubah menjadi sia-sia jika tidak disertai pengendalian diri.
Cara Menjaga Lisan Saat Puasa
Agar pahala tidak berkurang, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menjaga lisan saat puasa.
Pertama, biasakan berpikir sebelum berbicara. Tanyakan pada diri sendiri, apakah ucapan tersebut membawa manfaat atau justru menyakiti orang lain.
Kedua, perbanyak dzikir dan membaca Al-Qur’an. Ketika lisan sibuk dengan hal yang baik, peluang untuk berkata buruk akan semakin kecil.
Ketiga, hindari lingkungan yang memicu gosip dan perdebatan. Jika berada dalam situasi seperti itu, lebih baik mengalihkan pembicaraan atau memilih diam.
Keempat, kendalikan emosi. Saat merasa marah, ingatlah bahwa sedang berpuasa. Bahkan dianjurkan untuk mengatakan, “Saya sedang berpuasa,” sebagai bentuk pengingat diri.
Dengan latihan yang konsisten, menjaga lisan akan menjadi kebiasaan yang terbawa hingga setelah Ramadhan berakhir.
Dampak Positif Menjaga Lisan
Menjaga lisan saat puasa tidak hanya berdampak pada pahala, tetapi juga pada kualitas hubungan sosial. Orang yang terbiasa berkata baik akan lebih dihargai dan dipercaya.
Selain itu, hati menjadi lebih tenang karena tidak terbebani rasa bersalah akibat menyakiti orang lain. Puasa pun terasa lebih ringan dan bermakna.
Ramadhan adalah sekolah pengendalian diri. Jika selama sebulan penuh kita mampu menjaga lisan, maka kebiasaan baik tersebut akan lebih mudah dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari.
Puasa yang Berkualitas adalah Puasa yang Menjaga Akhlak
Menahan diri dari makan dan minum hanyalah bagian lahiriah dari puasa. Sementara itu, menjaga lisan adalah bagian batiniah yang menentukan kualitasnya.
Puasa yang berkualitas adalah puasa yang mampu membentuk pribadi yang lebih sabar, santun, dan bijak dalam berbicara. Dengan begitu, pahala yang diperoleh pun menjadi sempurna.
Jangan sampai kita bersungguh-sungguh menahan lapar, tetapi lalai menjaga ucapan. Karena satu kalimat yang menyakitkan bisa menghapus banyak pahala yang telah dikumpulkan sepanjang hari.
Baca juga : Rahasia Puasa Ramadhan yang Jarang Diketahui
Kesimpulan
Menjaga lisan saat puasa adalah kewajiban moral yang tidak boleh diabaikan. Puasa bukan hanya soal menahan lapar dan haus, melainkan juga menahan diri dari perkataan yang tidak baik.
Dengan berpikir sebelum berbicara, memperbanyak dzikir, serta mengendalikan emosi, pahala puasa dapat tetap terjaga. Ramadhan adalah kesempatan terbaik untuk melatih diri agar menjadi pribadi yang lebih baik dalam ucapan dan perbuatan.
Semoga kita termasuk orang-orang yang tidak hanya berpuasa secara fisik, tetapi juga menjaga lisan dan hati agar pahala tidak berkurang di sisi Allah SWT.
Sahabat, yuk terus peduli dan berbagi bersama Rumah Zakat.


