Tangisan bayi yang terus berulang, tubuh mendadak lemas, atau perubahan perilaku tanpa sebab medis sering membuat orang tua gelisah. Dalam Islam, kondisi seperti ini tidak selalu dipandang sebatas gangguan fisik semata.
Islam mengenal konsep ‘ain, yaitu gangguan yang bersumber dari pandangan iri dan dengki. Bayi menjadi pihak paling rentan karena masih memiliki benteng perlindungan yang lemah.
Nah, di artikel ini Rumah Zakat akan membahasnya lebih lanjut. Yuk, simak terus!
Apa Itu Penyakit ‘Ain?
Sebelum membahas pencegahan dan penyembuhannya, penting memahami apa sebenarnya penyakit ‘ain menurut Islam. Pemahaman yang tepat akan membantu orang tua bersikap bijak dan tidak berlebihan.
‘Ain adalah pengaruh buruk yang timbul dari pandangan mata yang disertai rasa iri atau dengki. Allah SWT berfirman:
وَإِن يَكَادُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ لَيُزْلِقُونَكَ بِأَبْصَـٰرِهِمْ
“Dan sungguh, orang-orang kafir itu hampir-hampir menggelincirkan engkau dengan pandangan mata mereka.” (QS. Al-Qalam: 51–52)
Rasulullah SAW juga menegaskan,
“Penyakit ‘ain itu benar adanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari sini jelas bahwa ‘ain bukan sekadar sugesti, melainkan gangguan yang bisa memengaruhi kondisi fisik dan psikis seseorang.
Baca Juga: Jarang Disadari! Kebiasaan Merendahkan Orang Lain dalam Islam
Mengapa Bayi dan Anak-anak Sangat Rentan?
Setelah memahami maknanya, muncul pertanyaan wajar: mengapa bayi sering disebut paling rawan terkena ‘ain? Jawabannya terletak pada kondisi fitrah dan perlindungan spiritual mereka.
Bayi memiliki aura yang bersih dan polos. Kondisi ini sering kali menarik perhatian, baik berupa kekaguman maupun iri yang tidak disadari. Di sisi lain, bayi belum memiliki kekuatan dzikir dan perlindungan iman sebagaimana orang dewasa.
Dalam riwayat Ahmad, disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah meruqyah cucunya ketika menunjukkan tanda-tanda gangguan. Ini menjadi isyarat bahwa ikhtiar perlindungan spiritual bagi anak adalah bagian dari sunnah, bukan bentuk berlebihan.
Ciri-ciri Bayi Terkena Penyakit ‘Ain
Mengenali tanda-tandanya sejak awal menjadi langkah penting agar orang tua dapat segera melakukan ikhtiar. Ciri ‘ain biasanya muncul tanpa sebab medis yang jelas.
- Menangis terus-menerus tidak wajar
Tangisan berlangsung lama dan sulit reda meski sudah digendong atau ditenangkan. - Tidak mau menyusu tanpa alasan medis
Bayi menolak ASI atau susu, disertai penurunan berat badan yang mendadak. - Perubahan fisik mendadak
Demam naik turun, ruam, tubuh lesu, bahkan kejang ringan tanpa riwayat sakit sebelumnya.
Jika tanda-tanda ini muncul, pemeriksaan medis tetap diperlukan, sembari dibarengi ikhtiar spiritual sesuai tuntunan Islam.
Cara Mencegah Penyakit ‘Ain pada Anak
Pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan. Islam memberikan panduan sederhana namun kuat untuk melindungi anak dari gangguan ‘ain.
- Membaca Doa Perlindungan
U‘idzuka bi kalimātillāhit-tāmmati min kulli syaiṭānin wa hāmmatin wa min kulli ‘ainil lāmmatin
Dibaca 3 kali, ditiupkan perlahan ke ubun-ubun bayi (HR. Abu Dawud). - Selektif Berbagi Foto
Menjaga privasi anak, menghindari pamer berlebihan, serta memperhatikan adab aurat bayi. - Membiasakan Dzikir Harian
Membaca Ayat Kursi dan 3 Qul setelah Subuh dan Maghrib sebagai benteng perlindungan.
Apakah langkah ini rumit? Justru sebaliknya, amalan sederhana ini menjadi pagar yang kuat jika dilakukan dengan istiqamah.
Ikhtiar Penyembuhan: Ruqyah Syari’ah
Jika tanda-tanda ‘ain sudah muncul, Islam menawarkan ruqyah syar’iyyah sebagai bentuk ikhtiar penyembuhan. Ruqyah bukan ritual mistis, melainkan doa dan bacaan Al-Qur’an.
Ruqyah dilakukan dengan membaca Al-Fatihah, Ayat Kursi, serta 3 Qul masing-masing 7 kali. Bacaan ditiupkan ke air, lalu diminumkan atau diusapkan ke tubuh bayi.
Amalan ini dapat diulang selama 3–7 hari, dibarengi dengan istighfar dan menjaga diri dari sikap pamer. Dengan izin Allah, kesembuhan datang secara bertahap dan menenangkan.
Baca Juga: Menilai Orang Lain dalam Islam: Bolehkah dan Apa Batasannya?
Kesimpulan
Jadi, penyakit ‘ain adalah bagian dari realitas yang diakui dalam Islam, dan bayi termasuk yang paling rentan mengalaminya. Dengan pemahaman yang tepat, pencegahan, serta ikhtiar ruqyah sesuai sunnah, orang tua dapat menjaga anak dengan lebih tenang dan seimbang.
Sebagai bentuk ikhtiar memperkuat perlindungan dan keberkahan keluarga, menyalurkan sedekah dan kebaikan melalui Rumah Zakat dapat menjadi jalan spiritual untuk menghadirkan ketenangan, perlindungan, dan keberkahan hidup.

