Setiap Ramadhan, pertanyaan ini hampir selalu muncul: jika tidak ikut Tarawih, apakah puasa tetap sah? Kekhawatiran seperti ini wajar, apalagi suasana bulan suci sering membuat hati ingin melakukan semuanya dengan sempurna.
Namun dalam fikih, setiap ibadah memiliki kedudukan dan hukum yang berbeda. Agar Ramadhan terasa lebih tenang dan fokus, Rumah Zakat akan akan membahasnya lebih lanjut. Yuk, simak terus!
Memahami Kedudukan Puasa dan Shalat Tarawih
Sebelum menilai sah atau tidaknya puasa, penting memahami posisi masing-masing ibadah dalam syariat.
Puasa Ramadhan adalah rukun Islam keempat. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa…”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Puasa wajib bagi muslim yang memenuhi syarat: berakal, baligh, suci dari haid dan nifas, serta berniat. Ia batal jika makan, minum, atau melakukan pembatal dengan sengaja di siang hari.
Adapun shalat Tarawih adalah sunnah muakkadah, sangat dianjurkan. Dilaksanakan setelah Isya pada malam Ramadhan, dengan jumlah rakaat yang dipraktikkan para sahabat antara 8 hingga 20 rakaat. Statusnya bukan fardhu seperti shalat lima waktu.
Baca Juga: Berapa Besar Pahala Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan?
Apakah Puasa Tetap Sah?
Jawabannya jelas: ya, puasa tetap sah meski tidak melaksanakan Tarawih.
Puasa dan Tarawih adalah dua ibadah yang terpisah, dengan rukun dan syarat berbeda. Meninggalkan Tarawih tidak membatalkan puasa, karena Tarawih bukan bagian dari rukun puasa.
Bahkan dalam kajian fikih dijelaskan, selama seseorang menunaikan puasa sesuai syarat dan rukun, maka puasanya sah secara lahiriah. Tarawih menambah pahala, tetapi bukan penentu sahnya puasa.
Kerugian Jika Melewatkan Shalat Tarawih
Meski tidak memengaruhi keabsahan puasa, ada beberapa keutamaan yang terlewat jika Tarawih ditinggalkan.
1. Kehilangan Peluang Ampunan Dosa
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa melaksanakan qiyam Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Qiyam Ramadhan mencakup Tarawih. Kesempatan penghapusan dosa masa lalu tentu menjadi karunia yang sayang dilewatkan.
2. Pahala Qiyamul Lail
Dalam hadits riwayat Tirmidzi, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa siapa yang shalat bersama imam hingga selesai, dicatat baginya pahala qiyam semalam penuh.
Shalat berjamaah sendiri memiliki keutamaan 27 derajat dibanding sendirian (HR. Bukhari dan Muslim). Bayangkan nilai pahala yang berlipat di bulan Ramadhan.
3. Kekuatan Spiritual
Tarawih bukan sekadar rakaat tambahan. Ia menghadirkan suasana khusyuk, silaturahmi di masjid, dan persiapan menuju Lailatul Qadar.
Tanpa qiyam malam, Ramadhan terasa lebih datar. Ada kekuatan ruhiyah yang berkurang, ketenangan jiwa, doa yang lebih panjang, dan tadabbur Al-Qur’an yang lebih mendalam.
Baca Juga: Cara Shalat Tarawih yang Benar Sesuai Sunnah
Udzur Syar’i dan Solusi bagi yang Berhalangan
Islam adalah agama yang penuh kemudahan. Ada kondisi tertentu yang memang menjadi uzur.
1. Tarawih di Rumah
Tarawih boleh dikerjakan di rumah, baik sendirian maupun bersama keluarga. Rasulullah SAW pernah melakukannya di rumah agar tidak dianggap wajib oleh umat. Pahalanya tetap ada, meski keutamaan berjamaah di masjid tentu lebih besar.
2. Bagi Wanita Haid/Nifas
Wanita yang sedang haid atau nifas diharamkan melaksanakan shalat, termasuk Tarawih. Namun mereka tetap wajib mengqadha puasa yang ditinggalkan, bukan shalatnya. Saat dalam keadaan suci dan berpuasa, ibadah puasanya tetap sah selama memenuhi syarat.
3. Kelelahan karena Bekerja
Kelelahan fisik karena pekerjaan bisa menjadi uzur. Solusinya, lakukan qiyam malam secara singkat di rumah atau atur waktu istirahat agar tubuh tetap terjaga. Islam tidak menghendaki mudarat. Kesehatan tetap menjadi prioritas, sementara ibadah bisa disesuaikan dengan kemampuan.
Kesimpulan
Jadi, tidak melaksanakan Tarawih tidak membatalkan puasa. Keduanya adalah ibadah berbeda dengan hukum yang berbeda pula. Selama rukun dan syarat puasa terpenuhi, maka puasanya sah.
Namun Tarawih menyimpan keutamaan besar: ampunan dosa, pahala qiyam semalam, dan kekuatan spiritual yang menghidupkan Ramadhan. Jika ada kesempatan, tentu lebih baik meraihnya.
Nah, dan untuk menyempurnakan keberkahan bulan suci, menyalurkan zakat, sedekah, atau infak melalui Rumah Zakat dapat menjadi langkah indah dalam berbagi dan menebar kebaikan.

