BELAJAR DARI BAPAK BANGSA

Mungkin perlu sejenak kita berkaca pada sejarah. Ketika volume kerja menuntut ritme yang lebih cepat, target yang harus segera didapat dan beragam sisi tuntutan produktivitas yang perlu selalu dihadirkan setiap hari, disadari atau tidak, sedikit ataupun banyak akan terjadi gesekan-gesekan hangat antar pribadi.
Pertanyaannya, ?Seberapa seringkah kita mengasah kemampuan manajemen konflik yang kemudian dapat menuntun pendewasaan kita menghadapi setiap masalah?

Konflik adalah hal biasa dalam setiap relasi kerja. Tulisan ini ingin saya hadirkan menjadi sebuah refleksi, bahwa perselisihan sepahit apapun harus tetap menyiratkan pesona kebesaran jiwa. Karena pemimpin besar pastilah harus berjiwa besar.

Menarik sekali jika kita mengikuti episode terakhir dua tokoh besar founding fathers bangsa ini; Soekarno dan Hatta. Sebuah buku tulisan P. Swantoro yang saya beli 3 tahun lalu bertajuk ?Dari Buku ke Buku : Sambung Menyambung Menjadi Satu (Jakarta: Kepusatakaan Populer Gramedia, 2002) dengan apik merekam kisah haru keduanya.

Dalam artikel berjudul ?Demokrasi Kita? 1 Mei 1960 di majalah Pandji Masyarakat, Hatta menegaskan bahwa pengunduran dirinya sebagai wakil presiden dan dengan demikian mengakhiri kedwitunggalannya dengan Soekarno empat tahun sebelumnya, 1956, karena banyak perbedaan tak akan dapat lagi dijembatani. Sementara konflik-konflik dalam hal-hal prinsipiil di bidang penyelenggaraan negara semakin sering terjadi dan menumpuk. Bung Karno makin obsesif dengan ?ramalan? Pemimpin Besar Revolusi, Hatta tentu semakin sulit mentolerir perannya sekedar sebagai ?orang kedua?. Terutama setelah periode pembentukan Negara Indonesia Merdeka sudah terwujud, dan fase-fase Revolusi Fisik yang sangat sulit sudah dilalui.

Namun ada yang menarik. Betapapun keras mereka saling mengkritik di bidang politik dan dalam persoalan penyelenggaraan negara toh mereka tidak saling membenci. Meskipun dalam reaksinya Hatta mengatakan bahwa ?Sikap Soekarno itu memberi tjemar kepada seluruh pergerakan nasional dan harus dijela sekeras-kerasnya,? tetapi Ia memperingatkan, jasa-jasa Soekarno yang lalu bagi pergerakan tidak boleh dilupakan.

Bung Hatta sendiri melaksanakan pesan itu. Meskipun sebagai Dwitunggal, Soekarno-Hatta telah pecah, tetapi pertemanan mereka terakhir di rumahsakit Gatot Subroto, Jakarta, dua hari sebelum Bung Karno tutup usia, mencerminkan kedalaman hubungan mereka sebagai teman seperjuangan, meskipun sudah tidak lagi sejalan.

Mengisahkan pertemuan kedua tokoh itu, Meutia Hatta, dalam bukunya ?Bung Hatta : Pribadinya dalam Kenangan? halaman 57-58, mengisahkan :

?Ibu (Rahmi Hatta-pen) mengatakan, bahwa kemarahan mereka satu sama lain, hanya dapat dipahami oleh mereka sendiri, sehingga orang yang tak mengenal Soekarno-Hatta mungkin bisa salah interpretasi. Pada saat-saatnya, mereka saling memaafkan satu sama lain dan pada saat tertentu, respek Bung Karno terhadap Ayah atau sebaliknya sangat kelihatan. Pada suatu hari Ayah mengajukan permohonan kepada Presiden Soeharto untuk mengengok Bung Karno yang sakit berat. Kami melihat sesuatu yang mengharukan: Pertemuan antara dua proklamator untuk yang terakhir kalinya. Begitu masuk ruangan, Ayah langsung menuju ke kamar tidur Bung Karno sambil berkata: ?Aa, No, apa kabar?? Bung Karno diam saja, memandang Ayah beberapa lama, kemudian mengucapkan kata-kata yang sulit kami tangkap, tetapi kira-kira berbunyi, ?Hoe gaat het met jou?? [Apa kabar?]. Tak lama kemudian, beberapa kali airmata beliau menetes ke bantal, sambil memandang Ayah beberapa lama yang terus memijiti lengan Bung Karno. Beliau malah minta dipasangkan kacamata, agar dapat memandang Ayah lebih jelas lagi. Tak ada kata-kata lebih lanjut, namun kiranya hati keduanya saling berbicara. Mungkin juga beliau berdua mengenangkan suka-duka di masa perjuangan bersama sejak puluhan tahun yang silam, masa-masa pergaulan bersama dan mungkin saling memaafkan?

Barangkali mereka berdua teringat, bagaimana mereka dulu menagatasi tekanan Jepang: bagaimana menghadapi para pemuda yang memaksa keduanya untuk segera memproklamirkan kemerdekaan dan menculik mereka ke Rengasdengklok, bagaimana saat perumusan naskah Proklamasi, bagaimana suasana Proklamasi di Pegangsaan Timur, bagaimana mereka mengadakan pertentangan dan ketegangan pada awal kemerdekaan, bagaimana menundukkan Muso dengan pemberontakan Madiunnya, bagaimana mengatasi gerakan-gerakan separatis di berbagai daerah, bagaimana menghadapi kolonialis Belanda yang dengan kekuatan militernya berusaha menjajah kembali Indonesia..???!!!

Rahmawati putri Bung Karno dalam ?Bapakku-Ibuku, Dua Manusia yang Kucintai, seperti yang dituturkan kepada Titiek W.S? (Jakarta: Garuda Metropolitasn Press, 1984), halaman 255 mengutarakan; ?pertemuan kedua sahabat itu amat mengharukan. Apapun yang telah terjadi antara mereka karena adanya perbedaan prinsip barangkali, pada detik-detik terakhir hanya Bung Hatta yang menjumpai Bapak. Kedua pemimpin itu sulit untuk dipisahkan.?

Salam Perubahan.

trieha

Tags :
Konfirmasi Donasi