Fenomena belalang goreng kembali ramai diperbincangkan. Dari pasar tradisional hingga media sosial, olahan serangga ini hadir sebagai camilan unik sekaligus sumber protein alternatif. Namun, di tengah antusiasme tersebut, satu pertanyaan klasik selalu muncul, bagaimana sebenarnya hukum belalang dalam Islam?
Pertanyaan ini wajar, sebab Islam sangat detail dalam mengatur urusan halal dan haram, termasuk soal makanan. Nah, di artikel ini Rumah Zakat akan membahasnya lebih lanjut. Yuk, simak!
Hukum Belalang dalam Islam
Sebelum masuk ke rincian, penting memahami bahwa hukum dasar makanan dalam Islam berangkat dari dalil Al-Qur’an dan hadis, bukan sekadar kebiasaan atau selera.
Belalang termasuk hewan yang halal secara mutlak tanpa syarat penyembelihan. Dasarnya adalah hadis dari Ibnu Umar RA:
“Dihalalkan bagi kita dua bangkai dan dua darah. Dua bangkai itu adalah ikan dan belalang, sedangkan dua darah itu adalah hati dan limpa.”
(HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Para ulama dari berbagai mazhab sepakat bahwa belalang termasuk hewan halal. Bahkan dalam beberapa riwayat disebutkan Rasulullah SAW pernah mengonsumsi belalang saat beberapa peperangan. Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga memandang belalang mubah selama tidak menimbulkan mudarat bagi kesehatan.
Baca Juga: Halalkah Makan Bekicot?
Syarat Konsumsi Belalang yang Halal dan Toyyib
Jika halal secara hukum sudah jelas, lalu mengapa masih ada kehati-hatian? Di sinilah konsep halal perlu berjalan seiring dengan thayyib.
Dalam praktiknya, konsumsi belalang tetap perlu memperhatikan beberapa aspek berikut:
- Bebas dari Bahan Haram
Proses pengolahan harus menggunakan minyak nabati yang halal, bukan lemak babi atau bahan turunan yang diharamkan. - Sehat dan Bersih
Belalang yang berasal dari area persawahan berisiko terpapar pestisida. Pemilihan bahan yang bersih menjadi faktor penting agar aman dikonsumsi. - Halal Meski Mati Sendiri, namun Tetap Selektif
Secara hukum, belalang tetap halal meski mati tanpa disembelih. Namun, memilih belalang hidup dan segar lebih mendekati prinsip thayyib yang dianjurkan Islam.
Mengapa Islam begitu detail? Karena tujuan syariat bukan hanya membolehkan, tetapi juga menjaga kesehatan dan kemaslahatan manusia.
Manfaat Nutrisi Belalang
Di balik tampilannya yang sederhana, belalang menyimpan potensi nutrisi yang cukup besar. Bahkan, inilah salah satu alasan mengapa serangga mulai dilirik sebagai pangan masa depan.
Secara umum, belalang mengandung sekitar 60% protein, angka yang lebih tinggi dibandingkan daging sapi. Selain itu, belalang juga kaya zat besi, kalsium, dan serat yang membantu metabolisme tubuh. Dalam 100 gram belalang, terdapat sekitar 200 kalori, menjadikannya sumber energi yang efisien.
Menariknya, potensi ini mulai dimanfaatkan dalam program pemberdayaan ekonomi berbasis pangan lokal. Olahan belalang bisa menjadi produk UMKM bernilai jual, sekaligus membuka peluang penguatan ekonomi masyarakat.
Baca Juga: Halal atau Haram? Ketahui Hukum Mengkonsumsi Daging Kuda
Kesimpulan
Jadi, belalang goreng bukan sekadar tren kuliner, tetapi juga memiliki dasar hukum yang kuat dalam Islam. Dalil hadis, ijma’ ulama, hingga pandangan lembaga resmi menunjukkan bahwa belalang halal untuk dikonsumsi, bahkan tanpa proses penyembelihan.
Meski demikian, prinsip halal tetap perlu disempurnakan dengan aspek thayyib. Cara pengolahan, kebersihan bahan, serta dampaknya bagi kesehatan menjadi bagian dari tanggung jawab moral seorang Muslim. Dari sinilah terlihat bahwa Islam selalu menghadirkan keseimbangan antara hukum, etika, dan kemaslahatan.
Dan, sebagai bagian dari ikhtiar menghadirkan keberkahan dalam setiap rezeki, menyalurkan sebagian harta melalui zakat, sedekah, atau infak bersama Rumah Zakat dapat menjadi langkah nyata untuk menguatkan ekonomi umat dan menyebarkan manfaat yang lebih luas.

