[:ID]BERANI MENJADI KAYA [:en]COURAGE TO BE RICH[:]

[:ID]Keping uang logam selalu memiliki dua sisi berlawanan. Demikian pula kekayaan serta kemiskinan, masing-masing punya sisi kebaikan dan keburukannya. Keduanya pun Allah jadikan sebagai ujian bagi manusia. Dengan harta, manusia dapat melakukan berbagai amal saleh yang dapat mengantarkannya me nu ju surga. Tapi, api neraka yang menyala siap menanti tatkala manusia kurang tepat mengelola hartanya.

Begitupun dengan kemiskinan yang bisa mengantarkan manusia menuju surga atau neraka, tergantung penyikapannya menghadapi kemiskinan itu. Bersabar dengan ikhtiar yang produktif ataukah meratapi nasib tanpa ada ikhtiar untuk mengubah keadaan. Islam sangat menganjurkan para pemeluknya mencari rezeki yang telah Allah jatahkan bagi setiap makhluk-Nya. Dalam Alquran, Allah SWT berfirman, ‘’Lantas, apabila selesai shalat, bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah, dan berzikirlah banyak-banyak pada Allah agar kamu beruntung.’‘ (QS Aljumuah [62]: 10).

Dari ayat di atas, Allah secara jelas memerintahkan kita untuk mencari rezeki-Nya setelah menunaikan kewajiban shalat. Dari ayat tersebut, kita juga dapat mengetahui bahwa mencari karunia Allah merupakan sesuatu yang penting. Mengapa perintah untuk mencari rezeki-Nya ditempatkan setelah menunaikan shalat? Hal ini tak lain disebabkan rezeki (harta) menempati kedudukan yang penting dalam Islam sebagai sarana penunjang menjalankan ibadah kepada-Nya.

Betapa banyak ayat Alquran dan hadis yang menerangkan amalan-amalan yang membutuhkan sarana finansial (harta). Bahkan, dari seluruh ayat Alquran yang memerintahkan kita untuk berjihad dengan harta dan jiwa, hanya satu dari semua ayat tersebut yang mendahulukan penyebutan jihad dengan jiwa.

Selebihnya adalah pengutamaan berjihad dengan harta, seperti yang terdapat dalam surat Alhujurat ayat 15, ‘’Sesungguhnya, orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Kemudian, mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.’‘ Ada hikmah tersembunyi yang Allah simpan dalam perintah tersebut, yakni sebuah semangat.

Semangat bagi seseorang yang belum memiliki kecukupan harta untuk berikhtiar secara maksimal dalam menggapai rezeki-Nya sehingga ia dapat menunaikan kewajiban tersebut. Menjadi kaya atau memiliki harta di masa ini adalah sebuah keharusan. Terlebih jika dengan kekayaan itu kita mampu menyelamatkan akidah saudara-saudara kita yang hampir tergodai oleh paket sembako dan lembar rupiah. Semoga kita menjadi hamba Allah yang menempatkan harta di tangan, bukan di hati.

sumber: republika.co.id[:en]

Coins always have two opposite sides, likewise wealth and poverty, each has its good and bad sides. Both also Allah made as a test for humans. With wealth, humans can do various righteous deeds that can deliver them to heaven. But, the fire of hell that ignites is ready and waiting when humans do not properly manage their wealth.

Likewise with poverty that can lead humans to heaven or hell, depending on their attitude to face poverty. Be patient with productive endeavors or mourn for fate without any endeavor for change. Islam strongly encourages its adherents to seek the sustenance that Allah has allocated for each of His creatures. In the Qur’an, Allah SWT said, “Then, when you finish praying, you scatter on earth, and seek the gift of Allah, and think aloud to Allah so that you are lucky.” (QS Aljumuah [62]: 10).

From the above verse, Allah clearly commands us to seek His fortune after fulfilling the obligation of prayer. From this verse, we can also know that seeking Allah’s gift is something important. Why is the command to seek His fortune placed after the prayer? This is because the fortune (wealth) occupies an important position in Islam as a means of supporting His worship.

How many verses of the Qur’an and hadith that explain the practices which require financial means? In fact, of all the verses of the Qur’an that instructs us to strive for wealth and soul, only one of these verses prioritizes the mention of jihad with our life in line.

The rest is the priority of jihad with wealth, as contained in the Al-Hujurat verse 15, “Indeed, those people who believe are only those who believe in Allah and His Messenger. Then, they do not hesitate and they strive with their wealth and life in the way of Allah. They are the righteous people.” There is hidden wisdom that Allah kept in the commandment, which is a spirit.

Spirit or enthusiasm for someone who does not have sufficient wealth but endeavors and reach His sustenance can fulfill these obligations. Being rich or owning wealth in this period is a must. Especially if with that wealth we are able to save the faith of our brothers who are tempted by food packages and money sheets. May we become servants of Allah who put wealth in the hands, not in the heart.

Source: republika.co.id[:]

Tags :
Konfirmasi Donasi
id_IDBahasa Indonesia
en_USEnglish id_IDBahasa Indonesia