DARI BILIK PESANTREN

oleh Rachmatullah Oky Raharjo

Pengamat Sosial

Lulusan Pondok Pesantren Darussalam Gontor

Beberapa hari yang lalu, salah seorang teman kantor berbincang dengan saya mengenai program pesantren unggulan. Ada satu pertanyaan menggelitik yang dia ungkapkan, “Bagaimana sebenarnya membentuk kurikulum pesantren yang baik itu? Sehingga outputnya juga bagus dan bermutu?”.

Saya menjawab pertanyaan itu dengan agak panjang. Karena memang mebicarakan pesantren bukanlah membicarakan hitam dan putih sebuah lembaga pendidikan. Tapi lebih dari itu, sebab juga membahas tentang akar filosofis pesantren, ruhul jihadnya, keilmuan, lingkungannya, sitem pendidikannya, manajemen sumber daya manusianya, sampai kemandiriannya. Kompleks memang, tapi untuk sekedar tahu “luarnya”, Anda bisa membaca novel ”5 Menara” yang secara apik menerangkannya dengan ringkas dan jelas.

Tidak perlu terlalu rumit sebenarnya memahami apa itu pesantren? Kyai saya dulu secara sederhana menyatakan bahwa definisi pesantren adalah,

“LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM BERASRAMA, DIMANA MASJID MENJADI PUSAT KEGIATANNYA DAN KYAI SEBAGAI SENTRAL VIGURNYA”.

Sederhana bukan? Barangkali ada yang menganggap pengertian di atas terlalu mengkultuskan vigur kyai. Tapi memang begitulah adanya. Coba simak baik-baik asal usul pesantren berikut ini.

“Pada mulanya ada seorang kyai yang mendirikan masjid di sebuah tempat. Lalu beberapa orang datang menemui sang kyai untuk MINTA diajar, menuntut ilmu. Lama kelamaan, semakin banyak orang yang datang kepada kyai sehingga rumah kyai tidak mencukupi lagi untuk menampung mereka. Sehingga atas inisiatif para santri sendiri, mereka mendirikan pemondokan di sekitar rumah kyai untuk fasilitas pendidikan mereka sendiri”.

Jadi jelas, sejak awal filosofi pesantren mengajarkan bahwa pesantren adalah medan perjuangan, medan pelatihan dan pencetak generasi pejuang. Kyai tidak pernah memungut uang pendidikan, bahkan awalnya kyailah yang “mengidupi” para santri. Maka pendirian bangunan dan fasilitas lain adalah inisiatif santri sendiri. Yang mereka upayakan sendiri dan mereka jaga sendiri. Jadi Kyai tidak pernah “memanggil” santrinya untuk datang, tidak pernah pasang iklan, tidak pernah koar-koar kesana kemari tentang faslitas pesantren ini itu dan sebagainya. Karena filosofi pesantren adalah perjuangan. Bukan kenikmatan, apalagi fasilitas duniawi. Maka Kyai tidak akan pernah memikirkan dunia. Ini filosofi. Lalu apa kyai tidak boleh kaya? Tentu boleh, tapi dengan syarat pesantren yang dikelola lebih “kaya” lagi untuk memajukan umat. Sebab fungsi pesantrean adalah lembaga “Mundzirul Qaum” (pemberi peringatan kepada kaumnya) sebagaiman firman Allah dalam surat At Taubah 122,

“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”

Jadi memang harus ada muslim yang menjadi pengusaha sukses, politikus unggul, pengacara handal, tentara yang perkasa, pedagang yang kaya raya. Ttapi tugas pesantren memang bukan untuk itu semua. Tugas pesantren memang sebagai pemberi peringatan apabila para ekonom, politikus dan pengusaha muslim itu “kembali” kepada mereka selepas berjuang.

Maka kalau memang bercita-cita membangun pesantren, ya jangan bercita-cita untuk kaya dari pesantren. Peribahasanya, “Hidup-hidupilah pesantren, jangan mencari hidup dari pesantren”. Pahit memang, tapi justru itulah yang membuat pesantren masih eksis sampai sekarang. Tidak ada demo murid yang memprotes fasilitas pesantren yang “apa adanya”, karena memang mereka tidak pernah diundang dan dijanjikan macam-macam tentang fasilitas oleh kyainya. Mereka datang sendiri, meminta kyai untuk mengajarkan ilmu. Kok aneh jadinya kalau mendemo Kyai. Kalau tidak cocok di medan kaderisasi pejuang ini, ya silahkan keluar.

Nasehat Kyai saya yang senantiasa saya ingat adalah :

“Berjuang dulu, beramal, ikhlas. Sebab amal yang ikhlas akan menciptakan aktivitas. Aktifitas yang istiqomah akan menimbulkan mobilitas. Mobilitas yang terarah akan menciptakan creativitas. Dan kreativitas yang baik akan menelorkan kualitas. Sedangkan kualitas yang terjaga tentu akan membentuk kuantiítas. Setelah kuantitas terbentuk, baru bicara FASILITAS!”.

Jadi Faslitas diberikan setelah adanya kuantitas yang berkualitas. Bukan sebaliknya, fasilitas diadakan dulu, sambil “berharap” akan mendulang kuantitas yang berkualitas. Ini sudah keliru secara filosofis. Dan justru ini yang banyak terjadi di “pesantren” abad 20. Masuk pesantren, yang pertama hadir di benak adalah “Saya akan mendapat fasilitas apa” dan bukan “Saya bisa beramal apa?”

Padahal pertanyaan kedua inilah yang justru akan sangat mendukung keberadaan dan kelangsungan hidup pesantren. Sebab dengan pertanyaan itu, maka pesantrean boleh punya unit usaha ekonomi, pesantren harus punya koperasi, harus punya perkebunan, harus punya basis-basis ekonomi, tapi bukan sebagai fasilitas pribadi kyai atau gurunya, tapi adalah untuk mendukung kemandirian pesantren, agar para santri bisa belajar optimal dengan biaya minimal.

Apakah ini berarti pesantren hanya mengajarkan agama saja? Tidak dengan ilmu yang lain? Ah, tentu tidak. Lagian siapa yang mengajarkan adanya dikotomi ilmu agama dan ilmu umum? Kami dulu selalu diajari bahwa kalau ditanya, berapa prosentase perbandingan antara ilmu agama dan ilmu umum yang diajarkan di pesantren kami? Maka jawabannya adalah : 100% AGAMA dan 100% UMUM!

Tidak ada perbedaan itu. Fikih adalah ilmu umum, karena dengan itu kita seharusnya bermuammalah. Matematika adalah juga ilmu agama, karena dengan itu kita tahu perhitungan tahun untuk penentuan waktu ibadah kita. Bukankah ulama-ulama kita jaman dulu adalah bukan sekedar para Faqih dan Mufti hebat, tapi juga ahli astronomi dan ekonomi yang dahsyat?

Bukankah Imam Syafi’i adalah juga seorang ahli matematika? Bukankah Abu Yusuf adalah qadi syariaah Khalifah Abasiyah sekaligus penasehat ekonominya? Bukankah Ibnu Sina adalah seorang Faqih tauladan yang juga ahli kedokteran?

Justru dikotomi itulah yang sudah menjebak kita selama ini. Sehingga sarjana sastra seakan-akan “tidak sah” untuk tahu ekonomi, sebagaimana sarjana tarbiyah atau ushuludin tidak akan bisa melamar kerja di dunia perbankan. Yang lebih parah lagi, dikotomi itu memunculkan idiom bahwa agama itu adalah Arab an Umum itu identik dengan bahsa Inggris. Jadinya, untuk membuat sesuatu itu “islami” sangat mudah, tinggal mengganti istilahnya saja menjadi Arab. Komentator acara “Take Him Out” tinggal diganti nama menjadi “Ust Cinta” biar acara pintu gerbang zina itu menjadi nampak Islami. Nanti akan ada lagi kata-kata, “Kita ga Pacaran kok, kita cuman Mahabbah aja”. Lha emang apa bedanya?

Salah kaprah memang. Tapi itulah kenyatannya.

(bersambung)

 

Tags :
Konfirmasi Donasi