EKSPEDISI KEMANUSIAAN KE WAINGAPU NTT (BAGIAN 1)

Oleh: Yudi Juliana

Alhamdulillah kami berdua tiba dini hari malam jumat (29/9), di bandara El Tari Kupang, setelah melakukan perjalanan 5 jam dari Jakarta transit Surabaya. Setibanya di Kupang kami dijemput oleh mitra relawan, Pak Rahmat  yang dinas di Jamsostek Kanwil NTT.

Tadinya kami mau menginap di rumah beliau, tapi karena istrinya baru melahirkan Kamis siang di Rumah Sakit, akhirnya kami menginap di salah satu penginapan yang tepat berada di seberang kantor gubernur NTT. Jarak dari bandara kurang lebih 6 km.

Pada malam itu juga, kami bersama pak Rahmat langsung mapping untuk esok hari, dan mengontak tim ekspedisi yang mengangkut kornet superqurban ke Pulau Sumba. Informasi terakhir pada malam itu, kornet sedang menyebrang dari Bali ke Lombok, dan akan kembali menyebrang ke pulau selanjutnya dengan jalur darat. Sebelum akhirnya tiba di pelabuhan terdekat ke Pulau Sumba.

Keesokan harinya, Jumat (30/1), kami sejak pagi sudah mengontak relawan yang lainnya yang ada di Kupang, yaitu Pak Mawe. Beliau bertugas di Angkasapura wilayah El Tari, yang juga teman dekat pak Rahmat, beliau banyak memberikan masukan serta informasi kondisi di Kupang. Pak Mawe juga yang meminjamkan kami kendaraan bermotor.

Selepas sholat jumat, kami berdua menyusuri kota Kupang Timur dengan menyusuri pantai, berharap bisa bertemu nelayan, dengan berbekal kornet serta GPS yang sangat membantu menyusuri setiap sudut desa tanpa perlu bertanya dan nyasar.

Kami mendatangi lokasi yang akan dijadikan tempat penyaluran di Pulau Timor. Di sini kita berinteraksi dengan warga muslim dan non muslim, mereka sangat welcome menyambut bahkan senang sekali bercerita.

Dengan meminta izin mengambil gambar dan wawancara seputar kondisi Kupang saat ini, khususnya menhadapi kemarau panjang, mereka sangat proaktif, bahkan ibu-ibunya menyuguhi kami makanan dan minuman.

Informasi yang kami dapatkan dari warga sangat membantu untuk mapping keesokan hari. Setelah cukup mengambil gambar dan testimoni, menjelang magrib kami tiba kembali di penginapan.

Hari kedua, Sabtu (1/10) sejak pagi kami sudah kembali melakukan perjalan ke Kupang Barat. Tempat dimana akan disalurkannya kornet Superqurban. Perjalanan di hari kedua ini lebih banyak objek yang bisa diabadikan. Warga desa yang kami temui dengan senang hati mau untuk wawancara.

Saat dzuhur tiba, kami menghadiri dulu undangan walimatul safar pak Mawe. Selepas menghadiri acara, kami kembali melakukan perjalan ke lokasi lainnya. Kali ini kami ditemani pak Rahmat mengunjungi salah satu desa yang penduduknya eks Pengungsi Timor di Boneana

Kondisi di sini sangat memprihatinkan. Listrik belum masuk, makan tanpa lauk pauk, serta lahan garapan mereka sudah mulai berkurang. Penduduk di sini mayoritas mengandalkan mata pecaharian dari membelah batu karang yang ada diskitar halaman rumah mereka, 1 truk dijual tidak lebih dari 75.000, dan baru terkumpul sekira 2 minggu. Jadi penghasilan mereka rata-rata hanya 150rb/bulan.

Mungkin jarang sekali ada yang mengabarkan kondisi mereka, karena menurut kabar, birokrasi di sini agak kurang bersahabat dengan media. Mereka selalu menutupi informasi seperti ini.

Hingga larut malam kami berada di sini baru kemudian kembali Kupang. Seperti malam sebelumnya kami menyusun berita, serta packing untuk penerbangan esok hari ke Pulau Sumba, pada malam ini kami sudah mengkoordinasikan dengan relawan yang ada disana.

Besok pagi, Minggu (2/10) kami akan melakukan penerbangan ke Waingapu jam 10 pagi dengan mengunakan pesawat foker milik Merpati. Lama perjalanan tidak kurang dari 1 jam. Sore harinya kami sudah menjadwalkan untuk pengambilan gambar dan testimoni.

Demikian yang bisa  kami sampaikan, semoga esok hari berjalan dengan lancar. Nantikan kabar selanjutnya dari kami.

 

Foto: Angga Aditya

Tags :
Konfirmasi Donasi