EKSPEDISI KEMANUSIAAN KE WAINGAPU NTT (BAGIAN 5)

Oleh: Yudi Juliana

Selama di Waingapu ini tim Rumah Zakat juga menyisir perkampungan di Tanjung Atu hingga Teluk Melala di Sumba Timur. Rumah di sini berjauhan dan menempati hamparan ladang luas yang kering, terlihat kuda dan hewan ternak lainnya digembalakan di sini, jarak dari pusat kota Waingapu tidak lebih dari 10 KM.

Tim Rumah Zakat mendatangi sebuah rumah kecil yang ada di lahan tandus, rumah tersebut tidak jauh beda dengan gubuk yang ada di sawah. Rumah panggung beratapkan daun, di bawahnya dipakai untuk menenun kain dengan dapur dan jamban yang terpisah dari bangunan rumah serta di sampingnya terdapat kandang babi.

Rumah ini dihuni oleh 5 orang angota keluarga, suaminya bekerja mencari singkong dan istrinya membuat kain tenun. Kedua putrinya masih bersekolah di sebuah SD yang berjarak 5 km dari rumahnya kemudian ada juga seorang nenek, orang tua dari suami yang tinggal disini. Mereka penganut Merapu, agama nenek moyang di Sumba. Cukup kesulitan ketika berinteraksi dengan mereka karena bahasa Indonesia sedikit dimengerti olehnya.

Meskipun dekat dengan pantai, tapi untuk mendapatkan air yang layak minum harus didapatkan setaleh menempuh jarak tidak kurang dari 2 km. Air hanya digunakan untuk minum, sedang untuk kebutuhan mandi mereka lakukan di mata air. Sementara semak belukar menjadi tempat mereka untuk memenuhi panggilan alam, buang besar .

Keluarga kecil ini sehari hari-hari makan singkong dan jarang makan nasi, singkong yang masih tersisa di ladang kering mereka jemur dan berbagi dengan hewan peliharannya, babi. Tempat penjemurannya pun diletakan begitu saja di atas tanah dengan dialasi kain yang sudah usang dan kotor.

Kedua putrinya sudah satu minggu terkena cacar air, lukanya tidak terawat, tidak ada senyum di wajah mereka karena menahan rasa gatal dan perih. Karena sudah menjadi kebiasaan, jika terserang penyakit jarang menemui Puskesmas.

Foto: Angga Aditya

Tags :
Konfirmasi Donasi