[:ID]EMPAT FAKTA SAINS TENTANG TREN JUS SELEDRI[:en]FOUR SCIENCE FACTS ABOUT CELERY JUICE TRENDS[:]

[:ID]Jus seledri semakin menjadi tren dan menggema di media sosial. Jus seledri dipercaya bisa meningkatkan nutrisi. Termasuk di dalamnya dapat membantu mikrobioma usus, kombinasi bakteri, dan mikroflora lain sehingga membuat usus bekerja dengan baik. Tetapi apakah klaim ini sepenuhnya benar?

Jus seledri, seperti semua jus sayuran lainnya, sejatinya tidak dapat menyembuhkan semua penyakit dan bukan obat ajaib. Bagaimanapun juga, itu hanya tentang minuman hijau yang renyah dan rasanya sangat enak apalagi jika ditambah selai kacang.

Selalu penting untuk memisahkan kebenaran dari sensasi ketika ada tren kesehatan. Terutama jika klaim yang dibuat tidak didukung oleh penelitian yang dilakukan dengan benar oleh para ilmuwan terkemuka. Penting untuk dicatat bahwa usus manusia adalah organ yang sangat kompleks dan individual. Mari lihat apa kata sains tentang jus seledri sebagaimana dilansir laman Bustle.

  1. Dapat menghambat peradangan usus

Menurut sebuah penelitian di Nutrition Research Reviews, seledri mengandung luteolin. Kandungan serupa juga banyak dalam wortel, paprika, minyak zaitun, peppermint, dan rosemary. Kandungan itu diketahui memiliki efek kesehatan positif, baik untuk usus maupun organ lain.

Sebuah studi pada 2015 menemukan luteolin menghambat peradangan usus pada tikus, terutama pada sel-sel yang melapisi usus. Sementara ulasan ilmu di sekitar luteolin pada 2016 mencatat luteolin menawarkan aktivitas antioksidan, anti-inflamasi, antimikroba, dan anti kanker.

 

  1. Bahan lain punya senyawa penting lebih banyak

Senyawa lain yang perlu diketahui ketika berbicara tentang jus seledri dan usus adalah pyrroloquinoline quinone atau PQQ. PQQ adalah salah satu zat yang paling banyak diserap dari makanan kita dan ini muncul dalam seledri. Tetapi sebenarnya PQQ ditemukan dengan jumlah yang lebih besar dalam kacang polong, kedelai, kentang, peterseli, kol, dan wortel.

Sebuah studi pada 2013 menemukan PQQ baik dalam menurunkan tingkat peradangan pada manusia. PQQ memiliki efek pada zat-zat seperti IL-6, protein pro-inflamasi yang terkait dengan berbagai jenis bakteri usus.

  1. Memiliki nilai gizi

Banyak orang menganggap seledri sebagai sayuran yang dibuang tanpa nilai gizi. Tapi sebenarnya seledri punya beberapa nutrisi pelindung kesehatan utama. “Selain rendah kalori dan sumber serat, seledri juga mengandung folat, vitamin K, kalium, dan antioksidan,” kata ahli gizi Cynthia Sass kepada Health. Vitamin K dikaitkan dengan usus yang sehat, seperti juga dosis serat sehat yang baik.

  1. Jus menghilangkan serat

Olahan dalam bentuk jus, menurut Mayo Clinic, sering menghilangkan serat sehat dari buah-buahan dan sayuran. Seperti yang diketahui, serat adalah salah satu kunci terbesar untuk kesehatan usus. Serat adalah sumber bahan bakar utama bagi banyak mikroba dalam usus. Dikonsumsi dalam bentuk jus dapat menghilangkan serat dari seledri.

Jika Anda ingin mendapatkan dosis serat, jus seledri jelas kurang bermanfaat daripada seledri utuh. Seledri bahkan bukan sayuran dengan serat tertinggi. Masih ada artichoke, bit, brokoli, dan kubis Brussel yang memiliki lebih banyak serat.[:en]Celery juice is increasingly becoming a trend and echoing on social media. Celery juice is believed to increase nutrition. This includes helping intestinal microbiomes, a combination of bacteria, and other microflora to make the intestines work properly. But is this claim completely true?

Celery juice, like all other vegetable juices, actually cannot cure all diseases and is not a miracle drug. After all, it’s only about crispy green drinks and it tastes very good especially if you add peanut butter.

It is always important to separate truth from sensations when there is a health trend. Especially if claims made are not supported by research carried out correctly by leading scientists. It is important to note that the human intestine is a very complex and individual organ. Let’s see what the science of celery juice says as reported by page Bustle.

  1. Can inhibit intestinal inflammation

According to a study in the Nutrition Research Reviews, celery contains luteolin. There are also many similar ingredients in carrots, peppers, olive oil, peppermint, and rosemary. The content is known to have positive health effects, both for the intestines and other organs.

A study in 2015 found luteolin inhibited intestinal inflammation in mice, especially in cells lining the intestine. While a review of the science around luteolin in 2016 notes luteolin offers antioxidant, anti-inflammatory, antimicrobial and anti-cancer activities.

  1. Other ingredients have more important compounds

Other compounds that need to be known when talking about celery juice and intestines are pyrroloquinoline quinone or PQQ. PQQ is one of the most absorbed substances from our food and this appears in celery. But actually PQQ is found with greater amounts in peas, soybeans, potatoes, parsley, cabbage, and carrots.

A study in 2013 found PQQ was good at reducing inflammation in humans. PQQ has an effect on substances such as IL-6, a pro-inflammatory protein associated with various types of intestinal bacteria.

  1. Has nutritional value

Many people consider celery as a vegetable that is thrown away without nutritional value. But actually celery has some of the main health protective nutrients. “Besides being low in calories and a source of fiber, celery also contains folate, vitamin K, potassium, and antioxidants,” nutritionist Cynthia Sass told Health. Vitamin K is associated with a healthy intestine, as well as a good dose of healthy fiber.

  1. Juice removes fiber

Processed in the form of juice, according to the Mayo Clinic, often removes healthy fiber from fruits and vegetables. As is known, fiber is one of the biggest keys to intestinal health. Fiber is the main source of fuel for many microbes in the intestine. Consumed in the form of juice can remove fiber from celery.

If you want to get a dose of fiber, celery juice is clearly less useful than whole celery. Celery is not even the highest fiber vegetable. There are still artichokes, beets, broccoli, and Brussels sprouts that have more fiber.[:]

Tags :
Konfirmasi Donasi
id_IDBahasa Indonesia
en_USEnglish id_IDBahasa Indonesia