IIN FADILLAH, SEBUAH CATATAN PERJALANAN DIKSAR RELAWAN RZ

RZ LDKO CilegonBANDUNG. Keseruan Diksar Relawan RZ masih terkenang hingga sekarang. Suasana Diksar pas sekali dengan keseruan yang tergambar dalam lirik lagu “Jejaknya” dari Izzatul Islam, perjuangan yang tergambar dalam lirik lagu “Hadapilah” milik Shoutul Harakah, nuansa kekeluargaan dalam serba kekurangan di camp masing-masing terasa menggambarkan lirik Rumah Kitanya God Bless.

Bagi saya, saat-saat itu sangat bersejarah, benar-benar memuaskan sesuatu yang saya cari saat terserang ‘demam’ bosan. ‘Need Something New’ yang melanda saat ‘demam’ bosan itu benar-benar dijawab disaat Diksar. Bagi saya mungkin Diksar ini baru 1 jawaban dari ‘Need Something New’ saya yang bisa saja tiba-tiba menghantui kembali. Maka, Diksar ini akan jadi salah satu sejarah dalam hidup saya.

Saat Diksar, mental kami benar-benar diuji, bukan dengan kekerasan verbal yang umumnya diterima anak-anak kampus oleh para seniornya dalam kegiatan sejenis. Tapi mental yang diuji adalah tentang apakah kami mampu ‘memikul’ beban terberat pada jasmani dan ruhani demi kebahagiaan umat. Haus tidak henti-henti, kantuk yang hilang datang, keringat yang terus mengucur, lapar yang kami kenyangkan dengan sugesti ‘tuk bertahan, semuanya insya Allah demi kebahagiaan umat.

Sebagai relawan, tentu kami dilatih untuk bekerjasama, saling bersinergi, serentak memberi semangat, namun dalam kesibukan penuh keringat itu, kami tidak lupa menjaga ‘nyawa hakiki’ kami sebagi muslimin, yakni syari’at Islam. Tidak terbersit sedikit pun untuk tampil sebagai laki-laki tangguh nan mempesona di depan para peserta wanita dengan menggadaikan hijab/pembatas antara kami, karena kami tidak ingin energi yang terpakai-tidak kami perlihatkan pada Kekasih Sejati, Penguasa Alam Semesta, Allah SWT.

Tidur di tengah alam, yang memperlihatkan indahnya langit berbintang, melaksanakan simulasi menyelamatkan nyawa orang, bertafakkur alam dalam tahajjud yang dingin, ketiduran di tengah tausyiah, berjalan memikul beban berat, mendaki dengan merangkak, semuanya berat, tapi karena sejak awal kami sudah memilih jalan sebagai relawan, semua itu kami hadapi. Ikhlas sudah pasti, padahal makan tidak sempurna seperti saat di rumah, tapi entah datang darimana energi kami sehingga berhasil melalui itu semua.

Menurut saya itulah bukti bahwa Allah merestui jalan yang kami pilih. “Padahal 3 hari berat itu hanya untuk mendapatkan sebuah slayer orange dan status relawan muda.” Sempat terbisik kalimat tersebut di benak saya. Tapi saya memenangkan jalan yang saya pilih dengan kalimat “Insya Allah, ini untuk kebahagiaan Umat. ”Semoga tekad tuk mengabdi pada Ilahi, mulai, terus dan semakin membaja di hati. Semoga kami istiqomah di jalan relawan, di jalan pejuang peradaban.***

Newsroom/Surianto
Bandung

Tags :
Konfirmasi Donasi