Di sampaikan dalam Alquran dan hadits bahwa bulan Ramadhan adalah bulan suci yang penuh keberkahan. Karenanya umat Islam sejak dulu berlomba-lomba meningkatkan kualitas serta kuantitas ibadah wajib dan sunah saat Ramadhan.

Bahkan pahala yang diberikan kepada umat Islam berlipat ganda di bulan Ramadhan. Karena itu para ulama sependapat bahwa Ramadhan adalah momen yang tepat untuk memperbanyak sedekah, infak dan amalan ibadah sosial lainnya. Seperti dicontohkan Nabi Muhammad SAW yang sangat dermawan, tapi beliau menjadi lebih sangat dermawan lagi saat Ramadhan tiba.

Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof KH Nasaruddin Umar menyampaikan, sedekah di bulan Ramadhan ilustrasinya sama dengan menanam benih di musim subur atau musim hujan. Kalau mau menanam benih maka tunggu musim hujan, pasti benihnya akan tumbuh subur.

Tapi kalau menanam benih di luar musim hujan tentu tidak sesubur saat menanam di musim hujan. Karena setelah menanam benih harus disiram agar benihnya tetap mendapatkan air yang cukup.

“Tapi saat menanam benih di musim hujan akan tumbuh dan berkembang sendiri, sudah ada pupuknya sendiri, ilustrasi sedekah di bulan Ramadhan seperti itu,” kata Prof KH Nasaruddin belum lama ini.

Ia menjelaskan, di bulan Ramadhan ini pahala akan dilipat gandakan. Terlebih saat pandemi virus corona atau Covid-19 yang berdampak pada perekonomian masyarakat. Jadi bulan Ramadhan tahun ini benar-benar menjadi lahan subur untuk menanam amal kebajikan.

Kalau membaca alif lam mim mendapat tiga pahala di luar bulan Ramadhan tapi bila membacanya di bulan Ramadhan akan mendapat 30 pahala. Karena di bulan suci ini setiap huruf dihitung menjadi sepuluh pahala.

Rektor Institut Perguruan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ) Jakarta ini mengatakan, umumnya Muslim hanya mengeluarkan zakat fitrah, tapi Nabi Muhammad SAW tidak hanya mengeluarkan zakat fitrah. Ada zakat mal, sedekah, infak, wakaf, hibah, jariyah dan lain-lain. Jadi pundi-pundi amal terbuka lebar saat bulan suci Ramadhan.

“Alangkah pelitnya umat Islam kalau hanya mengeluarkan zakat, zakat itu hanya 2,5 persen, bandingkan dengan membayar asuransi berapa persen, maka itu alangkah pelitnya kalau hanya mengeluarkan zakat,” ujarnya.

Prof KH Nasaruddin mengingatkan, yang harus dikeluarkan saat Ramadhan jangan hanya zakat tapi juga sedekah, infak, jariyah, wakaf dan hibah. Karena kalau hanya membayar zakat hanya untuk delapan asnaf. Di luar delapan asnaf tidak boleh menerima zakat. Tapi sedekah dan infak bisa disalurkan secara lebih luas, karena bisa untuk membangun fasilitas umum seperti membangun jembatan.

sumber: republika.co.id