Hari Jumat selalu hadir sebagai hari istimewa dalam Islam. Ada shalat Jumat, ada khutbah, ada waktu-waktu mustajab yang sering disebut sebagai ladang pahala besar bagi kaum Muslimin. Tidak heran jika banyak orang berusaha tampil rapi, datang ke masjid, lalu berharap pulang dengan hati yang lebih tenang.
Namun, ada satu hal yang sering luput disadari. Beberapa kebiasaan kecil yang terasa sepele ternyata bisa membuat pahala shalat Jumat berkurang, bahkan hilang keutamaannya. Bukan karena niat buruk, melainkan karena kurangnya perhatian pada adab yang diajarkan Rasulullah.
Nah, di artikel ini Rumah Zakat akan membahas kesalahan-kesalahan kecil tersebut, agar ibadah Jumat tidak sekadar gugur kewajiban, tetapi benar-benar bernilai di sisi Allah SWT. Yuk, simak terus!
1. Berbicara Saat Khutbah Berlangsung
Kesalahan pertama ini sering terjadi tanpa disadari. Banyak yang merasa hanya berbisik atau sekadar mengingatkan teman di sebelahnya.
Padahal Rasulullah SAW bersabda,
“Jika engkau berkata kepada temanmu: ‘Diamlah’, pada hari Jumat ketika imam sedang berkhutbah, maka sungguh engkau telah berbuat sia-sia.” (HR. Ahmad)
Berbicara, termasuk chat singkat atau isyarat lisan, dapat menggugurkan pahala Jumat hingga nilainya seperti shalat Dzuhur biasa. Diam dan menyimak khutbah menjadi syarat utama agar keutamaan Jumat tetap terjaga.
Baca Juga: Jumat Itu Istimewa, Tapi Mengapa Kita Sering Melewatkannya Begitu Saja?
2. Bermain Gadget atau Benda Sekitar
Setelah duduk rapi, ujian berikutnya sering datang dari layar kecil di genggaman. Notifikasi, pesan masuk, atau sekadar menggulir layar tanpa tujuan.
Rasulullah SAW mengingatkan,
“Barang siapa bermain-main dengan kerikil, maka sungguh ia telah berbuat sia-sia.” (HR. Muslim)
Makna “bermain-main” mencakup segala aktivitas yang mengalihkan fokus dari khutbah, termasuk gadget. Solusi paling sederhana adalah mematikan notifikasi sebelum masuk masjid dan menghadapkan hati sepenuhnya pada nasihat yang disampaikan khatib.
3. Datang Terlambat
Ada perbedaan besar antara datang sebelum dan setelah imam naik mimbar. Sayangnya, perbedaan ini sering dianggap remeh.
Rasulullah SAW bersabda bahwa ketika imam sudah naik mimbar, para malaikat menutup catatan pahala orang yang datang ke masjid. Artinya, pahala berlipat dari shalat Jumat pun terlewat.
Sebaliknya, mereka yang berangkat lebih awal bahkan disebut mendapat pahala seperti berpuasa dan shalat setahun untuk setiap langkah kakinya (HR. Abu Dawud).
4. Melangkahi Pundak Orang Lain (Iktiyaal al-Riqaab)
Masjid yang penuh sering membuat sebagian orang memilih jalan pintas: melangkahi pundak jamaah lain demi mendapat tempat di depan.
Perilaku ini ditegur langsung oleh Nabi Muhammad. Dalam riwayat Bukhari, Rasulullah SAW menyebut perbuatan tersebut sebagai sesuatu yang menyakiti dan dilarang. Selain mengganggu kekhusyukan orang lain, pahala Jumat pun bisa gugur karenanya.
Jika masjid sudah penuh, mencari tempat kosong atau menunggu jamaah lain bergeser adalah pilihan yang lebih selamat.
Baca Juga: Jangan Lewatkan! Ini Dia 7 Amalan Sunnah di Hari Jumat untuk Wanita
5. Duduk Memeluk Lutut (Al-Ihtiba’) Saat Khutbah
Posisi duduk ini sering dianggap nyaman, apalagi saat khutbah terasa panjang. Namun, kenyamanan belum tentu sejalan dengan adab.
Rasulullah SAW melarang duduk ihtiba’ saat khutbah karena bisa membuka aurat dan memicu rasa kantuk (HR. Muslim). Duduk dengan posisi tegak dan tenang membantu menjaga fokus serta adab di hadapan Allah SWT.
6. Tidur Saat Khutbah Berlangsung
Rasa lelah setelah aktivitas sepekan sering membuat mata berat saat khutbah dimulai. Namun, tertidur berarti kehilangan inti dari shalat Jumat itu sendiri.
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa orang yang lalai saat khutbah akan kehilangan pahala sebesar segenggam debu (HR. Ad-Daulabi). Duduk lebih tegak, berpindah posisi, atau memperbanyak dzikir pelan bisa menjadi cara sederhana untuk tetap terjaga.
Kesimpulan
Jadi, shalat Jumat bukan hanya tentang hadir dan berdiri di saf, tetapi tentang menjaga adab dari awal hingga akhir. Kesalahan kecil seperti berbicara, terlambat, atau tidak fokus bisa membuat pahala Jumat berkurang tanpa disadari.
Dengan memperhatikan adab-adab ini, shalat Jumat tidak hanya menggugurkan kewajiban, tetapi juga menjadi sarana memperbaiki hati dan amal.
Dan ketika hati sudah tergerak untuk menjadi lebih baik, menyalurkan kebaikan melalui zakat, sedekah, atau infak bersama Rumah Zakat bisa menjadi langkah lanjutan agar pahala terus mengalir, bahkan setelah Jumat berlalu.

