[:ID]KETIKA BIMBANG DAN CEMAS [:en]WHEN CONFUSED AND ANXIOUS[:]

[:ID]Oleh: Rahmat Saleh

Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin kita pernah bimbang atau bahkan kecewa. Misalnya, karena dalam lingkungan tempat kita bekerja terdapat perlakuan tidak adil, atau mungkin karena fasilitas dan kesejahteraan yang kita terima belum sesuai harapan.

Dalam menghadapai situasi dan kondisi seperti itu, kita tak jarang lalu mengeluh: Apakah jalan yang kita tempuh ini benar dan mendapat ridha-Mu? Apakah eksistensi kita di dunia ini memang berguna?

Kiranya bukan saja seorang manusia biasa yang mungkin mendapat cobaan dihinggapi kebimbangan dalam hatinya. Bahkan para nabi pun mengalami ujian seperti itu.

”Ya Tuhanku,” keluh Nabi Zakaria ketika ia belum juga dikaruniai seorang anak.

Padahal tulang Nabi Zakaria sudah lemah dan rambutnya beruban, sementara isterinya diketahui mandul.

”Sesungguhnya aku khawatir terhadap penerusku, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku,” lanjutnya.

Nabi Muhammad SAW sendiri juga pernah mengalami kecemasan. Suatu kali, waktu menghadapi musuh yang berlipat ganda banyaknya pada Perang Badar, beliau memohon kepada Allah SWT, ”Aku cemas ya Rabbi, andaikata jamaah yang kecil ini hancur, maka tak ada lagi yang akan menyembah-Mu.”

Sebagai Muslim yang ingin mengikuti suri tauladan para nabi, maka pada saat penuh kebimbambangan dan kekecewaan demikian, kita pertama-tama harus ingat dan berpaling kepada Allah SWT, untuk memohon petunjuk-Nya.

Dalam saat penuh kekecewaan dan kebimbambangan itu kita tafakur, dan kita dekatkan hati dengan penyerahan penuh kepada-Nya.

Shalat dan tafakur–berhenti sejenak dalam kesibukan duniawi sehari-hari dengan doa dan zikir–adalah momen kita meneropong hati sanubari kita.

Saat-saat kita mengintrospeksi dan mengevaluasi diri kita sendiri, dengan menyatukan jiwa kita pada Ilahi. ”Ketahuilah,” firman Allah SWT dalam surat Ar-Ra’du 28, ”dengan ingat kepada Allahlah hati (seseorang) bisa tenteram.”

Dengan melaksanakan shalat lima waktu sehari, itu bukti pengabdian seorang insan kepada Khaliknya yang telah menciptakannya. Dan shalat itu juga sebagai persembahan rasa syukur atas segala nikmat yang telah dikaruniakan Allah kepada para hamba-Nya dalam kehidupan di alam ini.

Di samping itu, shalat juga berfungsi sebagai usaha kita mengadakan evaluasi serta introspeksi atas segala amal yang kita lakukan pada hari itu. Kita langsung mengadakan dialog dengan menyampaikan segala macam harapan serta keluhan atas kekurangan kita kepada Allah SWT.

Dengan salat itu pula, kita memohon petunjuk serta kekuatan untuk menjalankan dan menegakkan kebenaran di muka bumi ini sebagai khalifah yang telah diciptakan oleh Tuhan Yang Mahaesa.

sumber: republika.co.id[:en]

By: Rahmat Saleh

In everyday life, maybe we have been confused or even disappointed. For example, because in the environment where we work there is unfair treatment, or maybe because the facilities and welfare that we receive are not as expected.

In dealing with such situations and conditions, we often complain then: Are the paths we take right and get ridha from Allah? Is our existence in this world really useful?

Presumably, it is not just an ordinary human being who might be tempted to have doubts in his heart. Even the prophets also experienced a test like that.

“O my Lord,” complained the Prophet Zakaria when he had not been blessed with a child.

Even though Prophet Zakaria’s bones were weak and his hair turned gray, while his wife was known to be barren.

“Truly I am worried about my successor and I have never been disappointed in praying to you, O my Lord, ” he continued.

Prophet Muhammad SAW himself also experienced anxiety. One time, when facing multiple enemies in the Battle of Badr, he asked Allah SWT, “I am worried, Rabbi, if this small congregation was destroyed, then no one else would worship You.”

As a Muslim who wants to follow the example of the prophets, so at a time of full confusion and anxiousness, we must first remember and turn to Allah SWT, to ask for His guidance. In a time of disappointment and confusion, we contemplate, and we close our hearts, full surrender to Him.

Prayers and contemplation – stopping for a moment in daily worldly activities with prayer and remembrance – are moments when we look at our hearts.

At times we introspect and evaluate ourselves, by uniting our souls to the Divine. “Know,” said Allah SWT in surah Ar-Ra’du 28, “by remembering Allah, the heart (of a person) can be reassured.”

By praying five times a day, that is evidence of the devotion of a human being to the Creator who created it. And prayer is also a gift of gratitude for all the blessings that Allah has given to His servants in life in this world.

Besides that, prayer also functions as our effort to conduct an evaluation and introspection for all the charities that we do that day. We immediately hold a dialogue by conveying all kinds of hopes and complaints about our shortcomings to Allah SWT. With that prayer, we ask for guidance and strength to carry out and uphold the truth on this earth as a caliph that has been created by God Almighty.

Source: republika.co.id[:]

Tags :
Konfirmasi Donasi
id_IDBahasa Indonesia
en_USEnglish id_IDBahasa Indonesia