[:ID]MENINGGAL DUNIA DI TANAH SUCI [:en]LEAVING THE WORLD IN THE HOLY LAND[:]

[:ID]Oleh: Imam Nur Suharno

Selama musim haji tidak sedikit jamaah haji yang meninggal dunia di Tanah Suci. Kalimat Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali) itu yang hendaknya diucapkan setiap terjadi musibah, termasuk musibah meninggalnya jamaah haji. Kalimat ini disebut istirja (pernyataan kembali kepada Allah).

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buahbuahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orangorang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun’.” (QS al-Baqarah [2]: 155-156).

Tidak sedikit keutamaan bagi jamaah haji yang meninggal dunia di Tanah Suci. Pertama, termasuk syahid. Nabi SAW bersabda, “Barang siapa yang meninggal dunia dalam perjalanan haji, ia seperti orang yang mati di jalan Allah,” (HR Muslim).

Kedua, diperkenankan memberikan sya faat untuk kerabat. Dengan mendapatkan ke istimewaan yang dijanjikan, seperti diampuni dosanya, melihat tempatnya di surga, dilin dungi dari azab kubur, merasakan manisnya iman, dinikahkan dengan bidadari surga, dan diperkenankan memberikan syafaat bagi 70 orang kerabatnya (HR Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Ketiga, dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan bertalbiyah. Nabi SAW bersabda, “Ketika seseorang tengah melakukan wukuf di Arafah, tiba-tiba terjatuh dari hewan tunggangannya lalu hewan tunggangannya meng injak lehernya sehingga meninggal. Maka, Nabi SAW bersabda: ‘Mandikanlah dengan air yang dicampur daun bidara lalu kafanilah dengan dua potong kain’–dan dalam riwayat yang lain: ‘dua potong kainnya’–dan jangan diberi wewangian. Jangan ditutupi kepala dan wajahnya. Sesungguhnya, ia akan dibangkit kan pada hari kiamat nanti dalam keadaan bertalbiyah,” (HR Bukhari dan Muslim).

Keempat, pahala hajinya ditulis hingga hari kiamat. Nabi SAW bersabda, “Barang siapa keluar untuk berhaji lalu meninggal dunia, dituliskan untuknya pahala haji hingga hari kiamat. Barang siapa keluar untuk umrah lalu meninggal dunia, ditulis untuknya pahala umrah hingga hari kiamat. Dan barang siapa keluar untuk berjihad lalu mati maka ditulis untuknya pahala jihad hingga hari kiamat,” (HR Abu Ya’la).

Semoga Allah SWT menerima dan menggolongkan jamaah haji yang meninggal dunia sebagai husnul khatimah, meraih keutamaan yang dijanjikan, dan bagi keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan ketabahan. Amiin.

sumber: republika.co.id[:en]By: Imam Nur Suharno

During the Hajj season, not a few pilgrims died in the Holy Land. The sentence ‘Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun’ (Indeed we belong to Allah, and indeed to Him, we return), is what should be said for every disaster we encounter, including the death of the pilgrims. This sentence is called istirja (statement to God we return).

“And truly we will give you trials, with a little fear, hunger, and loss of wealth, lives, and fruits. But give good news to those who are patient. (Namely) those who when disaster strikes them, say, ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun’. ” (Surat al-Baqarah [2]: 155-156).

There is no priority to pilgrims who die in the Holy Land even for a few. First, die as a Shahid. The Prophet SAW said, “Whoever dies during the pilgrimage, he is like a person who died in the way of Allah,” (Muslim HR).

Second, permissible to give shafaat to relatives. By fulfilling their special promises, such as being forgiven of his sins, seeing his place in heaven, protected from the punishment of the grave, feeling the sweetness of faith, being married to an angel of heaven, and being allowed to give shafaat for 70 of his relatives (HR Tirmidzi, Ibnu Majah, and Ahmad).

Third, be resurrected on the Day of Judgment in a state of talbiyah. The Prophet, peace be upon him, said, “Someone was performing Arafat, he suddenly fell from his mount and his mount stepped on his neck that he died. So, the Prophet said: ‘Bathe him with water mixed with the leaves of bidara and then wrapped him with two pieces of cloth’ and do not fragrance it. Do not cover the head and face. Indeed, he will be raised on the Day of Judgment in a state of talbiyah, “(HR Bukhari and Muslim).

Forth, the reward of his pilgrimage is written until the Day of Judgment. The Prophet SAW said, “Whoever goes out for the Hajj and dies, is written for him the reward of the hajj until the Day of Resurrection. Anyone who goes out for Umrah then dies, is written for him the reward of the Umrah until the Day of Resurrection. And those who go out for Jihad and dies, the reward of jihad are written for him until the Day of Judgment, “(HR Abu Ya’la).

May Allah SWT accept and put those pilgrims who die as husnul khatimah (good end), achieve the promised virtues, and for the families left behind to be given patience and fortitude. Amiin.

Source: republika.co.id[:]

Tags :
Konfirmasi Donasi
id_IDBahasa Indonesia
en_USEnglish id_IDBahasa Indonesia