PEMBATASAN KEGIATAN VS PRODUKTIF

Manusia diciptakan untuk saling mengenal satu sama lain, sehingga interaksi memang sudah menjadi kebutuhan dari manusia itu sendiri. Namun kini lahir sebuah kebijakan tentang pembatasan sosial yang dikarenakan oleh pandemi ini. Tentu ini merupakan tujuan pencegahan merebaknya virus Corona. Lalu bagaimana dengan fitrahnya manusia sebagai makhluk sosial? Banyak dari kita yang belum menyadari betapa skenario Sang Pencipta begitu indahnya.

Mari coba kita menilik sedikit ke belakang, apa jadinya jika mengalami pandemi ini dimana pada saat tersebut belum ada alat komunikasi secanggih seperti saat ini? Mau menanyakan kabar orang tua harus memakai kurir surat yang sampai ditujuan sepekan kemudian, ingin mencari update berita berapa orang yang terindikasi virus ini dan lain sebagainya.

Hari ini kita kirim, diterima di tempat tujuan satu pekan kemudian, dan dikirim kembali sehingga kita menerima surat balasan dua minggu setelah kita bersurat. Apa yang terjadi? Tentu akan terjadi kesalahan data dan jauh dari keakuratan. Kini kita mau bertegur sapa cukup dengan alat komunikasi bahkan sudah banyak yang bisa menampilkan video, sehingga bisa melihat langsung lawan bicara.

Dibatasi kegiatan untuk berkumpul bisa diatasi dengan berbagai kemajuan teknologi canggih saat ini, bahkan peserta rapat pun bisa hingga ratusan orang dari berbagai lokasi. Hebatnya lagi tidak ada batas negara untuk bisa mengikuti pertemuan tersebut. Jika sebelumnya untuk mengadakan pertemuan atau pelatihan membutuhkan biaya yang cukup besar karena biaya transportasi yang menunjang untuk berada di lokasi acara yang ditentukan. Belum lagi waktu yang kita habiskan untuk perjalanan pulang pergi dan lain sebagainya.

Contoh lainnya seorang bapak harus berangkat setiap harinya pukul 06.00 pagi mulai dari hari Senin hingga Jumat, sehingga waktu untuk bercengkrama dengan keluarga tersisa di pukul 18.00 hingga pukul 22.00 plus hari Sabtu dan Minggu. Sekarang setiap hari keluarga berkumpul utuh walaupun berbagai tantangan baru dihadapi karena work from home. Semakin terasa arti kehadiran sebuah keluarga.

Lalu bagaimana dengan yang sudah puluhan tahun bekerja di suatu pabrik dan akibat pandemic ini tidak ada yang bisa dikerjakan dari rumah? Kini banyak bermunculan best practice yang sebenarnya sudah dilakukan oleh kakek nenek kita dahulunya, antara lain system tumpang sari. Dimana saat petani menanam padi dengan menggabungkan budidaya ikan, sehingga hasil produktifitas panen akan meningkat.

Kini disederhanakan dengan budidaya lele di dalam ember sekaligus bertanam kangkung. Hal ini mengingat semakin sempitnya lahan di rumah kita masing-masing. System hydroponik juga bisa kita maksimalkan di lahan-lahan sempit.

Kemudian bagaimana dengan pendidikan anak-anak?Riset yang dilakukan oleh Thomas J. Stanley, penulis Millionaire Mind (www.thomasjstanley.com) dan banyak mendapatkan penghargaan atas karya-karya emasnya, beliau menyamaikan bahwa kesuksesan seseorang dominan dipengaruhi oleh soft skill, antara lain:

  1. Kejujuran. Kejujuran adalah bakal dari sebuah kepercayaan dan tidak bisa dibeli dengan apapun. Sehingga semakin tinggi kejujuran seseorang maka tingkat kepercayaan orang lain semakin tinggi kepadanya
  2. Disiplin merupakan sebuah contoh sikap yang mestinya menjadi perhatian kita sebagai orang tua. Para guru di Australia lebih khawatir jika peserta didiknya tidak mengantri ketimbang tidak pandai matematika. Mari kita lihat kepada diri kita apa yang pertama kali kita perkenalkan kepada anak.
  3. Mudah bergaul. Cara berinteraksi anak dengan orang-orang disekitarnya menjadi factor kesuksesannya kelak. Karena ini menjadi bekal networking serta memperkaya ide-ide cerdasnya
  4. Dukungan pendamping, tentunya ini berasal dari orang-orang terdekatnya, orangtua, saudara dan teman-temannya.
  5. Kerja keras. Tidak menjadi jaminan seorang pekerja keras mendatangkan kesuksesan, namun hasilnya akan berbeda antara keduanya
  6. Kecintaan pada yang dikerjakan, ini akan melahirkan loyalitas terhadap pekerjaan yang ia tekuni.
  7. Kepemimpinan. Setiap kita adalah pemimpin, paling tidak memimpin dirinya sendiri dalam melakukan sesuatu. Kepemimpinan yang baik tentu akan melahirkan pemikiran dan perilaku yang akan menjadi habit dalam dirinya
  8. Kepribadian komprehensif. Jiwa yang competitif pantang menyerah akan menjadi pemicu anak untuk mencapai hal-hal terbaik dalam hidupnya
  9. Hidup teratur ini lebih kepada terorganisir, sehingga apa yang yang akan dilakukan diraih dengan bertahap
  10. Kemampuan menjual ide. Memiliki ide saya tidak cukup, karena pemenangnya adalah siapa yang paling cepat mengeksekusinya, dan hal ini juga diperlukan inovasi atau pembaharuan. Tujuannya adalah untuk mengimbangi perubahan-perubahan yang terjadi,sehingga tidak ketinggalan zaman

Nah sepuluh faktor ini kini menjadi peluang emas kita sebagai orang tua dalam mendidik generasi emas kita. Mari jadikan kondisi sekarang membuat kita lebih bersyukur, karena dibalik sebenarnya kesulitan dan kemudahan itu adalah satu paket yang tak terpisahkan, tergantung cara kita menyikapinya.

 

Penulis: Nurmansyah, S.Hum

Centre of Excellent Manager Rumah Zakat Action

Tags :
Konfirmasi Donasi