[:ID]PENGASUHAN ANAK KETIKA ORANGTUA CERAI[:]

[:ID]Oleh: Vindhy Fitrianti, S.Psi

Rumah tangga yang utuh, menenangkan, penuh kasih sayang, merupakan tujuan dari setiap pasangan yang menikah. Ada impian untuk tumbuhbersama hingga usia lanjut dan mewujudkan visi bersama.

Namun pada kenyataannya, terdapat kondisi di mana etikapernikahan terus berlanjut, begitu banyak mudharat yang timbul. Yang  menjadikan rumah tangga justru menjadi sangat tidak sehat jika terus dipertahankan.

Lantas ketika opsi perceraian menjadi pilihan, bagaimana pasangan yang telah dikaruniai keturunan tetap menjalankan peran mereka sebagai orangtua? Menjalankan fungsi sebagai orangtua selama perceraian memiliki tantangan tersendiri. Apalagi terdapat beberapa orangtua yang terus menunjukkan permusuhan satu sama lainnya. Padahal kondisi tersebut memiliki potensi

yang negatif terhadap anak.Sayangnya, kondisi ini seringkali dipicu oleh proses hukum yang membuat kedua belah pihakseakan menempatkan diri padaposisi yang berseberangan. Ketika masing-masingpihak menjadi terfokus padakekurangan dan kesalahan pihak lain, kepentingan anak menjaditenggelam karenanya.

Kemampuan orangtua dalam mengatur kondisi emosi yang timbul karena perceraianmemiliki pengaruh yang signifkan terhadap anak-anak. Sangat penting orangtua belajar mengendalikan konflik verbal dan fsik yang kasar di depan anak-anak.

Mulailah dari membuat kesepakatan dengan mantan pasangan tentang tujuan dan kebutuhan anak akan pengasuhan dari kedua orangtuanya. Miliki pemahaman yang sama mengenai efek negatif ketika anak dipertontonkan.

konflik dan hubungan seperti apa yang perlu dilihat oleh anak-anak meski kedua orangtuanya tidak lagi bersama dalam pernikahan. Sepakati untuk mengusahakan hubungan yang saling menghargai semata-mata karena kebutuhan anaklah yang menjadi prioritas.

Dalam konteks kesepakatan ini pula, saat pertemuan dilakukan (setelah proses perceraian), sertakan agenda untuk menentukan batasan dan aturan yang jelas dalam berinteraksi, termasuk dalam hal menghargai hak anak untuk bisa berhubungan baik dengan kedua orangtuanya.

Intinya, jika akan berbagi waktu pengasuhan, dibutuhkan empati, kesabaran, dan keterbukaandalam komunikasi. Memang bukanlah hal yang mudah bagi pasangan menghadapi situasi perceraian, namun menempatkan fokus padakebutuhan anak dapat membantu kerjasama yangterjadi antar orangtua.

Lakukan hal berikut sebagai ikhtiar dalam pengasuhan anak meski orangtua sudah tidak lagi menjadi pasangan:

1. Bangun komitmen untuk berdialog secara terbuka. Tidak perlu bertemu bertatap muka jika malah kontra produktif. Lakukan via email, chat, surat, atau apapun yang dapat dioptimalkan terjalinnya komunikasi. Yang perlu diingat, jadikan kebutuhan anak sebagai fokus utama, bukan ego pribadi.

2. Aturan yang sudah disepakati hendaknya menjadi koridor dalam pengasuhan. Sebagai contoh, anak-anak memerlukan agenda yang rutin, misalnya waktu sarapan, jam tidur, jam bermain, dan mengerjakan tugas. Jadi ketika anak sedang berada di rumah ibunya, jadwal tersebut berlaku sama seperti ketika anak sedang bersama ayahnya.

3. Komitmen untuk tidak membicarakan keburukan mantan pasangan. Dan ini berlaku bagi anak. Ajarkan anak untuk menghargai orangtuanya yang lain dengan lebih mengingat
kebaikannya. Ketika anak bercerita, bahkan mengeluh mengenai mantan pasangan kita, bersikap netral adalah pilihan.

4. Meski terdapat masalah emosional antar orangtua, bukan hal yang bijak menempatkan anak di tengah konflik. Masalah emosional terhadap pasangan bukanlah untuk dijadikan bagian dari pengasuhan. Tidak perlu membuat hubungan anak dengan orangtuanya yang lain menjadi negatif dengan membicarakan masalah pada anak. Jangan pula menjadikan anak alat untuk mendapatkan informasi mengenai mantan pasangan.

5. Selalu ingat bahwa anak-anak seringkalimenguji batasan dan aturan yang dibuat keduaorangtuanya. Terutama ketika mereka melihat
ada kesempatan. Ini alasannya mengapakesamaan aturan dan batasan yang disepakatioleh kedua orangtua menjadi penting.

6. Ketika jadwal anak bersama dengan kita, jangan berikan seluruh porsi waktu berisi pemenuhan kesenangan anak. Anak tetap memerlukan porsi yang seimbang antara
kesenangan, jadwal, dan tugas. Hal ini perlu sama-sama disepakati dan konsisten dilakukan oleh kedua belah pihak.

7. Ketika kita melihat sesuatu yang tidak biasanya dilakukan oleh anak dan hal tersebut menjurus pada hal yang negatif, jangan bersikap menyalahkan mantan pasangan. Namun diskusikanlah. Misalnya dengan mengatakan, “Beberapa hari ini, abang berkata kasar sama adik. Kenapa ya?” elalu tempatkan kebutuhan anak pada prioritas
utama.

Dan ingat, suatu hari nanti kita akan dimintai pertanggungjawaban mengenai amanah buah hati yang sudah Allah titipkan selama di dunia.

Selamat berikhtiar![:]

Tags :
Konfirmasi Donasi
id_IDBahasa Indonesia
en_USEnglish id_IDBahasa Indonesia