[:ID]PERSAHABATAN ABADI[:en]EVERLASTING FRIENDSHIP[:]

[:ID]Pada saat ini, persahabatan pada umumnya hanya bermakna semu. Persahabatan menjadi tidak abadi jika hal itu bertujuan untuk mendapatkan harta atau jabatan.

Pada saat pilkada ataupun pemilu, para calon pejabat rela repot-repot mendatangi rakyat demi mendapatkan suara. Sementara pejabat yang sudah pensiun, tidak mudah baginya untuk mendapatkan sahabat.

Lantas, adakah persahabatan yang abadi? Jawabnya, ada.

Salah satu contohnya adalah persahabatan antara Rasulullah SAW, Abu Bakar, serta Umar bin Khattab. Di mana saja Rasulullah berada dan pada kondisi apa pun, termasuk dalam kondisi yang memilukan, senang, ataupun kondisi berperang, dapat dipastikan ada Abu Bakar dan Umar bin Khattab sebagai sahabat beliau yang paling dekat untuk menemani.

Ketika Rasulullah SAW dinobatkan Allah SWT menjadi Rasul, tidak semua orang bisa menerima hal itu dengan baik. Bahkan, banyak yang sangat menentang kebenaran yang datangnya dari Allah ini. Namun, tidak demikian halnya dengan Umar, yang langsung meyakininya.

Abu Bakar bahkan mengakui Rasulullah SAW di tengah-tengah orang lain yang tidak pernah mengakuinya. Ini menunjukkan bagaimana keyakinan Abu Bakar terhadap Rasulullah sebagai seseorang yang diutus Allah untuk manusia di bumi serta mengatur segala urusan umat manusia.

Hal itulah yang sering diungkapkan Rasulullah ketika ditanya oleh orang-orang perihal siapa yang paling disayangi pada kalangan umat manusia, baik dari golongan perempuan maupun laki-laki. Ketika mendapat pertanyaan itu, Rasulullah senantiasa menjawab: Aisyah, Abu Bakar, atau Umar.

Ternyata, rasa sayang dalam persahabatan itu bisa terjalin dengan baik ketika ada hubungan dekat yang dibangun atas dasar kekeluargaan, bukan sebatas teman tertawa, melainkan juga teman bersedih dan berjuang bersama di jalan Allah.

Padahal, siapa saja yang dekat dengan Rasulullah pada masa itu bisa mendapatkan konsekuensi yang tidak ringan. Sebab, masyarakat pada masa itu belum sepenuhnya menerima ajaran Islam. Suatu kali, misalnya, terjadi sesuatu yang sangat mengkhawatirkan ketika Rasulullah dan Abu Bakar dikejar orang-orang kafir Quraisy sehingga mereka terpaksa bersembunyi di dalam gua Hira.

Saat itu, Abu Bakar sempat mengungkapkan ketakutannya kepada Rasulullah. Ia takut orang-orang kafir Quraisy akan mengetahui tempat persembunyian mereka. Apalagi, para kafir Quraisy sempat melintas di depan mulut gua. Melihat kegundahan itu, Rasulullah berusaha menenangkan hati Abu Bakar dan meyakinkan bahwa Allah akan menyelamatkan mereka berdua dari kejaran kaum kafir Quraisy.

Tercatat dalam sejarah, Abu Bakar adalah sosok yang sangat pemurah. Ia juga sangat suka bersedekah kepada orang miskin. Bahkan, ia sering sekali mencari-cari orang miskin untuk diberi sedekah. Ia pun sangat suka mencari orang yang baru saja meninggal dunia untuk diantarkan jenazahnya. Abu Bakar pun sangat taat dalam beribadah dan rajin berpuasa.

Perilaku dan ibadah tersebut membuat kedudukan Abu Bakar di mata Rasulullah SAW sangat baik sehingga beliau selalu menyebut Abu Bakar sebagai salah satu orang yang sangat disayangi.

sumber: republika.co.id[:en]At this time, friendship only has a false meaning. Friendship becomes immortal if it aims to get property or position.

At the time of elections or elections, candidates for officials were willing to bother visiting the people for votes. While officials who have retired, it is not easy for him to get a friend.

Then, is there a lasting friendship? Yes there it is.

One example is friendship between the Prophet Muhammad, Abu Bakr, and Umar bin Khattab. Everywhere the Prophet was and under any circumstances, including in heartbreaking, happy, or conditions of war, we can be sure there was Abu Bakr and Umar bin Khattab as his closest companions to accompany him.

When the Prophet Muhammad was crowned by Allah SWT became a prophet, not everyone could accept it well. In fact, many strongly oppose the truth that comes from God. However, this was not the case with Umar, who immediately believed it.

Abu Bakr even acknowledged the Prophet Muhammad in the midst of other people who never admitted him. This shows how Abu Bakr’s belief in the Messenger of Allah was someone who was sent by Allah to mankind on earth and regulated all affairs of mankind.

The Prophet often expressed when asked by people about who does he love among human from women and men. When he got the question, the Prophet always answered: Aisyah, Abu Bakr, and Umar.

Apparently, the affection in friendship can be interwoven well when there is a close relationship built on the basis of kinship, not limited to friends laughing, but also friends in sad situation and fighting together in the path of God.

In fact, anyone who is close to the Prophet at that time can get consequences that are not light because, people at that time did not fully accept the teachings of Islam. Once, for example, something very worrying happened when Rasulullah and Abu Bakr were chased by the Quraish infidels so they were forced to hide inside Hira cave.

At that time, Abu Bakr had time to express his fear to the Prophet. He was afraid that the unbelievers of Quraysh would know their hiding place. Moreover, the Quraysh infidels had crossed in front of the cave. Seeing the anxiety, the Prophet tried to calm Abu Bakr’s heart and assured that Allah would save them both from the pursuit of the Quraish infidels.

Recorded in history, Abu Bakr is a very generous figure. He also loves to give charity to the poor. In fact, he often looked for poor people to be given alms. He also likes to look for people who have just died to be buried. Abu Bakr was very devout in worship and diligent in fasting.

The behavior and worship made Abu Bakr’s position in the eyes of the Prophet Muhammad is very good, so he always called Abu Bakr one of the most loved.

source: republika.co.id[:]

Tags :
Konfirmasi Donasi
id_IDBahasa Indonesia
en_USEnglish id_IDBahasa Indonesia