PROSES PEMBERDAYAAN, ANTARA KESABARAN DAN KETEKUNAN

“Tak ada yang instan atau gampang dalam sebuah usaha pemberdayaan, semua perlu proses dan kesabaran yang ekstra.”

Setidaknya hal itulah yang dirasakan oleh Suherman sejak ia menjadi Relawan Inspirasi (Fasilitator Desa Berdaya) di tanah kelahirannya, Desa Sahkuda Bayu, Kec. Gunung Malela, Kab. Simalungun, Sumatera Utara. Meski berada di tanah kelahiran, tapi tetap saja segala penyesuaian perlu dilakukan demi menuai hasil yang optimal.

Desa Sahkuda Bayu sendiri terletak di antara perlintasan Pematang Siantar menuju arah Danau Toba. Tak heran jika jalan aspal yang melintasinya sudah bagus dan selalu ramai oleh lalu lalang kendaraan. Selain itu, ada aliran Sungai Sah Bolon yang membelah desa, tempat sebagian warga Sahkuda Bayu menggantungkan hidupnya menjadi petani ikan.

“Warga di sini sudah terlalu cinta dengan ternak ikan, sehingga ketika datang tawaran untuk menanam padi pun mereka tolak, meski beberapa waktu lalu desa ini sempat berjaya dengan kebun pepaya sebelum kemudian terkena hama virus,” ujar Herman.

Saat ini Herman mendampingi beberapa usaha pemberdayaan bagi warga Desa Sahkuda Bayu, salah satunya usaha tepung mocaf (modified cassava lour), yaitu tepung yang terbuat dari singkong. Usaha tepung mocaf ini adalah usaha yang sudah ada sebelumnya, sehingga Herman tinggal meneruskan, merapikan manajemennya serta memberikan tambahan modal hasil bantuan dari Rumah Zakat. Meski ternyata merapikan manajemen yang sudah ada tidak semudah yang dibayangkan. Tetap perlu penyesuaian dan strategi
baru agar usaha tersebut makin berkembang serta lebih menghasilkan.

“Produksi tepung mocaf ini memang sudah berjalan sebelumnya, tapi masih stagnan. Manajemen dan pencatatan keuangannya juga belum rapi, dan itu menjadi PR yang sangat lumayan buat saya,” ujar Herman.

Namun begitu, ia bersyukur, bahwa apa yang dilakukannya di Sahkuda Bayu cukup berdampak bagi geliat ekonomi warganya. Banyak warga yang kemudian menanam singkong karena pasti akan dibeli dengan harga yang lumayan sebagai bahan pembuatan tepung mocaf. Bahkan ada beberapa warga yang menjadi pemasok tetap singkong, sehingga ketika bahan baku singkong sedang susah, produksi tepung mocaf bisa tetap berjalan.

Untuk pembuatan tepung mocaf ini, sehari diperlukan 100 kg singkong mentah yang kemudian menghasilkan 20 kg tepung mocaf. Jika tak ada kendala cuaca, maka produksi bisa selesai dalam sehari. Namun jika musim hujan, maka singkong yang telah menjadi gaplek dan siap dijemur langsung dialihkan ke oven untuk dikeringkan.

Tanamkan minat membaca sejak dini “Kalau berbicara kendala pasti ada saja, kendala keuangan juga pernah. Tapi kendala yang pasti ya seperti sekarang yaitu musim hujan. Singkong yang sudah kami jadikan gaplek susah kering, bahkan seringkali basah kembali karena kehujanan,” ujar Supiyati, salah satu dari anggota kelompok tani pembuatan tepung mocaf.

Selain kendala tetap berupa cuaca yang mengganggu proses produksi, usaha tepung mocaf ini dulu juga mengalami kendala pemasaran. Awalnya tepung mocaf ini hanya dijual di sekitar Sahkuda Bayu, tapi setelah dilakukan pendampingan, Herman segera merapikan kemasan, mengawasi proses produksi dengan ketat dan yang jelas meluaskan pemasaran dengan mengikutkannya ke berbagai pameran UKM dan bazar di ibu kota provinsi. Rencananya tepung mocaf ini juga akan dijual secara online agar wilayah pemasarannya semakin luas.

Newsroom
Lailatul Istikhomah

Tags :
Konfirmasi Donasi