Puasa Ramadhan Tapi Masih Sering Marah, Apakah Puasanya Sah?

oleh | Feb 24, 2026 | Inspirasi

Puasa tapi sering marah menjadi pertanyaan yang cukup sering muncul saat bulan Ramadhan. Banyak orang merasa sudah menahan lapar dan haus sejak Subuh hingga Maghrib, namun emosi masih mudah terpancing. Lalu muncul pertanyaan, apakah puasanya tetap sah jika masih marah-marah?

Pertanyaan ini penting karena puasa bukan sekadar menahan makan dan minum. Puasa juga melatih kesabaran, pengendalian diri, dan akhlak. Oleh karena itu, memahami hukum marah saat puasa akan membantu kita memperbaiki kualitas ibadah di bulan Ramadhan.

Puasa Tapi Sering Marah, Apakah Membatalkan?

Secara hukum fikih, marah tidak membatalkan puasa. Hal-hal yang membatalkan puasa adalah makan, minum, hubungan suami istri di siang hari, serta perkara lain yang secara jelas disebutkan dalam dalil.

Namun demikian, meskipun tidak membatalkan, marah saat puasa bisa mengurangi pahala. Rasulullah SAW bersabda bahwa puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari perkataan sia-sia dan perbuatan buruk.

Artinya, puasa tetap sah secara hukum jika seseorang marah. Akan tetapi, kualitas dan nilai pahala puasanya bisa berkurang jika emosi tidak terjaga.

Hukum Marah Saat Puasa Menurut Ulama

Para ulama menjelaskan bahwa marah termasuk perbuatan tercela jika tidak dikendalikan. Dalam kondisi puasa, seseorang dianjurkan untuk lebih sabar dan menahan diri.

Marah terbagi menjadi beberapa bentuk. Ada marah yang wajar dan tidak berlebihan, misalnya karena melihat kemungkaran. Ada pula marah yang disertai cacian, makian, atau menyakiti orang lain. Bentuk yang kedua inilah yang sangat dilarang, terlebih saat berpuasa.

Karena itu, hukum marah saat puasa tidak sampai membatalkan ibadah, tetapi dapat mengurangi pahala secara signifikan. Bahkan, ada hadis yang menyebutkan bahwa sebagian orang hanya mendapatkan lapar dan haus dari puasanya karena tidak menjaga perilaku.

Dampak Marah Terhadap Pahala Puasa

Puasa Ramadhan bertujuan membentuk pribadi yang bertakwa. Salah satu indikator ketakwaan adalah kemampuan mengendalikan emosi.

Jika seseorang masih sering marah saat puasa, maka esensi pengendalian diri belum sepenuhnya tercapai. Marah yang berlebihan bisa memicu pertengkaran, menyakiti perasaan orang lain, bahkan memutus silaturahmi.

Selain itu, kondisi emosional yang tidak stabil juga dapat memengaruhi kesehatan fisik. Tubuh yang sedang berpuasa membutuhkan ketenangan agar energi tidak cepat terkuras. Oleh sebab itu, menjaga emosi bukan hanya berdampak pada pahala, tetapi juga pada kondisi tubuh.

Mengapa Orang Mudah Marah Saat Puasa?

Ada beberapa faktor yang membuat seseorang lebih mudah tersulut emosi saat berpuasa. Pertama, perubahan kadar gula darah dapat memengaruhi suasana hati. Tubuh yang belum terbiasa menahan lapar bisa memicu rasa tidak nyaman.

Kedua, kurang tidur karena sahur dan ibadah malam juga bisa membuat seseorang lebih sensitif. Ketiga, stres pekerjaan atau aktivitas harian tetap berjalan seperti biasa meskipun kondisi fisik sedang berpuasa.

Namun demikian, semua kondisi tersebut bukan alasan untuk meluapkan kemarahan. Justru di sinilah latihan kesabaran itu diuji.

Cara Mengendalikan Emosi Saat Puasa

Agar puasa tidak sekadar sah tetapi juga bernilai maksimal, penting untuk mengelola emosi dengan baik. Salah satu caranya adalah dengan memperbanyak dzikir dan mengingat tujuan berpuasa.

Ketika emosi mulai naik, cobalah diam sejenak. Rasulullah SAW menganjurkan orang yang marah untuk mengucapkan ta’awudz dan mengubah posisi, misalnya dari berdiri menjadi duduk.

Selain itu, hindari perdebatan yang tidak perlu. Jika ada orang yang memancing emosi, cukup katakan bahwa Anda sedang berpuasa. Sikap ini membantu meredam konflik sekaligus menjaga diri dari perkataan yang merugikan.

Mengatur pola makan sahur juga penting. Konsumsi makanan bergizi dan cukup cairan saat berbuka agar tubuh tidak mudah lemas. Dengan kondisi fisik yang lebih stabil, emosi pun lebih mudah dikendalikan.

Puasa Bukan Hanya Soal Lapar dan Haus

Puasa Ramadhan adalah ibadah yang menyentuh aspek fisik dan spiritual sekaligus. Jika seseorang hanya menahan makan dan minum, tetapi lisannya masih menyakiti orang lain, maka tujuan puasa belum tercapai sepenuhnya.

Karena itu, puasa tapi sering marah memang tidak membatalkan ibadah secara hukum. Akan tetapi, kualitas puasa tersebut perlu dievaluasi. Ramadhan seharusnya menjadi momen memperbaiki akhlak dan melatih kesabaran.

Setiap Muslim tentu ingin puasanya diterima dan mendapatkan pahala yang sempurna. Oleh sebab itu, menjaga sikap dan emosi menjadi bagian penting dari kesempurnaan ibadah.

Kesimpulan

Puasa tapi sering marah tidak membatalkan puasa secara hukum. Puasa tetap sah selama tidak melakukan hal-hal yang membatalkan seperti makan atau minum dengan sengaja. Namun demikian, marah yang berlebihan dapat mengurangi pahala dan nilai ibadah.

Ramadhan adalah waktu terbaik untuk melatih kesabaran dan pengendalian diri. Dengan menjaga emosi, memperbanyak dzikir, serta menghindari konflik, puasa tidak hanya sah tetapi juga bernilai penuh di sisi Allah SWT.

Semoga kita termasuk orang-orang yang tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga mampu menjaga lisan dan hati selama menjalankan ibadah puasa.

Sahabat, yuk terus peduli dan berbagi bersama Rumah Zakat.

Kalkulator Zakat

Hitung zakat Anda secara akurat dengan kalkulator zakat kami

Donatur Care

Silakan cek riwayat donasi Anda disini

Link Terkait