RUMAH ZAKAT DAN PERTAMINA DUMAI TURUT SERTA MELESTARIKAN LEGENDA PUTRI TUJUH DI BANDAR BAKAU DUMAI

DUMAI. Di tengah hiruk pikuk kehidupan kota, alam selalu menjadi tempat untuk kembali. Nuansa hijau alami dari pohon bakau begitu memanjakan mata dan menenangkan pikiran.

Sejauh mata memandang, tampak hamparan hutan bakau seluas 31 hektar. Suasana sunyi dan jauh dari keramaian begitu terasa saat berada di kawasan ini.

Kawasan tersebut bernama Bandar Bakau Dumai yang berada di Jalan Nelayan Laut, Kota Dumai. Jaraknya berkisar 3 Km dari Pusat Kota Dumai, bisa dicapai dengan kendaraan roda dua atau roda empat. Di bandar bakau ini kita akan menemukan sejarah dan latar belakang yang masih kental di dalamnya, yakni dikenal dengan situs Legenda Putri Tujuh.

Putri Tujuh adalah dongeng atau cerita rakyat mengenai asal mula Kota Dumai di Provinsi Riau. Kisah ini begitu melekat pada masyarakat Dumai. Mulai dari anak-anak, dewasa hingga orang tua mengetahui kisah ini.

Sosok Pecinta lingkungan bernama Darwis Moh Saleh tak bisa di pisahkan dari keberadaan bandar bakau ini. Ia juga adalah seorang seniman, asli orang Dumai. Ia sangat berjasa dalam pendirian kawasan ini menjadi area hutan bakau.

Ia mengatakan butuh waktu empat tahun untuk meyakinkan pusat agar mempertahankan kawasan ini menjadi kawasan konservasi. Alasan beliau memperjuangkan bandar bakau ini karena ingin mempertahankan budaya yang ada di Indonesia, terutama Kota Dumai.

“Saya tidak menemukan cerita sastra tutur dari Sabang sampai Merauke, cerita sastra tutur atau cerita rakyat yang ada buah bakau menimpa orang mati kecuali di Dumai, yaitu
kisah Legenda Putri Tujuh.” Ungkapnya.

Saat memasuki kawasan bandar bakau, para pengunjung di ajak melihat kembali sepotong kisah Pangeran Empang Kuala. Ceritanya, saat Pasukan Pangeran Empang Kuala sedang beristirahat di hilir Umai. Mereka berlindung di bawah pohon-pohon bakau. Namun, menjelang malam terjadi peristiwa mengerikan. Secara tiba-tiba mereka tertimpa beribu-ribu buah bakau yang jatuh dan menusuk para pasukan Pangeran Empang Kuala.

Selama lima belas tahun Pak Darwis memperjuangkan Bandar Bakau ini, tahun 2015 kawasan hutan bakau mulai di buka untuk umum. Berbagai penghargaan pun beliau terima, salah satunya penghargaan dari Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Penyelamat Lingkungan. Pak Darwis mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk
melestarikan hutan bakau ini agar Indonesia kita tercinta menjadi tempat yang lebih baik untuk anak cucu kita kelak. Dan harapan kita semua untuk hutan bandar bakau ini kepada semua pihak pemerintah, swasta dan masyarakat adalah mari sama-sama kita dukung dan lestarikan hutan ini.

Oleh karena itu, Rumah Zakat dan Pertamina juga bekerjasama melakukan upaya dalam melestarikan bandar bakau tersebut. Dengan programnya penanaman bakau sebanyak 3000 bibit, peremajaan tempat, dan melakukan pembersihan sekitar bandar bakau.

Shanti, selaku salah satu penanggung jawab program ini langsung melakukan kunjungan ke bandar bakau pada Senin (09/07) berharap program konservasi ini bisa memberikan dampak positif.

”Semoga adanya bantuan ini mampu memberikan dampak positif lagi bagi perkembangan bandar bakau, tidak hanya menjadi fungsi utama penahan abrasi, tetapi juga sebagai ekowisata, pengunjung nantinya bisa membawa souvenir dan mencoba kuliner dari bakau, kita gencarkan kembali promosi bandar bakau melalui medsos yang ada sehingga semakin ramai pengunjung yang datang dan dapat membantu perekonomian masyarakat di sekitar bandar bakau.”

Newsroom
Toip / Lailatul Istikhomah

Tags :
Konfirmasi Donasi